Rabun Bahasa, Budaya, dan Pendidikan

Seni Cianjuran merupakan  keanekaragamanseni dan  budaya di tanah air   (ilustrasi admin)

Oleh : TEDDI MUHTADIN
PADAmulanya bahasa diciptakan manusia. Selanjutnya, bahasalah yang menciptakan manusia. Keyakinan yang dianut kaum pascastrukturalis ini menjadi penting untuk kita renungkan saat ini. Ketika banyak orang melontarkan ketidaksetujuannya atas Kurikulum 2013 yang sama sekali tidak secara eksplisit mencantumkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran.Bahasa, selama ini, diyakini sebagai alat komunikasi yang paling efektif yang pernah diciptakan oleh manusia. Namun, dalam perkembangannya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi gudang penyimpanan pengetahuan budaya. Bahasa Sunda, contohnya, adalah gudang penyimpanan budaya Sunda, bahasa Jawa adalah gudang penyimpanan budaya Jawa, bahasa Bugis adalah gudang penyimpanan budaya Bugis, dan seterusnya.

Tak akan pernah ada satu bahasa pun yang dapat menjadi gudang yang baik untuk menyimpan budaya lain, karena bahasa diciptakan dalam budaya. Menyimpan budaya tertentu tidak dalam bahasanya memerlukan banyak penyesuaian, yang justru sering kali menyebabkan timbulnya kesalahpahaman. Contoh paling baru adalah menafsirkan akhir kurun penanggalan Suku Maya sebagai hari kiamat. Satu hal yang memalukan dan menyesatkan. Ini terjadi karena dalam benak penafsir tidak dikenal akhir dari satu kurun waktu.

Pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia menyebabkan pula tak ada manusia yang bisa terlepas dari bahasa. Sehingga pengetahuan manusia mengenai kenyataan mau tidak mau ditentukan oleh bahasa. Dengan begitu, sebenarnya bahasalah yang mengajari manusia dalam melihat, mendengar, merasa, atau berpikir. Pendek kata, bahasalah yang memediasi manusia ketika berhubungan dengan kenyataan.

Apa yang diangankan manusia Sunda dalam menyelesaikan suatu konflik, misalnya, dapat dilihat dari peribahasa yang dimunculkannya, caina hirang, laukna beunang. Artinya, masalah diatasi dengan tertib tanpa merusak. Apa yang diangankan manusia Sunda tentang pemimpin yang tegas, dapat dipahami dari peribahasa sacangreud pageuh, sagolik pangkik. Atau, apa yang diangankan manusia Sunda tentang hidup bermasyarakat, nampak dari pemeo silih asal, silih asih, silih asuh.

Orang Sunda menganggap kesehatan lebih utama dari pada kebaikan, kebenaran, dan kepintaran. Hal ini nampak dari pemeo cageur, bageur, bener, pinter. Atau pada sapaan, “Kumaha damang?” Bandingkan dengan sapaan bahasa Melayu yang lebih mengutamakan pentingnya informasi, “Apa kabar?”

Dalam catatan sejarah akan dijumpai bahwa penguasaan satu bangsa terhadap bangsa lainnya selalu melibatkan penguasaan terhadap bahasanya. Contoh, untuk menguasai tanah jajahan yang kini bernama Indonesia, pemerintah Kolonial Belanda tidak hanya mengerahkan tentara, para insinyur, ahli-ahli administrasi, namun juga para antropolog dan lingius. Merekalah yang dipercaya mampu mengerti budaya pribumi dan berusaha mengarahkan budaya tersebut sesuai dengan arah kebijakan yang mereka inginkan. Nama besar seperti H. Neubronner van der Tuuk atau Christian Scouck Hurgronje berada pada posisi ini.

Mereka menjadi bagian dari mesin kekuasaan Kolonial. Mereka menunaikan tugas tersebut dengan cara melakukan penelitian terhadap bahasa dan kehidupan bangsa-bangsa di Nusantara. Dan, mereka menginterpretasikan serta menyajikannya untuk kepentingan kaum kolonial. Pada masa ini kamus bahasa-bahasa Nusantara disusun, aksara Latin diperkenalkan, mesin cetak dihidupkan, dan buku-buku dilahirkan.

Potensi bahasa

Ketika usaha menuju ke arah kemerdekaan mulai dirintis, para pendiri bangsa menyadari potensi bahasa dan budaya daerah ini. Dalam ikrar sumpah pemuda, misalnya, disepakati bahwa penting bagi bangsa Indonesia adanya bahasa persataun yaitu bahasa Indonesia. Begitu pun dalan UUD 1945, secara eksplisit disebutkan bahwa bahasa-bahasa daerah dilindungi oleh negara. Keragaman bahasa dan budaya ini dengan sangat indah dirangkum dalam satu suluk negara, bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi satu jua.

Oleh karena itu, bahasa daerah menjadi penting untuk diajarkan kepada para siswa sebagai generasi baru. Bukankah pendidikan itu adalah pewarisan budaya? Jika pendidikan adalah pewarisan budaya maka budaya daerahlah semestinya diutamakan. Baru kemudian budaya lain yang diperlukan untuk mengembangkan potensi diri. Bukankah kebudayaan Idonesia adalah kebudayaan-kebudayaan daerah.

Akan tetapi, bertolak belakang dengan cara berpikir ini, kini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat kebijakan lain. Dari lembaga ini muncul kurikulum 2013 yang sama sekali tidak mencantumkan bahasa daerah. Seolah-olah keragaman bahasa dan budaya di Indonesia ini bukannya berkah, tetapi beban yang harus disingkirkan. Lembaga yang seharusnya berada paling depan dalam perlindungan bahasa dan budaya daerah yang menjadi sumber kekayaan budaya Indonesia justru melakukan hal yang sebaliknya.

Jika hal ini ditambah dengan proses penyusunan kurikulum tersebut yang tanpa mengevaluasi kurikulum sebelumnya dan tanpa naskah akdemik yang melandasi dasar filosifisnya, jangan-jangan lembaga ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, bukan hanya rabun terhadap kekayaan budaya, namun juga abai terhadap prinsip pendidikan. ***

(Penulis adalah Ketua Program Studi Sastra Sunda Unpad)**
Sumber dikutip dari: HU Galamedia
Posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa | Leave a comment

Mengapa Bahasa Daerah Diabaikan?

Kajian bahasa, sastra, seni dan budaya lokal cukup penting  sebagai sebagai tanggung jawab mahasiswa bahasa (Ilustrasi admin)

Oleh : Dr. DINGDING HAERUDIN
APABILAbahasa daerah terabaikan dalam Kurikulum 2013, saya khawatir cita-cita masyarakat yang berkarakter tidak akan tercapai dan akan semakin jauh panggang dari api. Akan sangat sulit bagi seorang anak didik mengenal jati dirinya tanpa mempelajari bahasa daerahnya, yang bagi sebagian masyarakat menjadi bahasa ibunya. Pemerintah jangan lengah, bahwa bahasa daerah yang sebagian besar di Nusantara ini masih digunakan sebagai bahasa ibu itu bukan hanya urusan pemerintah daerah, tetapi harus menjadi urusan nasional. Bahkan UNESCO saja telah mendeklarasikan pentinya melestarikan bahasa ibu. Sebagai bukti kepeduliannya UNESCO, setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.Salah satu alasan Pengembangan Kurikulum 2013, di antaranya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan adanya persepsi masyarakat bahwa pendidikan sekarang kurang bermuatan karakter. Saya sangat setuju dengan alasan itu. Kemampuan berkomunikasi adalah salah satu indikator keberhasilan pendidikan. Berkomunikasinya tentu dengan bahasa yang santun, karena kesantunan berbahasa adalah salah satu ciri manusia berkarakter. Hal itu perlu dipelajari. Menuntut ilmu pada hakekatnya belajar berbahasa. Tanpa adanya bahasa ilmu itu tidak pernah ada.

Kemudian pengembangan Kurikulum 2013 didukung pula dengan adanya persepsi masyarakat bahwa pendidikan sekarang kurang bermuatan karakter. Saya sangat setuju. Tapi untuk belajar karakter bangsa akan lebih mengena dengan cara mempelajari bahasa daerah. Di dalam bahasa daerah banyak ditemukan ungkapan yang merupakan falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa yang kemungkinan bisa dijadikan dalil-dalil landasan pendidikan karakter, yang kemungkinan memiliki persamaan dalam setiap bahasa daerah, nitah bener, nyarek salah, jeung wawaran luang (hal yang perlu diconto dan hal harus dihindari).

Saya setuju dengan pendapat Ajip Rosidi yang menyatakan bahwa terjadinya tawuran salah satunya dipicu dengan kegagalan berkomunikasi. Komunikasi sehari-hari akan lebih banyak menggunakan bahasa nasional atau bahasa daerah, karena akan tidak berkarakter bila menggunakan bahasa asing sekedar untuk gaya. Berbahasa itu harus fungsional.

Jadi, jika salah satu alasan pengembangan Kurikulum 2013 itu untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, maka jangan langsung tim pengembang berpikir pada kemampuan berbahasa asing saja, tapi anak didik harus dilandasi terlebih dahulu kemampuan berbahasa daerahnya.

Kita jangan lengah, bahwa dalam bahasa daerah itu sarat dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Anak didik yang mempelajari bahasa daerahnya berarti pula mempelajari nilai-nilai luhur budayanya yang kian hari semakin terlupakan. Dengan mempelajari bahasa daerah, anak didik akan mengenali jati dirinya. Bahasa daerah di samping sebagai alat komunikasi, juga menjadi gerbang bagi anak didik untuk menemukan karakter pribadinya dan lingkungannya tempat ia berada. Jangan takut anak didik terganggu pikirannya karena belajar bahasa daerah.

Setelah mengkaji draft Uji Publik Kurikulum 2013, saya berpendapat bahwa tim pengembang Kurikulum 2013 mengawali kerjanya dengan cara menelaah berbagai permasalahan atau sebut saja kelemahan yang terdapat dalam Kuriklum 2006. Dalam draft tersebut dipaparkan pula delapan aspek yang menjadi permasalahan dalam Kurikulum 2006, di antaranya yang berkaitan dengan kelemahan isi, tujuan, standar proses, standar penilaian, sampai kompetensi lulusan. Permasalah penting lainnya yang dibidik Tim Pengembang Kurikulum 2013 serta dianggap belum terakomodasi dalam Kurikulum 2006 yaitu beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan).

Untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam Kurikulum 2006 itu, tim pengembang menetapkan landasan filosofis untuk Kurikulum 2013 adalah pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Memang itulah yang menjadi rohnya pendidikan. Peserta didik diharapkan memiliki sikap yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur, baik yang berkaitan dengan norma-norma agama maupun norma-norma budayanya. Dan itu, memang selalu ada setiap pelajaran dan bukan hal yang baru, karena tujuan pendidikan yang utama dari dulu sampai sekarang adalah menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa.

Di samping aspek filosofis tadi, aspek yuridis yang melandasi Kurikulum 2013, tim pengembang mengambil Inpres No. 1 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional, yaitu penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai Budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa

Jika memerhatikan dua hal tadi, maka baik permasalahan Kurikulum 2006 maupun aspek filosofis dan aspek yuridis yang melandasi pengembangan Kurikulum 2013, terletak pada kata nilai-nilai akademik, nilai nilai luhur dan nilai-nilai budaya, serta kebutuhan peserta didik dan masyarakat.

Yang menjadi pokok persoalannya adalah bagaimana meraih nilai-nilai luhur dan nilai akademik mampu membina karakter anak didik setelah mendalami materi pelajaran. Setiap mata pelajaran sudah pasti menawarkan karakter tertentu, sesuai dengan substansi materi yang dipelajarinya. Misalnya, pelajaran sain dan teknologi sarat dengan nilai-nilai akademik yang dibutuhkan peserta didik dan masyarakat agar cerdas, berkualitas dan mampu bersaing. Demikian juga pelajaran olah raga, seni, dan prakarya sarat dengan nilai akademik yang berkaitan dengan keterampilan. Akan tetapi untuk nilai-nilai luhur dan nilai nilai budaya yang terdapat dalam suatu bangsa itu harus digali melalui bahasa daerahnya. Lalu, mengapa bahsa daerah diabaikan?

Memperhatikan struktur pada draft Uji Coba Kurikulum 2013, saya belum begitu memahami di mana ruang dan berapa jam yang –secara tegas dan jelas– dapat diisi oleh tim pengembang kurikulum tingkat daerah. ***

(Penulis, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI)**
Sumber diunduh dari : situs galamedia
Posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa | Tagged | 1 Comment

Menjelajahi Bumi Cianjur dengan Kuda Besi

Stasiun Cianjur, bangunan heritage di kota Cianjur

Stasiun Cianjur, bangunan heritage di kota Cianjur

oleh: Dadan Wahyudin | dimuat di  Jelajah, Majalah ISMA – Jan 2013

Di kancah  perkeretaapian, Cianjur sebenarnya memiliki reputasi diperhitungkan. Sayangnya, operasionalisasi kereta api di bumi Cianjur mengalami jatuh-bangun. Terakhir, sejak Idul Fitri kemarin kereta api Cianjuran berhenti beroperasi.

Gunung Gede sebagai ikon kabupaten Cianjur dijadikan satu nama kereta api sekelas argo. Prestise ini karena  hanya  segelintir jurusan dilayani kereta argo.  Kelas argo hanya melayani Bandung-Surabaya (oleh Argo Wilis), Jakarta-Surabaya (Argo Bromo), Jakarta-Semarang  (Argo Muria), Jakarta-Yogyakarta (Argo Lawu), Jakarta-Solo (Argo Dwipangga) dan Jakarta-Cirebon (Argo-Jati).  Argo Gede (diambil dari nama Gunung Gede) melayani jurusan komersial Jakarta-Bandung.

Cianjur pun memiliki catatan sejarah cukup tua di bidang perkeretaapian.  Setelah  Gubernur Jenderal Herman Willems Daendels (1808-1811) memerintahkan membuat Jalan Raya Pos (Groote Postweg) Anyer-Panarukan melalui Cianjur, tahun 1884 pemerintah kolonial membangun jalur rel kereta api Batavia-Bandung lewat Cianjur.  Jalur ini lebih tua daripada jalur rel Bandung-Yogya-Surabaya  dibangun tahun 1894 dan Batavia-Bandung via Purwakarta pada tahun 1900.

Terowongan kereta api Lampegan di desa Cibokor, Gunung Keneng, Cianjur tercatat sebagai terowongan pertama dibangun dan tercatat sebagai empat besar terowongan terpanjang di tanah air.  Terowongan Lampegan memiliki panjang 626 m, berada di bawah terowongan Wilhelmina (jalur rel Banjar-Pangandaran, sepanjang 1.220 m), terowongan Sasaksaat (Darangdan, 950 m) dan terowongan Ijo (Kebumen, 800 m).

Menurut kisahnya, pada saat itu masinis bule melewati terowongan ini, penduduk setempat memperingatkan agar masinis menyalakan lampu dengan teriakan : “lamp again” atau “lampe tuan” yang didengar penduduk setempat kata “lampegan”.  Lampegan merupakan stasiun terakhir di perbatasan kabupaten Cianjur dengan  stasiun Cireunghas (Kab. Sukabumi).

Pedagang di tepi rel ini sudah akab dengan jadwal kereta api

Nostalgia di jalur heritage

Naik kereta api (KA) Cianjuran memiliki pengalaman tersendiri.  Suatu waktu   di awal tahun 2012, penulis mencoba naik “kuda besi” ini sepulang kuliah dari stasiun Cianjur dengan tujuan Padalarang.  Pemberangkatan terakhir di stasiun Cianjur adalah pukul 11.30 WIB.  KA Cianjuran melayani penumpang sebanyak dua rit (empat kali perjalanan) seharinya. Pemberangkatan pertama dari Cianjur pukul 05.00 WIB. Kembali ke Cianjur dari Padalarang pukul 08.30 WB. Pemberangkatan kedua (terakhir dari Cianjur) pukul 11.30 dan jadwal tiba di Padalarang pukul 13.10 WIB.  Kereta api berangkat terakhir  pukul 16.30 WIB menuju Cianjur.

KA Cianjuran sungguh menarik. Mungkin satu-satunya kereta api tidak pernah bersilangan (kecuali di stasiun Padalarang).  Dengan demikian, alat wesel tidak perlu dipindah-pindah.  Soalnya, jalur ini hanya dilintasi oleh kereta api dijuluki “Argo Peuyeum” sebagai penguasa tunggal jalur ini. Ini berbeda dengan kereta api dimiliki PT. KAI biasanya sepasang A dan B, seperti: KRD, Patas,  atau KA Mutiara Selatan, KA Pasundan, KA Kahuripan, dan lain-lain.  Kedua kereta api ini [A dan B] bisa berangkat dalam waktu bersamaan pada stasiun pemberangkatan masing-masing. Perihal julukan di atas, karena KA Cianjuran melewati stasiun Cipeuyeum sering mengangkut “tape” [peuyeum] produksi masyarakat setempat.

Stasiun Cianjur berada di Jalan Yulius Usman merupakan bangunan heritage.  Bagi yang baru naik kereta ini agak sedikit bingung.  Kereta api menerobos deretan pedagang kaki lima yang sengaja menjajakan dagangannya di atas rel.  Namun, mereka seolah sudah akrab.  Begitu kereta api hendak diberangkatkan, para pedagang ini beramai-ramai mengangkat barang dagangannya ke tepi rel sebentar. Begitu kereta api telah pergi, aktivitas kembali seperti semula. Bagi pedagang hal ini biasa, toh kereta api di Cianjur cuma satu, sehingga jadwal  keberangkatan dan kedatangannya mudah diingat.

KA Cianjuran memiliki dua buah gerbong penumpang. Kapasitas satu gerbong bisa memuat 100-150 penumpang, sehingga satu kali angkut dapat membawa 300 penumpang. Belum ditambah petugas dan pedagang asongan mengais rezeki di sini.  Para pengguna jasa transportasi berbasis rel ini tersebar sepanjang stasiun dilewati.

Maleber, Tipar, dan Selajambe adalah tiga stasiun pertama dilewati. Pemandangan sepanjang kawasan ini didominasi pesawahan dan perbukitan nu jauh di sana. Ini terkait erat dengan reputasi  Cianjur merupakan lumbung beras di luar Pantura.

Pada saat melintasi sungai Cisokan, posisi rel kereta api sejajar  dengan jalan raya yang berada di samping kiri menjelang stasiun Ciranjang. Kereta api pun melaju memotong jalan raya Cianjur-Bandung setelah stasiun Cipeuyeum dan menyebrangi sungai Citarum.  Sungai terpanjang di provinsi Jawa Barat ini memiliki bentangan lebar dan tinggi nyaris sama yakni sekitar 200 meter. Cukup mencemaskan juga.  Perjalanan selanjutnya melewati hutan dan perkebunan.  Medan berat pun dilalui kereta api yang mendaki di daerah Rajamandala-Cipatat-Tagogapu.  Menurut keterangan penumpang, di daerah ini kereta api pernah mundur, sehingga rangkaian gerbong dibatasi tak lebih dari dua gerbong.

Akhirnya penulis tiba di stasiun Padalarang pukul 13.15 WIB.  KA Cianjuran beristirahat di Padalarang menunggu pukul 16.30 WIB untuk melakukan tugas terakhir di hari itu. Mengantar kembali peminat sepur menuju kota Cianjur.

Terus memendek

Pada awalnya jalur KA Cianjuran menghubungkan stasiun Ciroyom [kota Bandung] hingga stasiun Sukabumi Kota. Namun, tanggal 8 Februari 2001, terowongan Lampegan runtuh. Praktis jalur Bandung-Sukabumi ditutup.  Rute pun dialihkan ke stasiun Lampegan sebagai stasiun pemberangkatan dengan tujuan akhir stasiun Ciroyom Bandung. Kemudian lebih pendek lagi, dengan jurusan Cianjur-Ciroyom dan terakhir semakin pendek yakni melayani penumpang hanya dari stasiun Cianjur sampai Padalarang.

Jalur KA Cianjuran mengalami saingan ketat dengan moda angkutan darat lainnya yakni bus.  Trayek Bandung-Sukabumi termasuk jalur emas bus, jumlah armada bus cukup banyak dan rapat.  Menurut penulis, tujuan pengoperasian kereta api Cianjuran lebih diarahkan untuk memelihara fasilitas aset PT. KAI semata daripada murni menambang keuntungan. PT. KAI telah mendapat pembelajaran, jalur rel Bandung-Banjaran-Ciwidey, Rancaekek-Tanjungsari, atau Cibatu-Garut-Cikajang kini sulit diaktifkan. Selain sejumlah relnya  raib,  hunian ilegal tumbuh bak jamur di musim hujan.

Keprihatinan eksistensi KA Cianjuran terus bergayut. Jadwal perjalanan seringkali terjadi pembatalan. Secara rutin pula gerbong dan lokomotif KA Cianjuran kerapkali dipinjamkan untuk membantu angkutan mudik lebaran ke timur pulau Jawa.  Praktis perjalanan kereta api dari dan menuju kota tauco ini diliburkan. Petugas di sepanjang jalur rel  diperbantukan memperkuat stasiun terdekat, yakni Padalarang.

Sejak 8 April 2012, ada kebijakan direksi mengubah status “Argo Peuyeum” dari kelas tiga (K3/ekonomi)  menjadi kelas dua (K2/bisnis). Harga tiket pun melonjak drastis dari Rp. 2.000,00 menjadi 10.000,00. Padahal ongkos bus bisa di bawah harga tersebut.  Dampaknya terasa, jumlah penumpang melorot tajam.

“Paling dua puluh orang dan kadang-kadang cuma sepuluh orang,” kata seorang pedagang asongan di stasiun Padalarang dikonfirmasi penulis.

Saat penulis mau mencoba KA Cianjuran yang telah naik status (K2/Bisnis) di stasiun Padalarang, petugas satpam mengabari,  “Maaf Pak, sudah sejak hari raya, KA  Cianjuran belum beroperasi lagi … Weleh-weleh …

Secercah optimisme

Di tengah jatuh-bangunnya operasionalisasi kereta api di bumi Cianjur, ada secercah optimisme. Terowongan Lampegan telah selesai direnovasi PT. KAI.  Jalur Sukabumi-Bogor  pernah ditutup  mulai April 2006,  sejak Januari 2009 dihidupkan kembali dengan diluncurkannya KA Bumi Geulis. PT. KAI  berencana menggarap jalur wisata sejarah Bandung-Cianjur dengan menggunakan lokomotif uap mirip di Ambarawa.

Keseriusan ini dibuktikan oleh kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf dalam gelaran “One day Tour” yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Cianjur dan  PT. KAI Daop 2 Bandung beberapa waktu lalu.  Wagub turut menumpang KA “Argo Peuyeum”  melewati sekitar 10 stasiun, berakhir di stasiun Lampegan sekitar 60 km. Di stasiun ini, rombongan Wagub  meninjau langsung terowongan Lampegan. Terowongan yang dibangun tahun tahun 1879-1882  merupakan salah satu cagar budaya. Meskipun selesai diperbaiki, sampai saat ini jalur melalui terowongan Lampegan belum diaktifkan kembali. Wagub saat itu berkunjung pula ke situs megalitikum Gunung Padang di Karyamukti yang tak jauh dari stasiun tersebut.

Bagi Anda belum pernah naik kereta api jalur Cianjur, mudah-mudahan kereta api Cianjuran kembali normal dan gagasan kereta api wisata Bandung-Cianjur-Sukabumi dapat terwujud.  Tentunya dengan harga terjangkau. ***

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | 1 Comment

Mengenal Seni Bedor di Desa Girimulya, Cibeber, Cianjur

Pak Dadin dan Abah Karman (kedua/ketiga kiri), Pak Fuad (kelima) dan Pak Dede (paling kanan/dalang) tokoh dan praktisi seni budaya (BEDOR)  desa Girimulya Cibeber, Cianjur (Gambar ilustrasi admin)

1. Asal-usul
Di Kecamatan Cibeber yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur, tepatnya di Kampung Cibadak, Desa Girimulya, ada kesenian yang bernama “bedor”. Konon, kesenian ini dikenal oleh masyarakat sejak tahun 1897. Kesenian ini sangat erat kaitannya dengan seorang seniman yang kreatif. Namanya Jangke yang berasal dari Penyusuhan. Dengan kekretivannya ia menciptakan satu jenis kesenian yang kemudian disebut “bedor”. Bedor itu sendiri sebenarnya merupakan akronim dari kata “sesebred” (pantun) dan “bodor” (lawak). Jadi, bedor dapat diartikan sebagai “sesebred bari ngabodor”. (berpantun sambil melawak).
 
Sebagai pencipta, Jangke tidak ingin kesenian yang diciptakan hilang ditelan bumi. Ia menginginkan keseniannya tetap berkembang. Untuk itu, ia mengkader generasi penerus, yaitu Sartiko (generasi pertama), Punduh Oneng (gerasi kedua), Nisru (generasi ketiga), dan Beci (generasi keempat) yang sampai sekarang masih menekuni kesenian ini.
 
2. Peralatan, Pemain, dan Busana
Peralatan yang digunakan dalam kesenian bedor adalah: seperangkat gendang (sebuah gendang besar dan tiga buah gendang kecil dengan berbagai ukuran), biola, bedug, terompet, kecrek, dan ketuk. Jumlah pemainnya ada 13 orang dengan rincian: 1 orang penggendang, 1 orang pembiola, 1 orang penerompet, 1 orang pengecrek, 1 orang pengetuk, 1 orang pendalang, 2 orang peronggeng, dan 5 orang ngabodor (melawak). Busana yang dikenakan oleh para pemain laki-lakinya berupa: baju salomreng, celana pangsi, iket (tutup kepala), sarung palekat, dan bebedogan (golok). Sedangkan, pakian yang dikenakan perempuan berupa: baju kebaya, kain batik, selendang dan perhiasan lainnya. Sebagai catatan, hingga saat ini yang berperan sebagai perempuan adalah laki-laki.

Mahasiswa PBSI S2 UNSUR melakukan studi lapangan ke desa Girimulya, Cibeber untuk mengetahui lebih dalam seni bedor dan kesenian lainnya (ilustrasi admin)

 
3. Pementasan
Kesenian tradisional yang disebut sebagai bedor ini, selain dipentaskan dalam rangka memeriahkan khajatan, juga untuk memeriahkan atau memperingati hari-hari besar nasional, khususnya 17 Agustusan (hari kemerdekaan Republik Indonesia). Jalannya pementasan itu sendiri diawali dengan wawayangan (kidung anak-anak). Kemudian, disusul dengan banyolan para bodor dan diteruskan dengan berbagai adegan yang menggambarkan ceritera yang dibawakan. Lamanya pementasan sampai pagi (semalam suntuk). Pementasan diiringi dengan alunan lagu yang sesuai dengan jalannya ceritera. Lagu-lagu itu antara lain: awi ngarambat (kidung), slontongan (geboy), dan odading (polos tomo).
 
4. Fungsi dan Nilai Budaya
Fungsi kesenian yang disebut sebagai bedor ini sebagai hiburan. Namun demikian, karena kesenian ini sifatnya ngabodor dan ceriteranya tentang kehidupan sehari-hari, maka sekaligus berfungsi sebagai pengesahan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Malahan, kadang-kadang diselipi dengan pesan-pesan pembangunan. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya –dan seringkali tidak disadari oleh masyarakat pendukungnya– adalah fungsi jatidiri. Jika satu dan lain hal kesenian ini punah, maka masyarakat pendukungnya akan kehilangan salah satu unsur jatidirinya. Bedor itu sendiri sebagai suatu kesenian tentunya tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga nilai kreativitas. Hal itu tidak hanya tercermin dari penciptaan suatu cerita yang membutuhkan kreativitas tinggi, tetapi juga lawakan-lawakan yang segar yang juga membutuhkan kreativitas yang tinggi.
 
5. Kondisi Dewasa Ini
Meskipun sebenarnya kesenian bedor ini sangat digemari masyarakat, namun regenerasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dewasa ini para senimannya sudah pada uzur. Sementara, generasi mudanya enggan untuk mempelajarinya. Kondisi yang demikian ditambah dengan kurangnya masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk menampilkannya pada gilirannya membuat kesenian ini menjadi senen-kemis, malahan menjurus ke kepunahan. Dan, jika punah maka masyarakat Kampung Cibadak, Desa Girimulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur akan kehilangan salah satu jatidirinya. Untuk itu, Pemerintah Daerah setempat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaannya (2002) mencoba menginventarisasi dan mendokumentasikannya dalam rangka melindungi, membina, dan mengembangkannya. (gufron)
 
Sumber:
Galba, Sindu.2007. “Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur”.
 
Tim Seksi Kebudayaan.2002. Deskripsi Seni Tradisional Reak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.
Sumber dikutip dari blog : uun.halimah.blogspot.com
Posted in Uncategorized | 1 Comment

Haurwangi: Sepenggal Jalan Raya Pos ‘Daendels’ yang Hilang

   Citra satelit:  tinta merah, sepenggal jalan Daendels yang  semakin dilupakan orang

Sepulang menghadiri kuliah umum dari Menegkop dan UKM di Kampus UNSUR Cianjur, penulis sengaja mengambil jalan memutar ke arah jembatan Citarum Lama. Sudah lama menggelitik penulis, untuk bisa mengeksplorasi ke dalam tulisan.  Tulisan ini diapresiasi oleh Kompasiana dengan masuk Headlines (HL) Rabu malam (7/11).

Jalan Raya Pos  (Groote Postweg) dibuat saat Gubernur Jenderal Herman Willems Daendels berkuasa (1808-1811) diyakini sebagai jalan raya pertama dibangun di tanah air.  Jalan itu bermula dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) sekitar 1.000 km.  Umumnya Jalan Raya Pos  banyak yang telah menjadi jantung kota di berbagai kota dilewatinya. Sehingga keaslian wilayah sekitarnya telah banyak berubah.  Di Bandung contohnya, Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika hingga Jalan Ahmad Yani telah menjadi jalan protokol  dan pusat bisnis yang prestisius.

 Tetapi Jalan Raya Pos antara pertigaan kampung Cipetir Haurwangi dengan Rajamandala justru semakin dilupakan orang.  Tetap asli.  Generasi muda yang bolak-balik berkunjung ke Cianjur dan Bandung, kalau tidak menyengajakan diri berkunjung, takkan pernah tahu bahwa di daerah tsb  jalan dan jembatan  menyimpan histori cukup tua sebagai “cikal bakal” tumbuhnya  jalan-jalan yang ada  di tanah air.

 

Jembatan Cihea, Haurwangi

 Panjang jalan ini berdasarkan spidometer yang dicatat penulis 6,8 km.  Kondisi jalan masih terpelihara baik. Bahkan menjelang jembatan Citarum Lama sudah dibeton.  Tepi kiri jalan dari arah Cianjur adalah ngarai sungai Citarum cukup lebar dan dalam.  Kesejukan diperoleh dari banyaknya pepohonan yang menyertai perjalananan tsb.

Pemandangan di sungai Cihea sungguh menakjubkan.  Jembatan Citarum lama terletak di dataran tinggi di antara pepohonan hijau dapat disaksikan di sini.   Sungai Cihea yang mengalir membelah kampun Cihea dengan air cukup deras menabrak bebatuan digunakan untuk mandi dan berenang anak-anak.

 

Jembatan Citarum Lama di Kampung Muhara, Haurwangi, Cianjur

 Dari kampung Cihea, penulis melanjutkan menuju kampung Muhara.  Beberapa remaja asyik memandang aliran sungai Citarum yang sedang surut.  Air mengalir deras. Warnanya kehijauan.  Hal ini berbeda bila di musim hujan. Debit airnya tinggi. Sementara lajunya amat lambat (ngeyeumbeu).  warnanya pun coklat karena membawa lumpur dari hulu

Menurut penduduk setempat, jembatan yang sekarang ada dibangun tahun 1986.  Pembangunan jembatan ini menggantikan jembatan lama yang rusak. Pembangunan jembatan ini dilaksanakan setelah pembangunan jembatan tol Citarum Rajamandala selesai di tahun 1979.  Pondasi jembatan lama masih terlihat yang letaknya berada di bawah jembatan sekarang.

Di saat kemarau, saat airnya surut,  banyak ikan-ikan patin yang kabur dari kolam penduduk atau sudah lama menjadi hewan endemik habitat Citarum ramai-ramai berenang ke hulu.  Bagi mereka berhasil menangkap merupakan anugrah, ikan ini beratnya cukup lumayan 5 kg bahkan 10 kg.


Jembatan Citarum Lama dilihat di Kampung Cihea, Haurwangi. Tampak Anak-anak sedang mandi.

 Sejak jalan tol Citarum Rajamandala selesai, tak banyak pengendara yang lewat jalur ini.  Jalurnya memutar, sepi, jembatannya agak kecil, sehingga jalan ini tidak praktis dilalui.  Tak heran, histori jalan raya pos ini kurang  dikenali oleh generasi muda.

Namun bagi peminat cagar budaya, jalan heritage ini mendapat tempat tersendiri. Buktinya, saat penulis tiba di jembatan Citarum lama, ada rombongan turis luar negeri mencari tahu dan mendokumentasikan jalan dan jembatan ini. Sayangnya mobil travel keburu menjemput.  Bagi tidak berkendaraan,  ada angkutan melayani daerah ini, yaitu angdes Ciranjang-Rajamandala bisa mengantarkan persis di lokasi ini.

 Semakin langka dilalui, semakin bernilai historinya.  Bila kereta api memiliki “museum kereta api” menggunakan bekas rel tua di Sawahlunto dan Ambarawa, mungkinkah Binamarga memiliki “museum jalan raya” di sini.  Keaslian dan keasrian wilayah relatif terjaga dan saksi bisu “pioner” lahirnya jalan-jalan raya baru di tanah air.   [***Dadan Wahyudin]

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , , | 4 Comments