Feature: Mengunjungi Situs Megalit Terbesar Asia Tenggara dan Kilau Emas di Karyamukti

 

 

KKL Sastra dan Budaya Nusantara Semester 2 [2011/2012

STUDI LAPANGAN mata kuliah Sastra dan Budaya Nusantara Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (S2) Universitas Suryakancana Cianjur kali ini dibagi dua lokasi. Untuk mahasiswa semester satu melakukan kunjungan ke Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya dan Ciungwanara di Ciamis hari Rabu-Kamis, 4-5 Januari 2012. Adapun semester dua mengambil lokasi di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka kabupaten Cianjur. Kegiatan ini dilaksanakan satu hari sebelum semester satu, hari Selasa-Rabu, 3-4 Januari 2012. Rombongan didampingi Sekretaris Prodi, Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd diterima oleh aparat desa Karyamukti di Baledesa.

Melewati stasiun legendaris

Perjalanan menuju desa Karyamukti Campaka, meskipun tak jauh dari kampus Suryakancana namun tak kalah mengesankan dan eksotis. Desa cantik dibentengi puluhan bukit dan lembah ini cukup ditempuh 35 km ke arah Sukabumi. Lalu  mengambil arah ke kiri menuju kecamatan Campaka dari kota Cianjur. Bila dihitung dari ibukota propinsi maka jaraknya 95 km dan sekitar 145 km dari ibukota Jakarta.

Hamparan kebun téh hijau menghimbau, berselang pohon sengon milik penduduk membuat perjalanan menyusuri jalan penuh kelokan ini tak terasa lelah. Sesekali tampak aktivitas penduduk di ladang bertanam palawija dan mengolah petak sawah sempit dihimpit deretan dua tebing curam. Juga pemandangan para pemetik teh bercengkrama, sembari menebar senyum optimis mewarnai perjalanan kami.

Perjalanan melalui Warungkondang ini akan melewati rel kereta api dengan stasiun legendaris, yaitu Lampegan. Di sini terdapat terowongan Lampegan sepanjang 630 m dibangun tahun 1879-1882. Terowongan ini dilanda erosi sehingga praktis jalur kereta api Sukabumi-Cianjur terhenti di tahun 2001. Ini satu dari lima terowongan kereta api yang cukup eksotis di Jawa Barat setelah terowongan Sasaksaat (Purwakarta), terowongan Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana di jalur Banjar-Pangandaran yang juga berhenti beroperasi sejak tahun 1982.

Nama Lampegan sendiri konon berasal saat kereta api dikemudikan tuan bule akan masuk terowongan, penduduk setempat mengingatkan dengan berteriak, “lampe tuan…lampe tuan” atau “lampu agan” (lampu tuan) maksudnya menyalakan lampu sehingga terhindar dari gelap gulita disergap pekatnya lorong terowongan. Namun kata yang familiar didengar penduduk adalah lampegan digunakan hingga kini. Sayangnya, kami tidak mengambil dokumentasi di sini.

Situs Megalit terbesar se-Asia Tenggara

Desa Karyamukti memiliki luas 1.864.230 ha. Di sebelah utara dengan kecamatan Cibeber, di selatan dengan kecamatan Sukanagara. Adapun di sebelah barat berbatasan dengan desa Cimenteng dan desa Wangun Jaya di sebelah timurnya. Desa memiliki kantor desa di Babakanlapang ini terletak di ketinggian 825-1200 mdpl dengan curah hujan 3333 mm/tahun,

Secara administratif, desa Karyamukti memiliki 33 RT, 9 RW  dan 4 Dusun. Karena topografi berbukit-bukit, tak salah nama empat dusun pun bernuansa pegunungan, yaitu Dusun Gunung Mas, Dusun  Gunung Sari, Dusun Gunung Malati dan Dusun Gunung Padang. Nama dusun terakhir kini mulai kesohor di kalangan arkeolog, geologi, budayawan, maupun wisata sejarah karena terdapat situs Megalit yang konon merupakan terbesar di Asia Tenggara.

Situs megalit Gunung Padang terletak 6 km dari Babakanlapang lokasi Balai Desa Karyamukti. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan pribadi. Mobil pribradi  bisa langsung ke pintu gerbang. Akan tetapi bila musim hujan, jalan berbatu menjadi licin. Namun jangan takut,  tempat parkir sebelum gerbang terletak begitu masuk kampung tersedia.

Anda harus melewati batuan andesit hampir 400 anak tangga dengan sudut elevasi cukup curam, namun kini sudah dibuat tangga dari beton yang dibuat melingkar sehingga agak landai. Namun tak urung, ketinggian sekitar 90 meter dari gerbang membuat dada sesak dan melelahkan. Beberapa kali kami beristirahat menahan nafas, sembari memandang kebun téh di sekelilingnya.

Tatkala tiba di puncak, hamparan batu yang konon berusia 1500-2500 tahun silam terhampar berserakan. Batu-batu tersusun menyerupai ruang-ruang. Bahkan ada menyerupai lengkap dengan alat-alat musik Sunda seperti: bonang dan kecapi. Batu-batu itu terhujam kuat.

Melihat posisi batu ini mengingatkan kita pada bangunan megalit serupa Stonehenge di Inggris atau kompleks Machu Picchu di Peru berada di puncak bukit yang tinggi. Menurut Pak Dedi, petugas yang menjaga situs ini, Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda: N.J. Krom tahun 1914, namun belum ditindaklanjuti.

situs gunung padang campaka

 Tatkala ada penebangan kayu di lokasi ini, bukit pun gundul, onggokan bebatuan pun terlihat dan oleh penduduk dilaporkan kepada pemerintah daerah setempat tahun 1979. Gerbang dan bangunan pun dibangun di bekas rumah milik Pak Dedi yang dibeli Pemda. Masih menurut cerita Pak Dedi, bahwa situs ini kemungkinan  dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad XV, dengan menggunakan batu-batu berusia 1500 tahun. Menurut para ahli, relevansi ini dibuktikan ada guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu, sebagai ciri khas era ini.

Namun ada pendapat lain menyatakan bahwa kebudayaan megalit erat kaitannya dengan Kebudayaan Dongson (500 SM) di Vietnam dan Asia Tenggara. Bila mengacu pada pendapat ini, maka situs ini diprediksi telah ada  hampir 2500 tahun silam.

Situs ini diyakini sebagai tempat pemujaan kepada Sang Penguasa Alam dipercaya bermukim di Gunung Gede. Hal ini dibuktikan bahwa kelima teras 1-5 selalu diarahkan ke Gunung Gede.

Gerimis turun tak menghalangi menikmati eksotisme   situs ini. Perjalanan melelahkan seakan terbayar sudah oleh kepuasan menikmati panorama di atas bukit ini.  Keanggunan Gunung Gede Pangrango berselubung awan putih dari kejauhan dapat kami tumpahkan di sini.  Begitupula punggungan bukit berselang lembah dan deretan “babakan” (perkampungan) rumah penduduk sebagian masih berbentuk rumah panggung dapat menjadi penawar rasa pegal selepas mendaki anak tangga.  Benar-benar menakjubkan.

Senja merambat. Kabut pekat (halimun) perlahan membungkus areal situs, membuat kami beringsut untuk turun. Saat melepas istirahat, tampak Pak Dedi, petugas yang menerima rombongan tadi, tak sengaja melewat di sehabis masa dinasnya, tak dilewatkan untuk diajak berdiskusi. Pak Dedi memiliki koleksi buku-buku tentang situs gunung padang, termasuk “kidung” Siliwangi. Sayangnya acara mendadak dan kondisi beranjak senja, buku “Kidung Siliwangi” sulit dicari.

 Kilau emas di desa Karyamukti

Desa Karyamukti termasuk desa agraris di mana mata pencaharian penduduknya sebagai petani, sebagian lagi menyambi beternak dan bekerja di kebun téh. Wanita dewasa umumnya bekerja sebagai pemetik téh.

Mata pencaharian termasuk satu poin budaya, yang menarik di Karyamukti banyaknya penduduk bermata pencaharian penambang batu emas. Bunyi tumbukan batu dan bangunan pengolah batu emas disebut gulundung atau rental banyak dijumpai di daerah ini. Tua, muda, pria wanita, tampak bekerja memecahkan batu diyakini mengandung emas ini di pelataran rumah masing-masing.

Perut bumi desa Karyamukti kaya emas. Untuk mendapatkan batu ini, penduduk menambang dengan cara masuk ke lorong bawah tanah sedalam 70-100 meter ke bawah tanah secara vertikal dan 60-100 m horizontal dan berliku mirip lubang tikus.

seorang mahasiswa dan tokoh masyarakat

Batu ditambang secara manual menggunakan tatah. Sebelumnya, mereka membawa perbekalan logistik dan blower untuk sirkulasi oksigen dan kegerahan selama satu dua hari di dalam tanah. Ada beberapa daerah penambangan emas di desa Karyamukti, baik penambangan umum maupun dikelola perusahaan.

Penduduk dapat pula bekerja dengan perusahaan dengan sistem bagi-hasil batu diperoleh. Batu-batu ini dapat diolah di mesin pengolahan emas baik dengan cara menyewa atau milik sendiri. Sebelumnya batu-batu ini dipecahkan secara manual sebesar batu split, kemudian dimasukan ke mesin rental selama 12 jam bersama wik dan dipijit untuk mendapatkan bijih emas.

Bijih emas awalnya berwarna putih menjadi kuning berkilau setelah dibakar. Lazimnya orang berusaha, adakalanya kandungan emasnya tinggi, kadang sedikit, bahkan ada pula yang “nyabok” (tak ada bijih emas  sedikitpun).

Tradisi dan budaya

Sebagaimana desa-desa di Kabupaten Cianjur, tradisi dan budaya Sunda buhun masih terjaga, meskipun ada pengaruh modernitas dan globalisasi. Dinamika penduduk terutama penambang emas, sebagian berasal dari penduduk luar mewarnai akulturasi budaya dan dialek bahasa.

Peserta studi lapangan mencoba mendapatkan data dengan mendatangi tokoh, sesepuh dan praktisi berkaitan dengan unsur budaya dan sastra yang ada di daerah ini. Termasuk mencoba mencari data  adat ritual berikut “parancah” atau “jangjawokan” (jampe) masih digunakan dalam menyembuhkan orang sakit, bercocok tanam, memanen, membangun rumah, atau hajatan. Namun beberapa “parancah” atau “jangjawokan” sudah diselaraskan dengan kehidupan religius mayoritas muslim penduduknya diganti  shalawat berisi puji dan doa.  Begitu pula tukang sawer, beluk, kuncen, atau paraji yang masih melestarikan teks lisan kidung, tembang, jampe, tak luput menjadi bidikan peserta studi lapangan.  Atau lantunan dilakukan ibu-ibu dalam “marende” bayinya.

Peserta studi lapangan berkesempatan mendengarkan paparan tentang  kisah Kerajaan Sunda yang bermula di Jampangmanggu (Cikalong), Silsilah Cikundul, hingga Kerajaan Pajajaran dan tokoh raja-rajanya.  Acara ini bertepatan dengan pengajian rutin diadakan warga setempat di malam harinya.

Esoknya dilanjutkan ke penambangan emas untuk mencari pengayaan data kehidupan dialami penambang baik pahit getir maupun kebahagiaan diperoleh.  Ada pesan kehidupan  dibalik lubang mengangga dan dalam itu, yaitu spirit luar biasa untuk terus bersemangat mencari “maisyah” (nafkah) sebagai wujud tanggung jawab kepala keluarga menafkahi keluarganya.  Mereka berjuang bertaruh nyawa dalam celah sempit, pengap, gelap, dan mengangga sehingga diperlukan keberanian, kesabaran dan kerjasama tim demi mencari bongkahan bijih emas yang kadangkala hasilnya tak sesuai harapan.  Meski demikian, tak menyurutkan tekad dan semangat untuk berusaha.

prof. yus, memberi evaluasi di akhir KKL

Di akhir kegiatan, Peserta studi lapangan mendapat pengayaan materi sastra dan budaya Sunda dari Bapak Prof. Dr. H. Yus Rusyana yang sengaja datang ke lokasi sekaligus memberi evaluasi kegiatan. Meski pengambilan data secara berkelompok, laporan dibuat masing-masing. Laporan ini dapat memperkaya  budaya dan sastra Sunda, khususnya di “wewengkon” Kabupaten Cianjur sebagai salah satu barometer budaya Sunda di tatar Pasundan. *** [Dadan Wahyudin, peserta KKL Campaka]

Cari Artikel Sejenis:

Studi Lapangan Sastra dan Budaya Nusantara Kampung Naga & Situs Karangkamulyan

Studi Lapangan Sastra dan Budaya Nusantara 2012 Karyamukti Campaka

This entry was posted in Pesona Cianjur. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>