Ajip Rosidi: Pemerintah Berkepala Batu

REKTOR Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat menerima penghargaan Sastra Rancage 2013 dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi yang didampingi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas (kiri) di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (4/6).

DIPATIUKUR (GM) – Yayasan Kebudayaan Rancage kembali menganugerahkan hadiah Sastra Rancage 2013 kepada tujuh sastrawan yang menulis buku dengan bahasa daerah. Penghargaan kali ini cukup istimewa karena merupakan penghargaan ke-25 yang diberikan Rancage secara terus-menerus tanpa terputus.

Tujuh penghargaan ini terbagi dalam karya dan bahasa Sunda, karya dan bahasa Jawa, karya dan bahasa Bali, serta penghargaan Samsudi, yakni penghargaan karya sastra Sunda anak-anak. Untuk karya sastra dalam bahasa Sunda diberikan kepada Deni A. Fajar (Lagu Padungdung, kumpulan sajak) dan Prof. Dr. Ganjar Kurnia (jasa). Penghargaan karya sastra Jawa kepada Khrisna Mihardja (Prastisara, kumpulan cerpen) dan J.F.X. Hoery (jasa). Penghargaan sastra Bali diberikan kepada I Made Sugianto (Sentana, roman pendek) dan I Nyiman Suprapta (jasa).

Continue reading

Posted in Berita Pendidikan | Tagged | Leave a comment

Merasakan Semburan Geyser Cisolok, Sukabumi

Berlatar belakang Geyser Cisolok Sukabumi

Dari catatan wikipedia, Yellowstone National Park adalah taman nasional di Amerika Serikat, tepatnya  berada di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho. Luasnya meliputi 3.468 mil² (8.983 km²). Yellowstone National Park merupakan taman nasional tertua di dunia, didirikan pada tanggal 1 Maret 1872. Selain dihuni margasatwa,  Yellowstone National Park dikenal dengan semburan air panasnya yang dikenal dengan geyser.  Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, ada di sini.  

Anda tidak perlu berkecil hati tidak bisa menyaksikan geyser tersebut langsung  di negeri Paman Sam.  Sebagai negara   dilalui banyak gunung berapi, Indonesia  kaya  sumber air panas.  Akan tetapi, sumber air panas yang memancar tak pernah surut tidaklah banyak.  Cisolok salah satunya daerah yang memiliki fenomena alam menakjubkan ini. 

Anda bakal merasakan siraman geyser di Cipanas, Cisolok (20 km dari kota Palabuhanratu, Sukabumi). Lokasinya sekitar 5 km dari jalan raya Palabuanratu-Bayah dengan mengambil arah kanan dari pantai Karanghawu Cisolok atau arah kanan di Pasar Cisolok (dari arah Palabuhanratu). Tetapi harus hati-hati, posisi Anda jangan terlalu dekat, kulit Anda bisa  melepuh.  Pengunjung suka mencobanya dengan telur ayam ras dan tak lama telur pun matang. 

Sumber air panas menyembur ini berada di anak sungai Beser, Cisolok.  Di anak sungai ini setidaknya ada  7 titik fenomena alam semburan air mancur  ini.  Penulis tiba di lokasi pukul 05.45 WIB, sepulang mendampingi kegiatan mahasiswa di daerah Cikahuripan, Cisolok (klik link di sini). 

Kondisi pun masih temaram, Kabut masih membungkus areal dipenuhi pepohonan lebat tsb.   Mobil kami pertama kali tiba, dan petugas jaga  pun  belum ada.  Kami langsung bergegas ke areal air mancur sekitar 100 meter dari lokasi parkir. 

Di jembatan gantung sungai Beser, Cisolok

Areal air mancur ini dicapai dengan melewati jembatan gantung sungai Beser, di mana batu-batu besar teronggok sebagai ciri khas sungai di pegunungan.  Air mancur bercampur uap panas menyembur laksana kabut putih semakin menggoda untuk didekati.  Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang hadir sehingga kami amat leluasa mendekati titik semburan.

Proses air mancur alami ini sebenarnya berasal dari hujan meresap ke dalam tanah dan bebatuan.  Di dalam kantong air, air ini dipanaskan oleh magma.  Dalam perjalanannya,  aliran air melarutkan berbagai mineral dan dihangatkan oleh  magma. Pada saat menemui celah, maka air pun menyembur. 

Sumber mineral ini dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.  Anda bisa melakukan terapi air hangat di sini.  Di lokasi ini terdapat  dua buah kolam renang air panas yang sudah distabilkan suhunya hingga di bawah 40 derajat Celcius. Ada juga kamar terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti rematik, asam urat,  hingga stroke.  Tubuh pengunjung dari kepala hingga kaki dimanjakan petugas dengan semprotan  air panas.

Geyser dan Gletser

Geyser dari catatan blog http://ibenkztrilogy.blogspot.com adalah sejenis mata air panas yang menyembur secara periodik (mengeluarkan air panas dan uap air ke udara) atau dapat disebut juga aliran air hangat yang menyembur ke permukaan tanah. Nama geyser berasal dari kata Geyser di Haukadalur, Islandia. Kata itu kemudian menjadi kata kerja bahasa Islandia gjósa, “menyembur”.

Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, AS

Pembentukan geyser bergantung kepada keadaan hidrogeologi tertentu. Oleh karena itu hanya terdapat di beberapa tempat di Bumi dan karena itu geyser adalah fenomena yang jarang ditemui. Dari 1000 ada di seluruh dunia, sekitar setengahnya di Yellowstone National Park, Amerika Serikat.  Aktivitas semburan geyser dapat berhenti karena pengendapan mineral di dalam geyser, gempa bumi, dan campur tangan manusia.

Adapun gletser atau glasier atau glesyer merupakan sebuah bongkahan es yang besar yang terbentuk di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu yang lama. Bongkahan es ini dapat berupa wilayah daratan yang sangat luas. Saat ini, es abadi menutupi sekitar 10% daratan yang ada di bumi. 

Pegunungan Jayawijaya yang terdapat di Provinsi Papua  merupakan salah satu contoh pegunungan tinggi yang memiliki banyak gletser dan uniknya berada di wilayah khatulistiwa.  Gletser ini dapat meleleh oleh panas matahari dan mengalir mengisi debit aliran sungai di bawahnya.  Oleh karena itu, gletser merupakan sumber air bagi sungai, di samping air hujan.  Keduanya mengikuti aliran sungai  dibawa ke laut. ****  (dewa)

 

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | 2 Comments

Singgah di Patilasan Ratu Palabuhanratu

Tepat di Teluk Palabuhanratu, Tempat Pelelangan  Ikan/Dermaga Palabuhanratu

Laporan perjalanan;  dadan wahyudin | Minggu, 26 Mei 2013 pk. 04.30

Palabuhanratu  terbilang menarik.  Sebagai satu-satunya ibukota setingkat kabupaten di provinsi Jawa Barat berada di pantai Selatan atau pakidulan.  Status ini bakal ditemani  oleh Parigi (sebagai calon ibukota kabupaten Pangandaran, sesuai UU Nomor 21 Tahun 2012) tentang dasar hukum pembentukan kabupaten kesohor wisata pantainya hingga tujuan kunjungan turis mancanegara tsb. Kota Palabuhanratu terlewati oleh penulis saat  mendampingi  rombongan mahasiswa pascasarjana PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur saat Penelitian Sosiolinguistik ke Desa Cikahuripan, Cisolok, Kab. Sukabumi. (baca link beritanya: Sosiolinguistik 2013)

Palabuhanratu merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi yang berada tepat di  Teluk Palabuhanratu.   Teluk Palabuhanratu dikenal  teluk terbesar di pantai selatan pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Teluk  ini memiliki  garis pantai sepanjang 105 km. Di sini berlabuh  empat aliran sungai besar, yakni Sungai Cimandiri, Sungai Cibareno, Sungai Cilentuk, dan Sungai Cikanteh.  Di masa pemerintah kolonial,  daerah ini dikenal dengan nama Wijnkoops-baai atau Queen Harbour dalam bahasa Inggris.

Kota Legenda 

Kota Palabuhanratu memiliki legenda kental dengan Ratu Laut Selatan atau Nyai Loro Kidul sebagai penguasa laut selatan.  Legenda berkembang di masyarakat, syahdan di Priangan  pernah berkuasa raja mashyur  Prabu Siliwangi.  Raja memiliki putri bernama  Putri Lara Kandita. Kehadiran putri jelita  ini  tak disukai selir-selirnya,  sehingga mereka berbagai cara menganggu kehidupan permaisuri dan putrinya.  Wajah permaisuri dan putrinya dibuat  buruk dan  mengerikan.  Raja pun mengusirnya.

Dalam pengembaraan, permaisuri akhirnya meninggal. Maka  tinggallah Putri Lara Kadita sebatang kara. Rasa lapar yang sangat membuat sang putri jatuh pingsan.  Pada saat siuman, sang putri  mendengar suara yang menarik perhatian dirinya.  Bunyi itu tak lain deburan ombak susul-menyusul. Energi yang ditunjukkan oleh ombak tiada henti, memotivasi dirinya untuk bangkit.

Pantai Karanghawu, tempat sang putri menenggelamkan diri

Pantai Karanghawu,  patilasan  sang putri menenggelamkan diri

Sang putri pun mencoba menikmati panorama menakjubkan.  Duduk seraya memandang cakrawala nan luas. Tempat bertemunya laut dan kaki langit.  Kilau biru laksana safir nan elok sejauh mata memandang. Patilasan atau tempat duduk itu diyakini masyarakat berada di Pantai Karanghawu, Cisolok (10 km arah barat Palabuhanratu), di mana penulis berhasil mengambil gambar.  Semilir angin dan pesona keindahan lautan luar biasa melelapkan sang putri hingga bermimpi.  Kecantikan bakal sediakala manakala  mau menenggelamkan diri ke laut.

Putri pun terjaga.  Berdasarkan petunjak dalam mimpinya, seketika ia menceburkan diri  ke dalam laut.  Sungguh luar biasa. Wajahnya berubah tiba-tiba.  Berparas jelita.  Sejak saat itulah, Putri Lara Kandita menjadi penguasa sebagai Ratu Laut Selatan  bergelar “Nyai Loro Kidul”.

Legenda Nyi Loro Kidul  sangat kental bagi masyarakat pulau Jawa, terutama yang tinggal  di pakidulan.  Masyarakat Palabuhanratu menetapkan setiap tanggal 6 April dijadikan  sebagai Hari Nelayan.  Pada hari ini, nelayan menggelar “Pesta Laut”  atau Labuh Saji  agar Tuhan  memberikan berkah dan perlindungan.  Di Cikahuripan, Cisolok nelayan setempat menggelar “Syukuran Laut” setiap musim panen ikan.

Bertemu  Ratu Jambal, Pak Untung (memegang ikan asin jambal) juragan ikan asin di Palabuhanratu

Kepercayaan akan legenda “Nyai Loro Kidul” ditandai dengan kehadiran Kamar 308 Hotel Inna Samudra Beach  Pelabuhanratu.  Hotel kesohor hingga mancanegara ini terletak 7 km dari Palabuhanratu. Di kamar ini, pihak hotel   menyediakan  ruangan khusus untuk  menyimpan berbagai koleksi  berkaitan dengan legenda Nyai Loro Kidul.  Di samping itu  mengoleksi  sejumlah pemberian  aneka lukisan maupun pernik perhiasan  para pengunjung domestik maupun luar.

Tak pelak, penggunaan kata ratu amat akrab di sini.  Kata ratu menjadi ikon kota kecil di bawah kaki Gn. Butak  yang digunakan untuk berbagai nama di sini.  Tak terkecuali toko menyediakan oleh-oleh khas Palabuhanratu berupa aneka   ikan asin jambal  dan pindang tongkol berlokasi di dalam Tempat Pelelangan Ikan Palabuhanratu menggunakan nama “RATU JAMBAL” bukan “RAJA”.  “RATU JAMBAL” penguasanya adalah seorang pria,  Pak Untung.  Toko itu berhasil disambangi kami untuk mengoleksi buah tangan khas kota Ratu. ***

Baca artikel utama terkait postingan ini : Mahasiswa Magister UNSUR dan UPI Bandung Kunjungi Desa Cikahuripan Cosolok Sukabumi

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | 2 Comments

Purnabakti Dua Staf Administrasi Prodi PBSI S2

Berfoto bersama Ketua Prodi seusai acara

Datang dan pergi adalah hal lumrah dalam kehidupan. Keduanya sama beratnya. Ketika datang ke dalam lingkungan baru, diperlukan adaptasi yang baik.  Begitupula ketika hendak meninggalkan lingkungan telah kondusif adalah sesuatu amat berat.  Apalagi interaksi dan kebersamaan sudah erat tercipta.

Gambaran itu setidaknya mewakili perasaan dua mantan staf administrasi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) S2 Universitas Suryakancana Cianjur, Endang Jamaludin, SE dan Hani Nuraini  saat acara Pelepasan Staf Administrasi PBSI S2 ke tempat kerja “baru” (sebelumnya) Sabtu, 13 April 2013.  Acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa semester 1, 2, 3, dan sebagian semester 4 dan  alumni yang kebetulan berada di kampus saat itu. Dari unsur pimpinan prodi PBSI S2, hadir Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd, Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd, dan bendahara, Dra. Hj. Yeni Suryani, M.Pd.  Sementara staf pengajar dihadiri oleh Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd,  Dr. Sri Mulyanti, M.Pd, dan Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed.

Cinderamata bagi Endang Jamaludin diberikan Ketua Prodi

Acara dibuka oleh sekretaris prodi, yang sesi pertama diisi oleh sambutan Ketua Prodi, Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd. Ketua prodi mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada kedua staf yang telah purna-tugas  di prodi S2 atas  dedikasi dan curahan waktu dan tenaga disertai tanggung jawab tinggi, sehingga operasionalisasi prodi dipimpinnya berjalan lancar. Ketua prodi juga memutar ulang memori pendirian prodi PBSI S2 dalam memperoleh  izin/akta pendirian dari Dikti, peran  Endang Jamaludin, SE  terlibat aktif bahkan saksi sejarah pendirian prodi ini. Endang pun turut meletakan pondasi   berkaitan keadministrasian di prodi baru berdiri ini sejak 2005 hingga sekarang 2013.  Penghargaan pun diberikan kepada Hani Nuraini yang telah mengabdi di PBSI S2 UNSUR sejak tahun 2006. Dalam kesempatan ini, Ketua Prodi memperkenalkan staf baru yakni Rizal Barnabas, S.Pd dan Desi Asri Maryani, S.Pd

Pada sesi selanjutnya, Endang Jamaludin mengungkapkan permohonan maafnya kepada unsur pimpinan prodi dan staf pengajar juga seluruh mahasiswa atas kekurangan maupun kekhilafan dalam melayani mahasiswa selama dirinya bekerja di PBSI S2.  Menurutnya, sejak 1 April 2013, ia tidak lagi di S2, tetapi fokus di FKIP.   Namun ia membuka diri untuk tetap berbagi informasi dan komunikasi.

Hani Nuraini selanjutnya berkesempatan mengutarakan sepatah dua patah katanya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pimpinan prodi, dosen, dan mahasiswa dan memohon pamit untuk berkonsentrasi di program sarjana (s1).

Kedua mantan staf prodi s2 itu mendapat cinderamata dari pihak lembaga.  Untuk Endang Jamaludin, SE  cinderamata diberikan oleh Ketua Prodi secara langsung.  Sementara Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd (Wakil Rektor kebetulan hadir seusai memberi kuliah) memberikan cinderamata bagi Hani Nuraini.  Atas kelancaran dan  keberkahan acara ini, kegiatan acara ditutup  pembacaan do’a oleh Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed (kebetulan memberi  kuliah saat itu).

Perpindahan tempat kerja kedua staf ini dilakukan sesuai edaran Rektorat dalam upaya melakukan pembenahan di lingkungan universitas, termasuk di bidang pegawai. Hal ini ditempuh demi meningkatkan efektivitas dan peningkatan kinerja pegawai, sehingga lebih fokus dan konsentrasi.

Saat ditemui admin, Hani Nuraeni mengungkapkan bahwa meskipun jauh di mata, namun tetap di hati. Kebersamaan yang telah dijalin, dapat terus dipupuk, apalagi ia bertugas di perpustakaan yang banyak dikunjungi mahasiswa, termasuk S2. Hal ini dapat melanggengkan komunikasi dijalin sebelumnya.  Namun dibalik ungkapannya, staf yang anggun ini tak bisa menutupi ekspresi harunya, sebagai sesuatu hal yang   manusiawi.

Rasa haru pun menyelimuti Endang Jamaludin.  Ungkapan perpisahan yang dilontarkan sarat emosional dengan sesekali tertunduk dan tertahan.  Staf penuh humoris mengawali karier di tata usaha di SMKK PGRI Cianjur (kini SMK Parawisata Cianjur) tahun 1991, kemudian diangkat sebagai Kepala TU tahun 1997 di tempat sama.

Karier  di perguruan tinggi dirintis tahun 2001 hingga sekarang sebagai staf akademik di FKIP UNSUR.  Tahun 2003 sampai dengan 2009 dipercaya sebagai pengelola administrasi program Akta IV di tempat yang sama, dan sejak PBSI S2 berdiri (2005) sampai 31 Maret 2013 bekerja di dua “kaki”,  di prodi PBSI S2, dan tempat lainnya  FKIP.  Terhitung 1 April 2013, ia akan fokus di Program S1/FKIP.

Kegiatan berakhir dengan acara botram bersama. Seluruh mahasiswa semester 1, 2, 3, dan sebagian 4 serta alumi, menikmati nasi dus disediakan prodi.  (**)

diposkan oleh : dadan w.dhien | Minggu, 14 April 2013

Posted in Budaya dan Bahasa | Leave a comment

Pelindungan Bahasa Daerah dalam Kerangka Kebijakan Nasional Kebahasaan

oleh: Sugiyono,

sumber: laman pusat bahasa

Pendahuluan

Indonesia sangat kaya dengan bahasa daerah dan apalagi sastra daerah. Kekayaan itu di satu sisi merupakan kebanggaan, di sisi lain menjadi tugas yang tidak ringan, terutama apabila memikirkan bagaimana cara melindungi, menggali manfaat, dan mempertahankan keberagamannya. Dalam Ethnoloque (2012) disebutkan bahwa terdapat 726 bahasa di Indonesia. Sebagian masih akan berkembang, tetapi tidak dapat diingkari bahwa sebagian besar bahasa itu akan punah. Menurut UNESCO, seperti yang tertuang dalam Atlas of the World’s Language in Danger of Disappearing, di Indonesia terdapat lebih dari 640 bahasa daerah (2001:40) yang di dalamnya terdapat kurang lebih 154 bahasa yang harus diperhatikan, yaitu sekitar 139 bahasa terancam punah dan 15 bahasa yang benar-benar telah mati. Bahasa yang terancam punah terdapat di Kalimantan (1 bahasa), Maluku (22 bahasa), Papua Barat dan Kepulauan Halmahera (67 bahasa), Sulawesi (36 bahasa), Sumatra (2 bahasa), serta Timor-Flores dan Bima-Sumbawa (11 bahasa). Sementara itu, bahasa yang telah punah berada di Maluku (11 bahasa), Papua Barat dan Kepulauan Halmahera, Sulawesi, serta Sumatera (masing-masing 1 bahasa).

 keadaan itu, dapat dipastikan bahwa bahasa Indonesia dapat hidup dan berkembang secara lebih baik. Tuntutan komunikasi di daerah urban serta komunikasi di bidang politik, sosial, ekonomi, dan iptek di Indonesia memberi peluang hidup yang lebih baik bagi bahasa Indonesia walaupun bahasa Indonesia ini – sebagai bahasa nasional dan bahasa negara – hanya menempati peringkat kedua dilihat dari nilai ekonominya. Dapat diduga, posisi paling tinggi ditempati oleh bahasa asing, kedua bahasa Indonesia, dan terakhir adalah bahasa daerah. Artinya, dengan bahasa Indonesia, kesempatan orang Indonesia untuk meraih peluang ekonomi lebih besar daripada mereka yang hanya menguasai bahasa daerah, meskipun masih lebih rendah dari peluang mereka yang menguasai bahasa asing.

Hilangnya daya hidup bahasa daerah pada umumnya disebabkan oleh pindahnya orang desa ke kota untuk mencari penghidupan yang dianggap lebih layak dan perkawinan antaretnis yang banyak terjadi di Indonesia. Masyarakat perkotaan, yang pada umumnya merupakan masyarakat multietnis atau multilingual, memaksa seseorang harus meninggalkan bahasa etnisnya dan menuju bahasa nasional.  Cara itu dianggap lebih baik daripada harus bersikap divergensi atau konvergensi dengan bahasa etnis yang lain. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kompromistis dalam sebuah perkawinan antaretnis. Pada umumnya, bahasa etnis setiap orang tua akan ditinggalkan dan bahasa Indonesia kemudian digunakan dalam keluarga itu karena bahasa itu dianggap sebagai bahasa yang dapat menghubungkan mereka secara adil.

Urbanisasi dan perkawinan antaretnis tidak dapat dicegah, bahkan angka urbanisasi dan perkawinan antaretnis cenderung meningkat. Dalam kondisi itu, akankah kita diam saja menghadapi tersingkirnya bahasa daerah? Apa kebijakan pemerintah untuk melindungi bahasa dan sastra daerah di Indonesia? Tulisan ini akan membahas kebijakan pemerintah dalam melindungi bahasa dan sastra daerah, termasuk apa yang sudah dilakukan dan apa yang telah digariskan dalam peraturan perundang-undangan.

Bahasa Daerah dan Peraturan Perundang-Undangan

Pengaturan tentang bahasa daerah dalam peraturan perundang-undangan bukanlah hal utama, kecuali dalam beberapa perda. Pengaturan penggunaan bahasa daerah menjadi pelengkap pengaturan tentang bahasa Indonesia atau bahasa negara. Dalam Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional – termasuk Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 yang menjadi cikal bakal Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 –penggunaan bahasa daerah diatur sebagai pelengkap penggunaan bahasa Indonesia yang diwajibkan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia. Bahasa daerah boleh digunakan pada tahap awal pendidikan untuk menyampaikan pengetahuan dan keterampilan tertentu. Senada dengan itu, bahasa asing dapat pula digunakan sebagai bahasa pengantar untuk mendukung pemerolehan kemahiran berbahasa asing peserta didik. Baik bahasa daerah maupun bahasa asing mempunyi fungsi pendukung bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama dalam sistem pendidikan nasional.

Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas mejadi bukti bahwa sesungguhnya Indonesia sudah sejak tahun 1950 telah menerapkan prinsip EFA (education for all) yang dicetuskan oleh Unesco baru pada tahun 1990-an. Penggunaan bahasa daerah sebagai pengantar dunia pendidikan merupakan upaya menjangkau peserta didik yang belum mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Hal itu sekaligus juga menjadi bukti bahwa Indonesia juga telah menerapkan program MLE (multilingual education) yaitu program pendidikan yang memanfaatkan bahasa pertama sebagai bahasa pengantar di peringkat awal untuk kemudian suatu saat – umumnya pada kelas III atau IV – beralih ke bahasa nasional. Program MLE itu baru dikenalkan oleh Unesco pada tahun 2000-an.

Pelindungan terhadap bahasa daerah didasarkan pada amanat Pasal 32 Ayat 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Dengan ayat itu, negara memberi kesempatan dan keleluasaan kepada masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan bahasanya sebagai bagian dari kebudayaannya masing-masing. Selain itu, negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Kebebasan yang diberikan UUD 1945 bukan berarti kebebasan yang tanpa pembatasan karena hingga pada batas tertentu pengembangan dan penggunaan bahasa daerah pasti akan berbenturan dengan ketentuan lain. Untuk keperluan bernegara, kebebasan penggunaan bahasa daerah yang diamanatkan itu akan terbentur dengan batas penggunaan bahasa negara. Untuk keperluan hidup dan pergaulan sosial, keleluasaan penggunaan satu bahasa daerah harus juga menghormati penggunaan bahasa daerah lain. Dengan kata lain, keleluasaan penggunaan dan pengembangan bahasa daerah dalam banyak hal juga tidak boleh melanggar norma “sosial” dan norma perundang-undangan yang ada.

Untuk menjamin hubungan harmonis masyarakat Indonesia atas penggunaan bahasanya, Pasal 36C UUD 1945 mengamanatkan bahwa perihal bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan harus diatur dalam sebuah undang-undang. Amanat pasal itulah yang melahirkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Khusus tentang bahasa negara, pengaturannya dituangkan dalam Bab III, mulai Pasal 25 sampai dengan Pasal 45 dalam undang-undang teresebut. Ibarat sisi mata uang, pengaturan tentang bahasa negara, tentu berkaitan dengan pengaturan bahasa yang bukan bahasa negara, yang dalam hal itu berupa bahasa daerah dan bahasa asing.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 yang disahkan berlakunya pada tanggal 9 Juli 2009 mengatur empat subtansi pokok, yaitu bendera negara, bahasa negara, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Dalam undang-undang itu, bahasa Indonesia dibatasi sebagai bahasa yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 dan yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa.

Bahasa daerah diberi batasan sebagai bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, bahasa asing diberi batasan sebagai bahasa di Indonesia selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, baik bahasa daerah maupun bahasa asing, memegang fungsi pendukung bagi bahasa Indonesia. Sebagai pendukung, bahasa daerah dan bahasa asing dapat digunakan apabila fungsi bahasa Indonesia tidak dapat dijalan secara efektif.

Dalam hal penggunaan, ditetapkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan;  dokumen resmi negara; pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri; pengantar dalam pendidikan nasional; pelayanan administrasi publik; nota kesepahaman atau perjanjian; forum resmi yang bersifat nasional atau forum resmi yang bersifat internasional di Indonesia; komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta; laporan setiap lembaga atau perseorangan kepada instansi pemerintahan; penulisan karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah di Indonesia; nama geografi di Indonesia; nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, merek jasa, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia; informasi tentang produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia;  rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum; dan informasi melalui media massa. Dalam kelima belas ranah penggunaan itu, bahasa daerah (dan/atau bahasa asing) dapat digunakan juga untuk mendukung fungsi bahasa Indonesia hingga batas tertentu. Dalam hal layanan publik, misalnya, bahasa daerah dan bahasa asing dapat menyertai penggunaan bahasa Indonesia dengan tetap mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia. Pengutamaan itu dapat diwujudkan dalam bentuk pola urutan, ukuran tulisan, atau kemenonjolan tulisan itu.

Berkaitan dengan upaya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 memberikan kewenangan dan kewajiban penanganan bahasa dan sastra Indonesia kepada pemerintah pusat dan memberikan kewenangan dan kewajiban penangan bahasa dan sastra daerah kepada pemerintah daerah. Akan tetapi, dalam hal itu semua pemerintah pusat diberi juga kewenangan merumuskan kebijakan nasional kebahasaan yang di dalamnya juga memuat kebijakan tentang apa dan bagaimana pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah itu harus dilakukan. Pemerintah daerah juga diberi kewajiban mendukung pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa Indonesia. Sebaliknya, pemerintah pusat juga harus memberikan dukungan, baik dukungan pendanaan maupun kepakaran, kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah.

Kebijakan Penanganan Bahasa Daerah

Sejak tahun 1970-an penanganan bahasa di Indonesia didasarkan pada ­Politik Bahasa Nasional dan Keputusan Kongres Bahasa Indonesia.  Sejak tahun 2004, Politik Bahasa Nasional dan keputusan kongres itu lebih menjadi draf RUU Kebahasaan yang akhirnya lahir dalam bentuk Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 pada tanggal 9 Juli 2009. Selanjutnya, sejak tahun 2009 itu, penanganan bahasa di Indonesia, baik bahasa negara, bahasa daerah, maupun bahasa asing, didasarkan pada undang-undang itu.

Berdasarkan Pasal 41 dan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, penanganan bahasa dan sastra daerah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan dalam pelaksanaan tanggung jawab itu, pemerintah daerah harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat sebagai pembuat kebijakan nasional kebahasaan. Selain berupa pembagian tugas yang lebih terperinci, koordinasi itu dapat juga berupa fasilitasi kepakaran dan dukungan sumber daya.

Penanganan terhadap bahasa dan sastra daerah diklasifikasikan ke dalam tiga hal, yaitu pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra daerah. Dalam pengembangan bahasa dilakukan upaya memodernkan bahasa melalui pemerkayaan kosakata, pemantapan dan pembakuan sistem bahasa, dan pengembangan laras bahasa. Dalam pembinaan bahasa dilakukan upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa melalui pembelajaran bahasa serta pemasyarakatan bahasa ke berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, pembinaan bahasa juga dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan, keteladanan, dan sikap positif masyarakat terhadap bahasa itu. Sementara itu, upaya pelindungan dilakukan dengan menjaga dan memelihara kelestarian bahasa melalui penelitian, pengembangan, pembinaan, dan pengajarannya.

Upaya pengembangan, pembinaan, dan pelestarian bahasa dilakukan terhadap objek bahasa dan sastra berdasarkan kondisi atau vitalitasnya. Pada tahun 2002 dan 2003, UNESCO dengan bantuan kelompok linguis internasional menetapkan kerangka untuk menentukan vitalitas bahasa untuk membantu pemerintah membuat kebijakan penanganan bahasa di negaranya. Kelompok itu menetapkan sembilan kriteria untuk mengukur vitalitas bahasa. Kesembilan faktor yang dijadikan kriteria vitalitas suatu bahasa adalah jumlah penutur, proporsi penutur dalam populasi total, ketersediaan bahan ajar, respons bahasa terhadap media baru, tipe dan kualitas dokumentasi, sikap bahasa dan kebijakan pemerintah dan institusi, peralihan ranah penggunaan bahasa, sikap anggota komunitas terhadap bahasanya, serta transmisi bahasa antargenerasi.

Berdasarkan kriteria itu, vitalitas bahasa digolongkan menjadi enam kelompok (baca Salminen, 1999), yaitu bahasa yang punah (extinct languages), bahasa tanpa penutur lagi; bahasa hampir punah (nearly extinct languages), bahasa dengan sebanyak-banyaknya sepuluh penutur yang semuanya generasi tua; bahasa yang sangat terancam (seriously endangered languages), bahasa dengan jumlah penutur yang masih banyak, tetapi anak-anak mereka sudah tidak menggunakan bahasa itu; bahasa terancam (endangered languages), bahasa dengan penutur anak-anak, tetapi cenderung menurun; bahasa yang potensial terancam (potentially endangered languages) bahasa dengan banyak penutur anak-anak, tetapi bahasa itu tidak memiliki status resmi atau yang prestisius; bahasa yang tidak terancam (not endangered languages), bahasa yang memiliki transmisi ke generasi baru yang sangat bagus.

Bahasa di Indonesia mempunyai jumlah penutur yang sangat beragam. Vitalitas bahasa daerah di Indonesia menyebar dari status yang paling aman hingga yang benar-benar punah. Di antara bahasa di Indonesia, terdapat tiga bahasa yang penuturnya lebih dari 10 juta jiwa, yaitu bahasa Jawa (penuturnya 84,3 juta jiwa), bahasa Sunda (penuturnya 34 juta jiwa), dan bahasa Madura (penuturnya 13,6 juta jiwa).

Penanganan bahasa daerah diklasifikan berdasarkan pengelompokkan vitalitas bahasa tersebut. Pengembangan dan pembinaan dilakukan terhadap bahasa masih dalam status tidak terancam (aman), yaitu bahasa yang digunakan oleh penutur dari generasi muda sampai dengan generasi tua hampir terdapat dalam semua ranah, dan terhadap bahasa yang mempunyai potensi terancam, yaitu bahasa yang penutur anak-anaknya masih banyak, tetapi bahasa itu tidak memiliki status resmi atau status yang prestisius. Bahasa dalam vitalitas kedua itu masih dapat direvitaslisasi. Dengan pengembangan bahasa itu, kita akan mempunyai korpus yang memadai untuk membahasakan apa saja, mempunyai akselerasi yang bagus terhadap dunia pendidikan dan perkembangan iptek, serta dapat mengantisipasi munculnya media baru. Pembinaan dilakukan agar bahasa itu mempunyai transmisi antargenerasi yang baik, baik transmisi melalui dunia pendidikan maupun transmisi melalu interaksi dalam ranah keluarga. Termasuk dalam upaya pengembangan dan pelindungan adalah memantapkan status bahasa, mengoptimalkan dokumentasi, serta menumbuhkan sikap positif penuturnya.

Pelindungan terhadap bahasa dilakukan sekurang-kurangnya dua tingkat, yaitu tingkat dokumentasi dan tingkat revitalisasi. Pelindungan bahasa di tingkat dokumentasi akan dilakukan pada bahasa yang sudah tidak ada harapan untuk digunakan kembali oleh masyarakatnya. Bahasa yang dalam keadaan hampir punah dan bahasa yang sangat teracam hanya dapat dilindungi dengan mendukokumentasikan bahasa itu sebelum bahasa itu punah yang sebenarnya. Dokumentasi itu penting untuk menyiapkan bahan kajian jika suatu saat diperlukan.

Pelindungan terhadap bahasa yang masih digunakan oleh penutur dari sebagian generasi muda dalam hampir semua ranah atau oleh semua generasi muda dalam ranah keluarga dan agama serta kegiatan adat dilakukan revitalisasi untuk pelestarian. Untuk revitalisasi itu, diperlukan tahap pendahuluan yang meliputi pedokumentasian, pengkajian, dan penyusunan bahan revitalisasi, seperti kamus, tata bahasa, dan bahan ajar. Untuk bahasa yang akan direvitalisasi, harus disiapkan sistem ortografi yang memungkinkan bahasa itu diterima dalam media baru.

Dalam hal sastra, pengembangan akan dilakukan terhadap sastra yang bermutu dan bernilai luhur. Sastra yang seperti itu juga akan didukung upaya pembinaan agar tradisi bersastra di kalangan sastrawan pemula dan penikmat sastra tumbuh secara baik. Pelindungan sastra lisan dilakukan untuk merevitalisasi sastra yang hanya tinggal berfungsi sebagai sarana adat, ibadah, atau hiburan. Pelindungan sastra tulis, baik dalam bentuk fisik maupun nilai yang terkandung di dalamnya, dilakukan terhadap karya sastra yang bernilai luhur untuk aktualisasi. Aktualisasi yang dimaksud adalah penuangan dalam bentuk aktual atau mengadaptasi karya itu melalui alih aksara, alih bahasa, dan alih wahana menjadi karya, seperti seperti film, komik, atau buku audio.

Penutup

Khazanah bahasa dan sastra di Indonesia sangat beragam, tetapi sebagian besar dari keberagaman itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Beberapa bahasa memang masih tergolong dalam posisi aman, tetapi tidak sedikit bahasa yang dalam posisi terancam, hampir punah, atau bahkan telah punah.

Dasar hukum yang melandasi kebijakan penanganan bahasa dan sastra daerah telah telah ditetapkan, baik dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. Keduanya mencerminkan kemauan politik pemerintah yang nyata, tetapi realisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra daerah belum optimal. Dalam rangka optimalisasi, beberapa provinsi telah melahirkan perda, demikian juga beberapa kementerian. Akan tetapi, optimalisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah belum dilakukan dalam batas-batas yang seharusnya.

Daftar Pustaka

McMahon, April M.S. 1994. Understanding Language Change. Cambridge: Cambridge University Press.

Nettle, Daniel dan Suzanne Romaine. 2000. Vanishing Voices: The Extinction of the World Languages. Oxford: Oxford University Press.

Rachman, Arief. 2005. “The Role of Education in the Protection and Saving the Endangered Languages”. Paper of International Symposium the Dispersal of Austronesian and the Ethnogenesis of the Peoples in Indonesia. Solo, 28 June–1 July 2005.

Salminen, Tapani. 1999. Unesco Red Book On Endangered Languages: Europe. http://www.helsinki.fi/~tasalmin/europe_index.html#state

Sugiyono, Evarinayanti, dan Didi Suherdi. 2010. “On Bridging Student’s Learning in First Grades Using Mother Tongue : The Case on Sundanese Classrooms”. Paper presented on A Regional Meeting on the Dissemination of Project Results and Identification of Good Models (Arnoma Hotel, Bangkok, Thailand, 24-26 February 2009)
UNESCO. A methodology for assessing language vitality and endangerment. http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/endangered-languages/language-vitality/#topPage

Wurm, Stephen A. (ed.). 2001. Atlas of the World’s Language in Danger of Disappearing. Paris: UNESCO Publishing.

 

 

Posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa | 1 Comment