Singgah di Patilasan Ratu Palabuhanratu

Tepat di Teluk Palabuhanratu, Tempat Pelelangan  Ikan/Dermaga Palabuhanratu

Laporan perjalanan;  dadan wahyudin | Minggu, 26 Mei 2013 pk. 04.30

Palabuhanratu  terbilang menarik.  Sebagai satu-satunya ibukota setingkat kabupaten di provinsi Jawa Barat berada di pantai Selatan atau pakidulan.  Status ini bakal ditemani  oleh Parigi (sebagai calon ibukota kabupaten Pangandaran, sesuai UU Nomor 21 Tahun 2012) tentang dasar hukum pembentukan kabupaten kesohor wisata pantainya hingga tujuan kunjungan turis mancanegara tsb. Kota Palabuhanratu terlewati oleh penulis saat  mendampingi  rombongan mahasiswa pascasarjana PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur saat Penelitian Sosiolinguistik ke Desa Cikahuripan, Cisolok, Kab. Sukabumi. (baca link beritanya: Sosiolinguistik 2013)

Palabuhanratu merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi yang berada tepat di  Teluk Palabuhanratu.   Teluk Palabuhanratu dikenal  teluk terbesar di pantai selatan pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Teluk  ini memiliki  garis pantai sepanjang 105 km. Di sini berlabuh  empat aliran sungai besar, yakni Sungai Cimandiri, Sungai Cibareno, Sungai Cilentuk, dan Sungai Cikanteh.  Di masa pemerintah kolonial,  daerah ini dikenal dengan nama Wijnkoops-baai atau Queen Harbour dalam bahasa Inggris.

Kota Legenda 

Kota Palabuhanratu memiliki legenda kental dengan Ratu Laut Selatan atau Nyai Loro Kidul sebagai penguasa laut selatan.  Legenda berkembang di masyarakat, syahdan di Priangan  pernah berkuasa raja mashyur  Prabu Siliwangi.  Raja memiliki putri bernama  Putri Lara Kandita. Kehadiran putri jelita  ini  tak disukai selir-selirnya,  sehingga mereka berbagai cara menganggu kehidupan permaisuri dan putrinya.  Wajah permaisuri dan putrinya dibuat  buruk dan  mengerikan.  Raja pun mengusirnya.

Dalam pengembaraan, permaisuri akhirnya meninggal. Maka  tinggallah Putri Lara Kadita sebatang kara. Rasa lapar yang sangat membuat sang putri jatuh pingsan.  Pada saat siuman, sang putri  mendengar suara yang menarik perhatian dirinya.  Bunyi itu tak lain deburan ombak susul-menyusul. Energi yang ditunjukkan oleh ombak tiada henti, memotivasi dirinya untuk bangkit.

Pantai Karanghawu, tempat sang putri menenggelamkan diri

Pantai Karanghawu,  patilasan  sang putri menenggelamkan diri

Sang putri pun mencoba menikmati panorama menakjubkan.  Duduk seraya memandang cakrawala nan luas. Tempat bertemunya laut dan kaki langit.  Kilau biru laksana safir nan elok sejauh mata memandang. Patilasan atau tempat duduk itu diyakini masyarakat berada di Pantai Karanghawu, Cisolok (10 km arah barat Palabuhanratu), di mana penulis berhasil mengambil gambar.  Semilir angin dan pesona keindahan lautan luar biasa melelapkan sang putri hingga bermimpi.  Kecantikan bakal sediakala manakala  mau menenggelamkan diri ke laut.

Putri pun terjaga.  Berdasarkan petunjak dalam mimpinya, seketika ia menceburkan diri  ke dalam laut.  Sungguh luar biasa. Wajahnya berubah tiba-tiba.  Berparas jelita.  Sejak saat itulah, Putri Lara Kandita menjadi penguasa sebagai Ratu Laut Selatan  bergelar “Nyai Loro Kidul”.

Legenda Nyi Loro Kidul  sangat kental bagi masyarakat pulau Jawa, terutama yang tinggal  di pakidulan.  Masyarakat Palabuhanratu menetapkan setiap tanggal 6 April dijadikan  sebagai Hari Nelayan.  Pada hari ini, nelayan menggelar “Pesta Laut”  atau Labuh Saji  agar Tuhan  memberikan berkah dan perlindungan.  Di Cikahuripan, Cisolok nelayan setempat menggelar “Syukuran Laut” setiap musim panen ikan.

Bertemu  Ratu Jambal, Pak Untung (memegang ikan asin jambal) juragan ikan asin di Palabuhanratu

Kepercayaan akan legenda “Nyai Loro Kidul” ditandai dengan kehadiran Kamar 308 Hotel Inna Samudra Beach  Pelabuhanratu.  Hotel kesohor hingga mancanegara ini terletak 7 km dari Palabuhanratu. Di kamar ini, pihak hotel   menyediakan  ruangan khusus untuk  menyimpan berbagai koleksi  berkaitan dengan legenda Nyai Loro Kidul.  Di samping itu  mengoleksi  sejumlah pemberian  aneka lukisan maupun pernik perhiasan  para pengunjung domestik maupun luar.

Tak pelak, penggunaan kata ratu amat akrab di sini.  Kata ratu menjadi ikon kota kecil di bawah kaki Gn. Butak  yang digunakan untuk berbagai nama di sini.  Tak terkecuali toko menyediakan oleh-oleh khas Palabuhanratu berupa aneka   ikan asin jambal  dan pindang tongkol berlokasi di dalam Tempat Pelelangan Ikan Palabuhanratu menggunakan nama “RATU JAMBAL” bukan “RAJA”.  “RATU JAMBAL” penguasanya adalah seorang pria,  Pak Untung.  Toko itu berhasil disambangi kami untuk mengoleksi buah tangan khas kota Ratu. ***

Baca artikel utama terkait postingan ini : Mahasiswa Magister UNSUR dan UPI Bandung Kunjungi Desa Cikahuripan Cosolok Sukabumi

This entry was posted in Pesona Cianjur and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Singgah di Patilasan Ratu Palabuhanratu

  1. boris says:

    wah asyik tuh liburannya :)
    terima kasih infonya :)

  2. Pingback: harvey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>