Memandang Negeri Kanguru di Pantai Selatan Cianjur

Penulis memandang negeri tetangga di Pantai Jayanti, Cidaun

Memandang Negeri Kanguru atau Australia di pantai selatan Cianjur, bisa jadi laksana mimpi. Andai saja bumi ini menyerupai bidang datar, dengan menggunakan teropong mungkin lambaian nyiur negeri tetangga bakal terlihat?  Atau keriuhan kota Perth (ibukota Australia Barat) yang berhadapan langsung dengan pantai selatan Cianjur bisa diintip dari sini?

Agar tidak seperti orang bermimpi, ulasan aspek geografis, barangkali dapat membantu memahami kita mencoba menggali seberapa dekat negeri Kanguru dari pantai selatan Cianjur.

Secara geografis, basisir pakidulan Kabupaten Cianjur berbatasan langsung dengan laut lepas  bernama Samudra Hindia.  Nun jauh di laut lepas sana, ternyata ada sebuah pulau bernama Pulau Christmas (Natal).  Secara administratif  sebagai teritori Australia.   Jarak dari kota Perth atau Darwin berada di daratan Australia dengan pulau tersebut  di atas 2.500 km atau hampir 2,5 kali pulau Jawa. (lihat ilustrasi di bawah ini)

 

Jarak Pulau Christmas dari wilayah terdekat lainnya (sumber: shire.gov.cx)

Sementara Pulau tersebut  hanya berjarak  sekitar 200 mil laut (260 km) dari pantai selatan Jawa Barat seperti Ujunggenteng (Sukabumi), Jayanti (Cidaun) atau Sindangbarang.  Bila jarak Cianjur-Sindangbarang sekitar 120 km, maka untuk mencapai Pulau Christmas cukup merasakan satu kali naik elf pergi pulang Cianjur-Sindangbarang, bukan?

Sebenarnya ada pulau milik Australia lain yang cukup dekat dengan wilayah Indonesia, yakni  Pulau Pasir (Ashmore Reef) di Laut Timor.  Jarak dari  Pulau Rote (Provinsi NTT/Indonesia) adalah 80 mil laut (148,16 Km), sedangkan ke wilayah Australia Utara (North Quessland) adalah 400 mil laut (740,8 Km). Pulau ini diklaim oleh nelayan tradisional masuk ke wilayah adat mereka, namun kekuatan hukum mengandalkan sejarah lisan (oral history) amat lemah di meja hukum.  Kasus banyak nelayan Indonesia ditangkap aparat Australia di wilayah ini umumnya terjadi oleh perbedaan pandangan tersebut.

Pulau Christmas dalam citra satelit

Sementara kasus imigran gelap hendak menyebrang ke Australia ada terdampar di Ujunggenteng dan Cidaun sebagai pertanda bahwa aroma Australia dirasakan oleh  masyarakat pesisir di sini.   Kasus lainnya seringkali nelayan lokal ditangkap aparat keamanan Australia yang dipandang oleh mereka melanggar zone perairan milik mereka. Sensitivisme lainnya isu rencana pembangunan pangkalan AS di pulau Cocos mengundang reaksi pemerintah RI, dan lain-lain.

Secara administratif, Pulau Christmas tidak masuk ke wilayah Indonesia, karena bukan merupakan jajahan Belanda.  Barangkali dulu Belanda berhitung untung-rugi, pulau terpencil kurang menguntungkan dengan tingkat risiko yang tinggi, membuatnya “ogah” untuk menganeksasinya.

Tetapi akhirnya Inggrislah yang merawatnya, tak heran Pulau Christmas dimasukan ke dalam teritori Australia, sama-sama jajahan Inggris.   Selain penduduk lokal, Pulau Christmas dihuni sebagian besar dari etnis China dari Malaysia, Indonesia atau Singapura yang awalnya bekerja sebagai pekerja tambang fosfat (guano) di pulau tersebut.

Ucapan Selamat Datang di Pulau Cocos (pulau muslim milik Australia)

Satu lagi, pulau berada di laut lepas kabupaten Cianjur, yakni Pulau Cocos.  Pulau Cocos sering disebut Pulau Keling berada sekitar 970 km dari Pulau Christmas.

Ada ucapan "Selamat Datang" di Pulau Cocos (sumber: republika.go.id)

Dari situs republika disebutkan ada 27 pulau di Kepulauan Cocos, hanya dua pulau yang dihuni, yaitu Pulau Salma (Home Island) dan Pulau Panjang (West Island). Mayoritas penduduk di Pulau Cocos beragama Islam. Di Pulau Salma yang menjadi rumah bagi sekitar 450 Muslim, peredaran minuman beralkohol dilarang.

Pulau Cocos yang cantik di tengah Samudra Hindia (republika.go.id)

Dari catatan situs suara pembaharuan, Kepulauan Cocos terdiri dari dataran rendah berkarang koral dengan luas 14,2 kilometer persegi (5,5 sq mi), 26 km (16 mil) dari garis pantai, ketinggian tertinggi 5 meter (16 kaki) dan ditutupi dengan pohon kelapa beserta vegetasi lainnya.

Iklim yang menyenangkan, diterpa oleh angin tenggara selama sekitar sembilan bulan dan dengan curah hujan sedang, membuat pulau ini makin diminati orang untuk wisata.

Kepulauan Keeling Selatan adalah sebuah pulau karang yang terdiri dari 24 pulau,  membentuk sebuah cincin karang, yang terlihat tidak lengkap, dengan total luas lahan 13,1 kilometer persegi (5.1 mil ²).

Pada tahun 2010, jumlah penduduk di pulau diperkirakan hanya lebih dari 600 jiwa. Populasi di dua pulau berpenghuni umumnya terbagi antara etnis Eropa di Pulau Panjang (populasi 100 jiwa) dan etnis Melayu/Javanese di Pulau Salma (populasi 500 jiwa).

Orang-rang di Pulau Keling berbahasa Inggris yang bercampur dengan dialek bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang mereka pergunakan sehari-hari.  Dialek bahasa Indonesia di pulau ini tentunya cukup menarik untuk dijadikan penelitian sosiolinguistik, bukan?

Sejarahnya tahun 1609, Kapten William Keeling adalah orang Eropa pertama yang melihat pulau-pulau ini. Tetapi pada saat itu, pulau ini tak berpenghuni hingga pada abad kesembilan belas, ketika pulau-pulau itu menjadi milik keluarga Clunies-Ross.

Untuk mencapai pulau tersebut, tidak disarankan menggunakan sampan dari Jayanti atau Ujunggenteng.  Samudra Hindia dengan ombaknya yang ganas, membuat kedua pulau terpencil dari tetangganya.  Tetapi jangan takut, Anda bisa berkunjung ke sana dengan menyewa pesawat. Sayangnya, hanya bisa dengan penerbangan carter dari Singapura atau Malaysia. Belum ada layanan penerbangan dari Jakarta ke Pulau tersebut. [Dadan wahyudin]

This entry was posted in Pesona Cianjur. Bookmark the permalink.

2 Responses to Memandang Negeri Kanguru di Pantai Selatan Cianjur

  1. Peter Jamal says:

    It’s actually a great and useful piece of information. I’m happy that you shared this helpful information with us. Please stay us up to date like this. Thanks for sharing.

  2. sulton says:

    luar biasa ! kapan ya kita bisa ke sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>