Menyambangi H. Dedi di Sukamulya, Warungkondang: Optimisme dari Ikan Lele

Setelah melihat sistem padi legowo bersama Pak Obay di sawah milik Balai Benih Padi Sukamulya, rombongan penulis tiba di kolam ikan lele milik H. Dedi.  Empat mahasiswa pbsi s2 diajak pembimbing KKN menyambangi desa Sukamulya Warungkondang sekalian mengumpulkan data berkaitan bahasa tuturan masyarakat cianjur.

Lokasi farm lele milik H. Dedi : Konsumen datang sendiri ke lokasi

Menurut H. Dedi, kisah mulanya dirinya  jatuh hati pada ikan lele, pada saat ia membantu menangkarkan induk lele  dumbo  saudaranya. H. Dedi pernah bekerja di toko buku di Saudi Arabia ini rajin mencari informasi tentang lele, berkaitan dengan teknik breeding (pembibitan) seperti: memilih indukan yang baik dan unggul, teknik mengawinkan, hingga “mijah”-kan telur induk hingga menjadi lele mungil  yang baru menetas; mencari info teknik budi daya efesien, maupun aspek kesehatan selama memelihara ikan lele melalui buku dan internet.

Sebelumnya,  H. Dedi bekerja sebagai TKI cukup lumayan lama, yakni setara hitungan dua kali Pemilu.  Kini menyimpan optimisme tinggi dalam usaha pembibitan lele.  Menurutnya, pasar lele cukup terbuka. Tidak perlu jauh-jauh memasarkan, konsumen datang sendiri ke lokasinya.  Selain konsumen lokal di sekitarnya, konsumen lain ada dari kota Cianjur, Tanggeung,  bahkan baru saja menerima pesanan dari Sindangbarang.

Dalam diskusi lainnya, H. Dedi berharap bisa membentuk komunitas profesi sejenis dengan petani-petani lele lainnya untuk bisa tukar informasi, menjalin relasi, memperoleh bimbingan teknis maupun kemudahan memperoleh modal sehingga usaha dirintisnya bisa tumbuh-kembang dan  memberdayakan masyarakat sekitar.

Usaha H. Dedi dirintis dengan membeli indukan lele (jantan dan betina) seharga Rp. 800.000 untuk 12 pasang bibit. Habitat lele tidak manja, kualitas air cukup jelek bagi ikan lain – asal tidak beracun – ikan lele cukup menikmatinya.

 Untuk mengawinkan indukan lele, saat ini sedang tren teknik perkawinan  secara in vitro (mirip bayi tabung pada manusia). Teknik ini memerlukan sosok sukarelawan rela mati sebagai donor untuk diambil kelenjar hipofisanya yang berada di bawah otak. Donor biasanya  berupa lele jantan atau ikan mas.  Kelenjar hipofisa berbentuk bulat putih digerus hingga halus, bersama larutan pengencer disuntikkan melalui punggung induk. Kelenjar ini diharapkan dapat menggertak munculnya sekresi hormon kelamin induk yang berfungsi merangsang pematangan telur sehingga siap dibuahi. Pembuahan dilakukan di dalam cawan petri atau tabung. Sebelumnya telur (Ovum) dan sel sperma dikeluarkan dengan cara diurut (stripping).

telur menempel pada ijuk sebelum dipindahkan ke kolam penetasan

H. Dedi mengawinkan indukan lele secara alamiah yakni jantan dan induk betina dipelihara dalam satu kolam. Menurut H. Dedi, ciri induk yang siap bertelur tampak dari perutnya buncit.  Indukan ini terdiri jantan dan betina dimasukkan ke dalam kolam yang telah  disediakan ijuk (kakaban) yang berfungsi tempat menempelnya telur-telur.   Telur yang sudah dibuahi dipindahkan ke dalam kolam penetasan sebagai cikal bakal benih-benih lele.  Satu induk menghasilkan telur sekitar 30.000 butir.

Dari sekian telur ini tidak semua menetas.  Telur dibuahi tampak berwarna kuning dan putih bagi yang kosong (infertil).   Dari 2 induk saja, H. Dedi bisa mendapatkan 8-10 ribu benih lele. Benih ini dibesarkan dengan memberi pakan pelet halus.

H. Dedi menjual benih lele dalam hitungan per ekor.  Satu ekor yang berukuran sebesar kelingking anak (usia satu bulan) seharga Rp. 150,00. Konsumen tinggal membesarkan dalam waktu relatif singkat 1-1,5 bulan sehingga sudah bisa dilempar ke warung nasi atau pedagang pecel lele.

H. Dedi (kanan) di lokasi “farm” lelenya

Kini beternak lele tak perlu memerlukan lahan luas.  Dengan menggunakan teknologi plastik, dengan ukuran 1 m x 2 m mampu menampung lebih dari 2000 ekor benih lele.  Saat dijumpai penulis, H. Dedi sedang membuat kolam plastik ukuran lebih besar untuk budidaya, yakni menyediakan lele pedaging untuk konsumen tukang pecel lele.

H. Dedi cukup menikmati profesi barunya.  Ketika ditanya, masih tertarik bekerja di negeri orang atau memilih beternak lele di kampung halaman sendiri, ia menjawab dengan yakin sambil tersenyum lepas: “mending di sini, dekat dengan keluarga dan usaha ini lebih menjanjikan.”   [dadan wahyudin]

 

This entry was posted in Pesona Cianjur. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>