Menyusuri Jembatan dan Jalan Lintas Selatan Jawa Barat di Pakidulan Cianjur

Jembatan Cisadea (122 m) Sindangbarang  diresmikan Gubernur, Sabtu (5 Mei 2012) aspal tampak hotmik mulus. (Foto-foto Dadan Wahyudin)

Tatkala singgah di Sindangbarang saat Studi Lapangan Mahasiswa PBSI S2 Universitas Suryakancana, Rabu-Kamis (27-28/6/2012) lalu, jembatan Cisadea di sebelah barat alun-alun dan jalan raya Sindangbarang, langsung menggelitik penulis untuk mengetahui lebih banyak.  Jembatan sepanjang 122 m ini penting, sebab pada 5 Mei 2012, telah diresmikan Gubernur sekaligus menandai rampungnya pembangunan 159 jembatan  yang ada di sepanjang trans-Jawa Barat Selatan ini.

Gambar yang sama dengan di atas di Jembatan Cisadea sebelum diresmikan 5 Mei 2012 (Sumber: panoramio)

Jalan Raya Sindangbarang ini merupakan bagian dari proyek jalan Lingkar Selatan Jawa Barat (LSJB) diharapkan mampu mengangkat kehidupan masyarakat di pakidulan Jawa Barat yang relatif tertinggal dibanding saudaranya.  Isolasi karena ketiadaan jembatan dan jalan relatif buruk sebelumnya merupakan potret wilayah pakidulan telah membelenggu warga bertahun-tahun.

Proyek LSJB membentang dari Ujunggenteng hingga Pangandaran diharapkan dapat menyatukan kota setingkat kecamatan yang pada awalnya tercerai-berai seperti: Ujunggenteng, Surade, Tegalbuleud (Sukabumi), Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun (Cianjur), Cikelet, Pameungpeuk (Garut), Cipatujah (Tasikmalaya) hingga Pangandaran sehingga mudah diakses.

Karakter sungai di pakidulan

Jalur Lintas Selatan Jawa Barat yang berdampingan dengan Samudra Hindia sebenarnya relatif datar dan jarak pandang luas.  Ombak bergemuruh tiada henti bakal menemani pengendara melalui jalur ini.  Jalur ini relatif lurus dibanding jalur tengah Cianjur-Sukanagara-Sindangbarang atau Ciwidey-Naringgul-Cidaun yang sarat akan belokan, jurang, tebing dan tanjakan-turunan.

S. Cilaki jembatan terpanjang (273 m), tapal batas Cianjur-Garut

 Anda bakal melewati sungai-sungai lebar dan rapat. Inipula yang menjadi kendala pembangunan di sini.   Kampung-kampung diselingi sungai-sungai lebar yang cukup rapat telah membuat masyarakat sulit membebaskan diri dari isolasi keterpencilan.

Ada perbedaan karakter sungai antara pakidulan Jawa Barat dengan sungai-sungai Kalimantan atau wilayah Pantura.  Sungai-sungai  di pakidulan melintasi bukit-bukit terjal dan berbatu-batu, praktis tidak bisa dilayari. (baca pula artikel sejenis: Berharap Hujan Batu dan Emas di Negeri Sendiri) Tak heran, hampir tak ditemui kampung nelayan seperti halnya muara di sungai Pantura, kecuali di Jayanti dan Rancabuaya.   Di Kalimantan atau Pantura, sungai bisa dilayari untuk sarana transportasi bahkan perniagaan.

Kisah masa lalu

Hidup dihimpit sungai-sungai lebar telah mengisolasi masyarakat pakidulan selama bertahun-tahun.  Ketidakpraktisan dan ekonomi berbiaya tinggi menjadi beban hidup yang harus ditanggung warga di sini. Contohnya saja, bahan bakar premium dan solar di Cidaun harus dibeli dari SPBU Ciwidey (Kabupaten Bandung) karena ketiadaan SPBU. SPBU terdekat dijumpai di Sukanagara, namun kadangkala persediaan tak mencukupi.  Bensin eceran sebenarnya mudah dijumpai di kios-kios warga yang dijual seharga Rp. 7.000,00 per liter.  Kondisi seperti ini tak heran mobil mewah dan mobil pelat putih baru keluar dealer pun harus rela diisi di kios eceran.

Bila di musim kemarau di mana airnya surut, sepeda motor atau mobil bak kerap berbasah-basahan turun melintasi sungai dangkal untuk menyeberang. Pengendara harus pintar memilih jalan  tidak ada onggokan batunya, kalau tidak mau terhalang atau malah terjungkal.  Jika air besar, maka  getek (rakit)  yang ditarik penjual jasa penyebrangan memiliki peran penting menyeberangkan kendaraan atau warga ke kampung sebelahnya. Adapula pengendara yang rela berputar lebih jauh dengan menyusuri pinggiran sungai untuk mencari  aliran sungai yang dangkal.

Kawanku, mencuci motor berlatar jembatan sungai Cidamar (Cidaun)

 Kisah lainnya adalah untuk mencapai Pameungpeuk (Garut)  dari Cidaun (Cianjur) bila ditarik garis lurus sekitar 50 km, warga Cidaun harus memutar ke Sindangbarang (27 km) lalu Cianjur (120 km) dengan jalan dibatasi jurang dan dinding batu dan melalui kota Bandung (60 km.  Perjalanan diteruskan ke Garut (63 km). Lalu mencapai Pameungpeuk (87 km) sehingga diperoleh angka 357 km. Jarak ini setara dengan setengah Jakarta-Surabaya sekitar 688 km, tentu dengan kondisi jalan dilalui berbeda.  Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Sungguh tidak praktis, bukan

Yang Memisahkan dan Yang Menghubungkan

Itu kisah dulu.  Kini perjalanan yang dahulu harus ditempuh beberapa hari itu hanya dapat ditempuh dalam hitungan jam berkat kehadiran jembatan.  Jembatan yang kokoh dan jalan mulus (ada beberapa seksi yang rusak, namun tengah diperbaiki petugas jalan) serta medan lurus, perjalanan sekarang cukup mengasyikan.  Apalagi sepanjang kanan (dari arah Sindangbarang) adalah lautan lepas yang gemuruh ombaknya tiada henti.  Namun pada siang hari angin laut berhembus kencang, disarankan pengendara motor menggunakan jaket tebal dan helm tertutup.

Jembatan terbaru diresmikan adalah Cisadea dan Ciselang.  Jembatan Cisadea membentang 122 meter menghubungkan desa Sirnagalih dan Saganten (Sindangbarang), sementara jembatan Ciselang berada di sebelah barat jembatan Cisadea sepanjang 51 meter. Keduanya diresmikan  Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, tanggal 5 Mei 2012 di alun-alun Sindangbarang.  Peresmian dua buah jembatan tersebut  menandai lengkaplah sudah seluruh jembatan di Jawa Barat Selatan yang sekarang jumlahnya mencapai 159 buah jembatan.

Sungai Ciujung memiliki muara lebih lebar, namun alirannya pendek

Di Jembatan Sungai Ciujung,  pesona bersatunya birunya  muara, samudra dan kaki langit

Menurut keterangan kawan penulis, Lili Azies, yang dikenal sebagai jurnalis, pernah mengikuti kegiatan Bupati di pantai selatan di era 1978-an,  ia menghitung  setidaknya ada 7 sungai besar antara Cisadea dan sungai Cilaki.  Sungai-sungai itu adalah Citoe, Ciujung, Cipandak, Ciwadik, Cidamar/Cidaun, Ciseula, dan Cikawung.  Jembatan Cilaki sebagai tapal batas antara kabupaten Cianjur dan kabupaten Garut merupakan jembatan paling panjang berdiri di atas sungai Cilaki sepanjang 273 meter.

Masih banyak jembatan ke arah timur meliputi pesisir kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis yang belum dijelajahi seperti: Cirompang, Cikandang, Cimari, Cimangke, Cipasanggarahan, Cisanggiri, Cibaluk, Cipamukusan, Cipanyerang, Cipatujah, Cilangla, Cibeuning, Cijulang, dan lain-lain.  Namun semua itu sudah terhubung oleh jembatan LSJB.  Jembatan yang membentang di atas 100 meter di kawasan di atas adalah jembatan Cilayu (250 m), Cipatujah (127 m), Citangguluk (120 m) dan Cibaluk (105).

Jembatan Cilayu secara administratif sudah masuk kecamatan Caringin, kabupaten Garut. Gambar diambil sebelum turunan dari arah Rancabuaya

Begitu pula ke arah barat dari Cisadea, Sindangbarang,  sungai-sungai melintang LSJB  belum disambangi penulis seperti Ciselang,  Cidahon, Cisokan, Cibuni (Cianjur),  Ciseureuh, Cikarang (dilewati saat ke Ujunggenteng) (Sukabumi), dan lain-lain merupakan rangkaian Lintas Selatan Jawa Barat yang tentu memiliki pesona tersendiri.

Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB) diharapkan menjadi daya tarik investor maupun warga setempat untuk membangun daerah baru saja membebas diri dari belenggu keterbatasan sarana transportasi.  Berkat jembatan dan jalan relatif bagus, warga pun telah mendapat manfaat berupa kemudahan akses.

“Saya sudah dua kali melakukan perjalanan Cidaun-Pangandaran dengan waktu tempuh 5-6 jam dan tak ada lagi jalan terputus oleh sungai,” kata kawan penulis yang menemani perjalanan tersebut.

Potensi 

Wilayah pakidulan diprediksi bakal segera bebenah dan menggoda investor untuk mengelola sumber daya alam dan potensi dimiliki daerah ini.  Jalan yang lurus dan relatif bagus dengan pesona pantai menakjubkan dapat dikelola menjadi obyek wisata.  Obyek wisata Pantai Kukumung, Jayanti (Cidaun), Pantai Apra (Sindangbarang) atau Rancabuaya (Caringin, Garut) dapat ditingkatkan. Fasilitas-fasilitas pendukung seperti kemudahan akses jalan tembus ke jalan LSJB, melengkapi petunjuk jalan, kehadiran SPBU, penginapan memadai,  dan fasilitas lainnya perlu terus ditingkatkan sehingga pengunjung merasa aman dan nyaman.

Domba dan Sapi merumput di antara jalan   LSJB dan Samudra Hindia

Di sepanjang kiri dan kanan trans selatan Jawa Barat ini banyak tegalan dengan rumput tumbuh cocok untuk peternakan.  Sepanjang jalan dilalui oleh penulis, banyak dijumpai domba, kambing, dan sapi yang digembalakan di pinggir jalan ini.

Potensi buah kelapa di basisir kidul Cianjur dikenal sebagai pemasok utama buah kelapa segar di kota Cianjur atau Bandung dan sekitarnya.   Sepanjang pantai Sindangbarang-Cidaun banyak pohon nyiur kelapa ini melambai-lambai.  Sementara arah ke dalam sedikit, justru pohon arenlah yang banyak dijumpai.  Tak heran, daerah perbukitan seperti Naringgul, Cikadu, Pasirkuda dikenal produksi gula arennya.

Pasir di pakidulan ini halus dan mengkilap diyakini mengandung potensi pasirbesi tinggi.  Sepanjang jalan Sindangbarang-Cidaun ada beberapa perusahaan penambangan pasirbesi yang ditandai gundukan pasir yang menggunung.  Penambangan pasirbesi ini masih menyimpan pro-kontra di masyarakat dan pecinta lingkungan.  Ketakutan warga sekitar, umumnya bekas galian terjadi di negara kita, kerap meninggalkan lubang-lubang mengangga yang tidak direhabilitasi oleh perusahaan tambang.

Potensi perikanan laut di pakidulan kurang begitu tinggi, karena ombak di pantai selatan cukup tinggi dan hampir tiada henti.  Apalagi di saat musim angin barat yang banyak nelayan menambatkan perahunya.  Namun, potensi ikan laut dijumpai di pelabuhan Jayanti (Cidaun) merupakan pelabuhan satu-satunya di kabupaten Cianjur dikenal dengan ikan layur, belanak, bawal, dan lain-lain.  Sementara di muara sungai, banyak diperoleh udang, impun, belanak, dan lain-lain.

Bila Anda pernah ke pakidulan sepuluh tahun lalu, situasi dan kondisi sekarang jauh berbeda. Tak percaya, silakan mencobanya kembali! [Dadan wahyudin]

 

This entry was posted in Pesona Cianjur and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Menyusuri Jembatan dan Jalan Lintas Selatan Jawa Barat di Pakidulan Cianjur

  1. tutik rahayu says:

    Ya Pak kami sudah kesana seminggu yang lalu, akses jalan dan jembatan sudah bagus cuma ada beberapa jalan yang masih belum mulus kalau jembatan sih bagus semua… benar-benar Cidaun daerah yang potensial…. InsyaAlloh kedepannya kami akan kesana lagi….

    • denny says:

      oia lebaran kemaren saya lewat litas jalur selatan, jalan bagus dan mulus cuman ada beberapa jalan yg rusak, smoga ke depan lebih cepat diperbaiki, trims

  2. M. Maulana says:

    Terima kasih atas uraian informasi seputar jalur LSJB. Di awal bulan juli sy dan rekan” komunitas Harley akan menempuh route perjalanan Jakarta-Pelabuhan Ratu-Ujung Genteng-Pangandaran. InsyaAllah sepulang ride journey akan sy share update seputar LSJB, Salam

  3. adit says:

    pak mohon maaf mau konfirmasi, apakah dari jalur banten hingga pangandaran sudah rampung?, atau dari daerah jampang sukabumi hingga pangandaran sudah rampung?. bisa dipm kesaya pak.

  4. dedi kusnadi says:

    asyik… saya pengen sekali2 menelusuri sungai2 pakidulan dan rawa2 nya kalou ada maklum maniak mancing hehehe…..he kalo yg ngalir ke utaramah sudah banyak yg ku telusuri dan ikan2nya dah ga asing lagi ,kalau sdah banyak jalan dan jembatan kaya nya kecapai cita2 ku untuk cari2 spot mancing yang baru…..wah pasti seru dan mengasyikan……….selemat Beeee…uu..h

  5. iman says:

    Saya berharap sama pak gubernur jabar dan pak bupati cianjur,untuk jalur cidaun cianjur,benar2 ϑΐ lebarin jalannya,saya sbgi warga karang wangi cidaun,minta juga ,pantai jayanti,dan cigebang dibuat objek wisata yang lebih besar lagi,terima kasih

  6. yudi says:

    Terimakasih liputannya sy ingin sekali melintasi jalur tersebut tp kendaraan bukan untuk jelajah takut tdk bisa lewat sekarang dapat info begitu sudah lega bisa dilalui semua tipe kendaraan.

  7. adep says:

    trek kesan sungguh menyenangkan, saya sudah beberapa kali kesana…

    *kangen dengan pesona alam dan ramah tamah penduduk nya, hatur nuhun

  8. Menyusuri Jembatan dan Jalan Lintas Selatan Jawa Barat di Pakidulan Cianjur | Blog PBSI S2 Universitas Suryakancana Cianjur

  9. endang gumelar says:

    Pada tahun 2011 saya pernah melewati jalur bandung-ciwidey-narunggil-cidaun-pangandaran-cilacap-pantai ayah kebumen-pantai jatimalang purworejo-kulon progo-bantul (mulai dari kebumen hingga bantul merupakan jalan Daendels) dan tujuan akhir ke kota solo. Perjalanan tersebut merupakan liburan semester waktu kuliah di bandung. Jalan yang masih rusak adalah antara ciwedey sampai cidaun tapi cidaun hingga pangandaran jalannya lumayan bagus. Yang rusak kebanyakan didaerah pantai selatan tasikmalaya kerena banyaknya truk pengangkut pasir biji besi. Cidaun hingga pangandaran jalannya cukup lebar bahkan sudah banyak yang dihotmix cuma jalan yang sempit antara adipala cilacap hingga bantul maklum jalannya warisan penjajah. Yang menjadi obsesi saya adalah antara jogjakarta hingga banyuwangi tapi jalannya masih terputus di lorok pacitan untuk lorok hingga banyuwangi masih dikerjakan dan belum kelar 100% tapi antara jogjakarta hingga lorok pacitan jalannya sudah mulus dan berhotmix dan jalan ini baru diresmikan oleh SBY adapun jarak antara lorok ke pacitan ± 30 km.
    Saya paling terkenang dgn lingkar selatan jawa barat , lingkar selatan jawa tengah, lingkar selatan Jogjakarta dan jalan lingkar selatan jawa timur yang selalu disuguhi dgn pemandangan alam pantainya yang eksotik, pemandangan goa, hutan dan penduduknya yang ramah. Obsesi saya berikutnya adalah lingkar selatan jawa barat mulai dari ujung genteng hingga lingkar selatan jawa timur tepatnya sampai ke banyuwangi. Trim’s buat kang Dadan Wahyudin atas pengalamannya melintasi jalur selatan jawa barat, kapan jalan2nya sampai ke jawa timur ….?

    • unsur s2 says:

      wah, pengalaman pa endang cukup luar biasa …. dapat dicoba rute dari Anyer-Malingping-Sukabumi-Ujunggenteng_cidaun_pangandaran, cilacap, jogja, pacitan hingga Banyuwangi via jalur selatan akan menjadi petualangan yg mengesankan… terima kasih sudah turut menyimak. salam dadan wahyudin

  10. Najmi says:

    sy dengan anak2 liburan sekolah ini mau jalan2 ke pantai Batu Karas via Ciwidey Cidaun Ranca Buaya Pamengpek Cipatujah terus ke Batu Karas, kira ada yang tahu engga kondisi jalan saat ini ? jika ada yg tahu mohon di email ke alamat di atas, soalnya 2 tahun yg lalu kami pernah lewat jalannya banyak yg rusak.

    Terimakasih wassalam Najmi Nurul Ardhi

  11. Endang Gumelar says:

    Maaf kang Dadan ini baru komen lagi.
    Trima kasih atas ajakannya route pantai Anyer, Malingping, Ujung Genteng, Cidaun, Pangandaran, Pantai Pacitan, kapan=kapan saya akan coba. Saya minta info jalur dari Cidaun sampai pantai Anyer kondisi jalan saat ini sudah baik belum. Untuk JLS Jawa Timur sampai saat ini yang baik adalah antara Kecamatan Munjungan Trenggalek – Pantai Pacitan sampai Wilayah Selatan Jogjakarta, untuk JLS Selatan Trenggalek sampai ke Banyuwangi saat ini masih pembebasan lahan terutama pembebasan lahan milik Perhutani, kalau milik warga sepertinya sudah beres toh warganya juga senang kalau wilayahnya sudah dibuatkan jalan dan akses untuk mereka menjadi lancar terutama untuk menjual hasil bumi.
    Untuk Kang Najmi untuk jalur Cidaun hingga Batu Karas jalannya waktu tahun 2011 mulus dengan cenderung jalannya dihotmix mulai dari Cidaun sampai pantai Cipatujah Tasikmalaya, dari pantai Cipatujah sampai Batu Karas cenderung dicor dan berlubang karena adanya penambangan pasir biji besi jadi banyak dump truk yang berlalu lalang, tetapi setelah memasuki wilayah Ciamis jalan sudah berhotmix kembali dan cenderung lebar dan mulus. Mudah-mudahan ditahun 2016 jalan dari Ciwedey sampai Pangandaraan sudah mulus semua, karena JLS Jabar sudah di komitmen oleh Gubernur Jawa Barat agar wilayah Pakidul akses jalan sudah lancar dan hasil bumi dapat dipasarkan dengan lancar dan menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung di JLS Jabar.

Leave a Reply to Najmi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>