Ajip Rosidi: Pemerintah Berkepala Batu

REKTOR Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat menerima penghargaan Sastra Rancage 2013 dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi yang didampingi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas (kiri) di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (4/6).

DIPATIUKUR (GM) – Yayasan Kebudayaan Rancage kembali menganugerahkan hadiah Sastra Rancage 2013 kepada tujuh sastrawan yang menulis buku dengan bahasa daerah. Penghargaan kali ini cukup istimewa karena merupakan penghargaan ke-25 yang diberikan Rancage secara terus-menerus tanpa terputus.

Tujuh penghargaan ini terbagi dalam karya dan bahasa Sunda, karya dan bahasa Jawa, karya dan bahasa Bali, serta penghargaan Samsudi, yakni penghargaan karya sastra Sunda anak-anak. Untuk karya sastra dalam bahasa Sunda diberikan kepada Deni A. Fajar (Lagu Padungdung, kumpulan sajak) dan Prof. Dr. Ganjar Kurnia (jasa). Penghargaan karya sastra Jawa kepada Khrisna Mihardja (Prastisara, kumpulan cerpen) dan J.F.X. Hoery (jasa). Penghargaan sastra Bali diberikan kepada I Made Sugianto (Sentana, roman pendek) dan I Nyiman Suprapta (jasa).

Sedangkan untuk penghargaan Samsudi diberikan kepada Elin Sjamsuri dengan karyanya, Dongeng Aki Guru. Penghargaan diberikan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur, Selasa (4/6).

Menurut Ketua Dewan Pembina Rancage, Ajip Rosidi, untuk sastra Sunda, panitia menyeleksi 38 buku yang terbit pada tahun 2012. Sedangkan untuk sastra Jawa diseleksi 27 judul buku dan delapan buku untuk sastra Bali. Sedangkan untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda disaring dari 10 judul buku yang terbit pada 2012. Namun empat di antaranya tidak dinilai karena merupakan cetak ulang.

Selain mendapat piagam, para penerima penghargaan juga menerima uang sebesar Rp 5 juta.

Kecewa

Pada kesempatan itu, Ajip kembali melontarkan kekecewaannya terhadap pemerintah yang tidak memasukkan bahasa ibu dalam Kurikulum 2013. Menurut Ajip, hal itu telah merampas hak anak didik untuk mewarisi bahasa dan kebudayaan leluhurnya.

“Dengan sikap kepala batu menolak dimasukkannya bahasa ibu ke Kurikulum 2013. Alasannya, itu wewenang pemerintah daerah. Pemerintah bukan hanya tidak mau aktif memelihara kebudayaan daerah, tetapi juga telah merampas hak anak. Anak didik kian dijauhkan dari bahasa dan kebudayaan warisan nenek moyangnya, yang dalam UUD diakui sebagai kekayaan budaya nasional,” tegas Ajip.

Perlu diketahui, penghargaan Rancage telah diberikan sejak 1989. Pemberian anugerah dilakukan setiap tahun bagi karya sastra bahasa daerah tanpa terputus hingga 2013. Sedangkan penghargaan Samsudi diberikan sejak 1993. Namun pada 1997-2001, 2005, 2007, dan 2010 sempat tidak diberikan karena tidak ada buku yang dianggap pantas untuk menerimanya. (B.98)**

Sumber berita : HU Galamedia

This entry was posted in Berita Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>