Napak Tilas Jejak Perjalanan Kuliah Kang Sirwan dan Bu Yulipah ke Kampus UNSUR Cianjur

Kang Sirwan (paling kiri) dan Bu Yulipah (kedua kanan), dari Ujunggenteng dan Surade pakidulan kabupaten Sukabumi dalam satu sesi diskusi di Kampus PBSI S2 UNSUR.

Kang Sirwan Budiarto (39) dan Bu Yulipah termasuk mahasiswa PBSI S2 UNSUR Cianjur yang beruntung.  Seusai Sidang Tesis  Tahap II yang dilaksanakan Sabtu (14/7) mendapat “kehormatan” istimewa, yakni “diantar dan ditemani pulang” oleh sejumlah dosen dan mahasiswa langsung ke kampung halamannya.

Mereka yang mengantar adalah 6 orang rekan seangkatannya, seperti: Pak Juanda, Bu Ihat, Bu Sri, Bu Ade, Bu Khaerunisa dan Bu Leni dan ditemani adik angkatannya, seperti Pak Rido, Bu Nina, Pak Akrom serta penulis, serta yang luar biasanya turut serta pula unsur pimpinan Prodi dan staf pengajar PBSI S2 UNSUR Cianjur, antara: Pak Prof. Iswas, Bu Dr. Siti, Bu Yeni, M.Pd, Pak Dr. Yayat, dan Pak Dr. Kohar.  Selain itu dari Pak Mamat dan Pak Endang mewakili karyawan dan tata usaha. Hemh, istimewa sekali,  bukan?

Kang Sirwan Budiarto (berdiri kedua kiri) dan Bu Yulifah (duduk paling kanan) diantara rekan peserta seangkatan dan peserta sidang tesis di Kampus PBSI S2 UNSUR Cianjur (14/7)

Kang Sirwan mencapai kampus dari Ujunggenteng selalu menggunakan sepeda motor. Meski jauh, ia tergolong aktif dibuktikan oleh kehadirannya yang rata-rata penuh. Di pagi buta, deretan kebun kelapa yang sengaja diambil niranya adalah wilayah pertama kali dilewati, kemudian  menembus pekat dan lebatnya hutan di sepanjang Jampangkulon-Lengkong yang sunyi hampir tak dijumpai perkampungan.  Hampir 4 jam mengarungi jalan penuh belokan dan jurang di sisinya untuk mengejar kuliah di Jum’at siang.  Malamnya bersama rekan-rekan seangkatannya menginap di GGI PGRI Cianjur Jalan Aria Cikondang.

Lain lagi dengan Bu Yulipah, ia menggunakan elf mencapai Sukabumi dari Surade.  Di sana disambung dengan bus Sukabumi-Bandung dan turun di Cianjur. Tekad kuat keduanya memilih studi di PBSI S2 UNSUR yang harus diarungi ratusan kilometer  adalah jurusan linear dengan jurusan sebelumnya, dan kedua, PBSI S2 UNSUR merupakan satu dari dua Prodi PBSI Pascasarjana di universitas swasta yang terakreditasi di wilayah Jawa Barat.

Bagaimana rute dan situasi perjalanan panjang keduanya? Tulisan heroisme perjuangan dua sosok mahasiswa/i  PBSI S2 UNSUR ini,  semoga menjadi spirit bagi yang akan meneruskan kuliah S2 dari wilayah pakidulan, khususnya studi di PBSI S2 UNSUR ini.

bertemu di SPBU Lembursitu

Perjalanan menyusuri rute dua mahasiswa UNSUR PBSI S2 di pakidulan kabupaten Sukabumi dimulai di kampus UNSUR Cianjur hari Sabtu (14/7) pukul 15.30.  Masing-masing peserta tur ini memiliki keperluan pribadi (karena berangkat mendadak bagi sebagian peserta), sehingga 3 mobil yang dikemudikan Pak Mamat, Pak Akrom dan Pak Rido tidak berangkat bersamaan, tapi menunggu di SPBU Lembursitu, Sukabumi.  Perjalanan ini dipandu oleh Kang Sirwan menggunakan sepeda motor.  Mobil dikemudikan Pak Rido yang membawa mahasiswa yang baru saja menyelesaikan Sidang tesis tahap dua tercecer di belakang, namun tidak perlu riskan, ada Bu Yulipah sebagai “guide” yang tinggal  di Surade.

Jalan yang dilalui memotong di Pangleseran menuju Jampangtengah sekitar 20 km. Hati-hati, di kota Sukabumi jangan mengambil  arah Sagaranten, bisa jadi perjalanan menjadi memutar membuat Anda kelelahan sebelum tiba di tujuan akhir.

Di SPBU dekat Puslatpur Marinir, mobil mengisi bahan bakar. Pengisian bensin full tank ini ada sejumlah kekhawatiran sulit menjumpai SPBU di pakidulan nanti.  Perjalanan dilanjutkan melewati Jampangtengah melewati kebun ubi kayu dan pohon jati. Tampak beberapa pabrik kapur sedang beroperasi ditandai dengan kepulan asap hitam membumbung ke angkasa.  Salat magrib dilakukan di sebuah mesjid di daerah kecamatan Lengkong.

Jalan pintas yang memacu adrenalin

Di kota kecamatan Lengkong, rombongan berbelok kiri mengambil   daerah Batukasur dan Mataram dalam kondisi jalan masih berbatu.  Sopir yang baru melewati jalur ini, harus mengendarai kendaraannya cukup ekstra.  Sebenarnya jalur ini relatif lurus, namun kondisi jalan yang masih berupa batu dan tanah, penumpang dibuat tegang bahkan cemas.  Ketiadaan rambu, patok angka kilometer, perkampungan, dan dibelenggu kesepian, membuat suasana terasa  mencekam.

Untungnya tidak ada babi hutan melintas, atau sekumpulan kera bermain-main dan  terjatuh ke tengah jalan. Kalau itu terjadi, wah bisa tambah merinding bulu kuduk. Karena semak belukar terdiri pohon perdu dan ilalang tumbuh liar sepanjang kiri kanan jalan.

Selanjutnya hutan pinus  hawanya begitu dingin dan  amat rapat.  Sorot lampu mobil menjadi titik konsentrasi penumpang di malam itu.  Hanya kerlap-kerlip bintang di langit menjadi penawar ketegangan selama perjalanan di sini yang kebetulan cerah. Ketegangan muncul ketika kendaraan harus memilih jalan yang agak rata di antara  jalan berlubang.  Tak sedikit peserta terus berdo’a agar diberi kelancaran dan keselamatan, dan jalan batu segera berakhir.

jalan lengkong via mataram, kalau siang kira-kira begini

Jalan pun menginjak aspal lumayan bagus.  Peserta pun gembira.  Senyuman pun merekah.  Tetapi tak lama, jalan batu pun kembali menghadang.  Kecemasan yang berangsur hilang kembali muncul. Begitulah, aspal datang dan pergi, berganti-ganti, cukup memacu adrenalin berdegup kencang.

Jalan seterusnya menurun. Turunan yang tidak rata membuat sopir ekstra hati-hati.  Sepanjang perjalanan hanya dua petunjuk bisa dibaca, yakni sebuah madrasah di Mataram dan sekolah di Karanganyar.  Dua nama daerah beraroma Jawa Tengah,  jangan-jangan jalan ke Jogya? haha..

Di kalangan kami segera terbayang bagaimana Kang Sirwan dan Bu Yulipah kuliah ke kampus UNSUR Cianjur berjibaku menaklukan medan berat ini? Belum kalau cuaca tidak mendukung, seperti turun kabut atau hujan.  Terbayang pula, Bu Yulipah naik ojeg dahulu ke Sukabumi atau berdiri bergelantungan seperti pemetik teh di mobil bak melewati jalan penuh batuan ini?

Akhirnya “sport-jantung” mereda, begitu kendaraan mencapai pertigaan di mana bila mengambil arah kiri, petunjuk jalan memberi petunjuk Cimanggis arah Sagaranten, dan ke kanan adalah Jampangkulon.  Dari pertigaan ini tidak lama, mobil mengambil arah kiri menuju Surade.  Jalan Raya Jampangkulon baru saja dihotmix mulus, sebuah berkah bagi kami, buah kesabaran dan ketawakalan, setelah melewati ujian melintasi jalan berbatu sejauh 18 km.

Dihibur ikan hias

Jalan raya Jampangkulon-Surade lumayan, meskipun jalan mulus berhotmik hanya dijumpai di seputar kota kecamatan.  Kekhawatiran ketiadaan SPBU terjawab, terbukti ada 4 SPBU tetap buka.  Beberapa bus tiga perempat sesekali berpapasan atau menyalip tujuan Surade dan Kalibunder.

Akhirnya kendaraan tiba di kota kecamatan Surade.  Situasi kota kecamatan ini lumayan ramai. Banyak pertokoan dan terdapat waralaba. Kaki lima menjajakan nasi dan mie goreng, membuat  kota mungil ini terasa hangat. Begitu juga terminal Surade,  tampak ada beberapa bis istirahat.   Bus-bus kecil ini konon melayani penumpang bukan saja tujuan terminal Sukabumi tapi juga Bogor.

Papan petunjuk jalan memberi informasi 23 km tujuan Ujunggenteng.  Peserta yang sudah bangga, melihat angka lumayan jauh, akhir memilih tidur kembali  setelah sebelumnya tak bisa “ngalenyap”  di  jalan batu.

Sekitar jam 22.00, rombongan tiba di pondokan.  Pondokan ini bersebelahan dengan bibir pantai Samudra Hindia.  Dari sini bisa langsung memandang kerlap-kerlip losmen dan lokasi Pantai Pangumbahan tempat konservasi penyu hijau yang berada sekitar 4 km.

Angel Batman, ikan hias indah di depan pondokan

Batu karang berderet efektif memecah gempuran ombak, sehingga gelombang besarnya tak mencapai bibir tembok pondokan.  Persis di depan pondokan adalah tempat penampungan ikan hias.  Keindahan warna-warni ikan hias mampu sedikit meredakan ketegangan yang dialami selama perjalanan. Ikan hias ditampung untuk dikirim ke Jakarta, bahkan konon belut laut itu khusus diekspor ke Russia.  Rumah Kang Sirwan sendiri berada di Cikalapa, Ujunggenteng persis di dekat portal saat kendaraan masuk dikenai retribusi setelah melewati jembatan Sungai Cikarang yang lumayan panjang.

Menguak misteri Jalan Berbatu via Mataram

Kenapa harus memilih jalan berbatu?

Apakah Kang Sirwan (sebagai guide) hanya mengenal jalur pintas saja (maklum pake motor) atau sengaja mengajak off-road? Atau memang jalan ini paling pendek yang memangkas jarak melingkar? atau jalan inilah mengakses langsung ke Ujunggenteng? Atau jalan ini cuma satu-satunya, atau…

Teka-teki itulah terus menggayut dan berkecamuk di benak seluruh peserta. Maklum hampir sebagian besar baru kali ini menyambangi Sukabumi selatan.

Mengapa tidak memilih jalan melingkar yang konvensional?

Ketika dirunut, ternyata jalan pintas ini dipilih atas saran rekan dosen yang tinggal di pakidulan Sukabumi.  Kang Sirwan yang diberi info ini, tampaknya mematuhinya.

Jalan via Mataram ini secara faktual memang ringkas.  Apalagi kalau kondisinya baik.  Hal ini dibuktikan secara empiris di saat perjalanan pulang,  rombongan sengaja memilih jalur konvensional yang biasa dilalui bus, yakni melewati Jampangkulon, Waluran, Kiaradua dan Lengkong. Benar saja, perjalanan melalui jalur biasa dilalui bus cukup jauh dan sama dengan perjalanan sebelumnya, tak dijumpai rumah penduduk.  Hutan pinus di sepanjang kiri-kanan jalan dan belokan yang tiada berakhir adalah perjalanan cukup melelahkan.  Perkampungan mulai dijumpai di daerah Kiaradua, kecamatan Simpanan.

Perjalanan berbelok-belok melewati kebun teh dengan bukit berdinding terjal dan beberapa jurang, pengemudi dituntut sabar dan hati-hati.  Sama seperti perjalanan malam sebelumnya, di jalur Jampangkulon-Kiaradua-Lengkong ini, tidak dijumpai rumah penduduk yang berarti.  Namun, petunjuk jalan di sini lengkap dan jalan relatif mulus (maklum siang hari keliatan), sehingga lebih yakin.

Untuk mengecek perbedaan menggunakan kedua jalan,  penulis berupaya mengumpulkan data singkat untuk menarik kesimpulan sekaligus menguak misteri ini.  Jarak tertera di patok beton PU dicatat dan waktupun disetel, sejak pertigaan yang ke Mataram di Jampangkulon, dan diakhiri di belokan jalan Mataram, Lengkong.

Peta Kabupaten Sukabumi diperlihatkan Pak Jamhari, tinta jalan telah luntur telah diganti spidol biru. Daerah dilingkari, itulah fokus menguak misteri ini.

Diperoleh data, yakni jarak Jampangkulon ke Kiaradua (KD 21 km) meskipun berkelok-kelok anggap saja di-”batek” (diluruskan) dapat diasumsikan sisi tegak segitiga (lihat peta). Kalau tidak cermat angka-angka ini terbilang rumit, sebab patok beton buatan PU memuat penghitungan jarak dari Kiaradua-Bojonglopang (BJL, 35 km), tak ada Lengkong.  Kecamatan Lengkong sendiri ternyata berada diantara Kiaradua-Bojonglopang yakni 12 Km dari Kiaradua atau mirip alas segitiga siku-siku yang dibalik dengan asumsi peta di atas.  Dengan demikian dihasilkan angka  melalui jalur konvensional 33 km.

Sementara data berupa catatan waktu, distel di Jampangkulon pukul 11.09, dan tepat saat tiba  di suatu mesjid daerah Lengkong (tepat km 13) pukul 12.09. Berarti waktu tempuh tujuan sama adalah persis 1 jam pas.

Pak Jamhari, menyimpan peta pakidulan Sukabumi untuk pengendara mampir

Teka-teki akhirnya makin menyeruak ke arah titik  terang benderang. Adalah  Pak Jamhari yang sehari-hari mengelola mesjid, tempat singgah kaum musafir. Kebetulan rombongan salat di sini.  Saat penulis berdiskusi dan membahas jalan Lengkong yang dilalui malam tadi, Pak Jamhari langsung bergegas menuju papan pengumuman.  Awalnya penulis kaget, ada salah apa dengan penulis?

Dengan cekatan ia membalikkan papan pengumuman. Olalala… Setelah dibalik, terteralah Peta Kabupaten Sukabumi. Soal urusan peta adalah kesukaan dan hobi berat penulis.   Beliau langsung menerangkan bahwa jarak Lengkong via Mataram (jalan batu) itu 18 km lebih ringkas 15 km dari jarak konvensional 33 km.

Pak Jamhari adalah pensiunan dan mantan Kasi Kepegawaian Disdik Kab. Cianjur. Penulis nilai informasinya A1 (terpercaya). Saat dikonfirmasi  Pak Endang dan  Bu Siti, Pak Jamhari langsung akrab menceritakan situasi kondisi saat bertugas di Cianjur tempo hari.

Ketika ditanya jalan pintas dan hubungan dengan waktu tempuh, Pak Jamhari menjawab.

“Sebenarnya sama saja dalam hal waktu,” ungkapnya.

Dari catatan  penulis, saat melalui jalan pintas jarak boleh ringkas, tetapi waktu lebih lama, yakni 2 jam.  Tampaknya, mayoritas pengendara umumnya terlena oleh jarak jalan pintas memangkas 15 km, namun kondisi jalan diabaikan dan substansi utama berupa tujuan jalan pintas yakni waktu tempuh terlupakan. Kalau penyataan Pak Jamhari benar, sama-sama satu jam, apalah artinya memangkas jarak, bukan?

Pada kenyataannya, kendaraan memakan waktu 2 jam.  Ini bisa berterima (ditolerir) barangkali faktor sopir yang baru mengenal medan  membuat ekstra hati-hati. Kedua perjalanan malam., tak selincah siang hari.  Ketiga,  pernyataan Pak Jamhari boleh jadi benar, bila yang melintasinya adalah sepeda motor seperti Kang Sirwan, bukan mobil.

“Kalau menurut saya, lebih baik jalan biasa, lebih aman dan tenang,” ungkap Pak Yayat menanggapi polemik ini.  Begitu juga Pak Kohar, lebih fokus keselamatan penumpang, kesehatan kendaraan dan konsekuensi lainnya. “Kasihan kendaraan, saya tidak membayangkan kalau mogok di tengah jalan.”

Pendapat Pak Prof. Iswas terbilang moderat, “Semua ini bermakna. Jalan yang malam dilewati tadi, menandakan bahwa kita mendapat pengalaman paripurna, ya mengalami jalan berbatu, ya mengetahui perbedaan dengan jalan yang diaspal hotmix sehingga tidak penasaran lagi, bukan?  Kalau tidak lewat jalan itu, kapan lagi kita bisa dan mau? Lagi pula, tidak setahun sekali…”  Pernyataan spontan disambut senyuman dan apreasiasi berupa tepukan. Ada pesan tersirat dibalik pernyataan Pak Prof. Iswas, bagi yang tidak ikut, dibuat nyesel abis …

Lain lagi pendapat Bu Nina, “Emang tadi malam lewat jalan mana gitu?”

Lho kok tidak ikut cemas? Mungkin karena situasi gelap atau kecapean setelah ujian komprehensif menguras pikiran dan tenaga, jadinya mahasiswi PBSI S2 yang masih singel ini tertidur selama perjalanan. Ada-ada saja …

Semua asumsi dan argumentasi benar, hanya sudut pandang yang berbeda. Mirip dunia ilmiah, meskipun teori berbeda-beda, tetapi bila didukung argumentasi adalah sah-sah saja, sama-sama menuju pada kebenaran. “Banyak jalan lain menuju Roma,” kata Bu Hajah Yeni menimpali.

Waduh, bagi kalangan akademisi, liburan pun masih sempatnya berdiskusi..ha ha ha. Tapi yang jelas, Kang Sirwan dan Bu Yulifah telah berakit-rakit ke hulu, tinggal berenang-renang ketepian. Saatnya  menikmati buah kerja keras, keuletan dan filosofi futuristiknya sekaligus bisa menginspirasi rekan di daerahnya bahwa jarak bukan lagi hambatan dalam mencari ilmu …   (Dadan Wahyudin, anggota tim ekspedisi)

This entry was posted in Pesona Cianjur and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>