Rabun Bahasa, Budaya, dan Pendidikan

Seni Cianjuran merupakan  keanekaragamanseni dan  budaya di tanah air   (ilustrasi admin)

Oleh : TEDDI MUHTADIN
PADAmulanya bahasa diciptakan manusia. Selanjutnya, bahasalah yang menciptakan manusia. Keyakinan yang dianut kaum pascastrukturalis ini menjadi penting untuk kita renungkan saat ini. Ketika banyak orang melontarkan ketidaksetujuannya atas Kurikulum 2013 yang sama sekali tidak secara eksplisit mencantumkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran.Bahasa, selama ini, diyakini sebagai alat komunikasi yang paling efektif yang pernah diciptakan oleh manusia. Namun, dalam perkembangannya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi gudang penyimpanan pengetahuan budaya. Bahasa Sunda, contohnya, adalah gudang penyimpanan budaya Sunda, bahasa Jawa adalah gudang penyimpanan budaya Jawa, bahasa Bugis adalah gudang penyimpanan budaya Bugis, dan seterusnya.

Tak akan pernah ada satu bahasa pun yang dapat menjadi gudang yang baik untuk menyimpan budaya lain, karena bahasa diciptakan dalam budaya. Menyimpan budaya tertentu tidak dalam bahasanya memerlukan banyak penyesuaian, yang justru sering kali menyebabkan timbulnya kesalahpahaman. Contoh paling baru adalah menafsirkan akhir kurun penanggalan Suku Maya sebagai hari kiamat. Satu hal yang memalukan dan menyesatkan. Ini terjadi karena dalam benak penafsir tidak dikenal akhir dari satu kurun waktu.

Pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia menyebabkan pula tak ada manusia yang bisa terlepas dari bahasa. Sehingga pengetahuan manusia mengenai kenyataan mau tidak mau ditentukan oleh bahasa. Dengan begitu, sebenarnya bahasalah yang mengajari manusia dalam melihat, mendengar, merasa, atau berpikir. Pendek kata, bahasalah yang memediasi manusia ketika berhubungan dengan kenyataan.

Apa yang diangankan manusia Sunda dalam menyelesaikan suatu konflik, misalnya, dapat dilihat dari peribahasa yang dimunculkannya, caina hirang, laukna beunang. Artinya, masalah diatasi dengan tertib tanpa merusak. Apa yang diangankan manusia Sunda tentang pemimpin yang tegas, dapat dipahami dari peribahasa sacangreud pageuh, sagolik pangkik. Atau, apa yang diangankan manusia Sunda tentang hidup bermasyarakat, nampak dari pemeo silih asal, silih asih, silih asuh.

Orang Sunda menganggap kesehatan lebih utama dari pada kebaikan, kebenaran, dan kepintaran. Hal ini nampak dari pemeo cageur, bageur, bener, pinter. Atau pada sapaan, “Kumaha damang?” Bandingkan dengan sapaan bahasa Melayu yang lebih mengutamakan pentingnya informasi, “Apa kabar?”

Dalam catatan sejarah akan dijumpai bahwa penguasaan satu bangsa terhadap bangsa lainnya selalu melibatkan penguasaan terhadap bahasanya. Contoh, untuk menguasai tanah jajahan yang kini bernama Indonesia, pemerintah Kolonial Belanda tidak hanya mengerahkan tentara, para insinyur, ahli-ahli administrasi, namun juga para antropolog dan lingius. Merekalah yang dipercaya mampu mengerti budaya pribumi dan berusaha mengarahkan budaya tersebut sesuai dengan arah kebijakan yang mereka inginkan. Nama besar seperti H. Neubronner van der Tuuk atau Christian Scouck Hurgronje berada pada posisi ini.

Mereka menjadi bagian dari mesin kekuasaan Kolonial. Mereka menunaikan tugas tersebut dengan cara melakukan penelitian terhadap bahasa dan kehidupan bangsa-bangsa di Nusantara. Dan, mereka menginterpretasikan serta menyajikannya untuk kepentingan kaum kolonial. Pada masa ini kamus bahasa-bahasa Nusantara disusun, aksara Latin diperkenalkan, mesin cetak dihidupkan, dan buku-buku dilahirkan.

Potensi bahasa

Ketika usaha menuju ke arah kemerdekaan mulai dirintis, para pendiri bangsa menyadari potensi bahasa dan budaya daerah ini. Dalam ikrar sumpah pemuda, misalnya, disepakati bahwa penting bagi bangsa Indonesia adanya bahasa persataun yaitu bahasa Indonesia. Begitu pun dalan UUD 1945, secara eksplisit disebutkan bahwa bahasa-bahasa daerah dilindungi oleh negara. Keragaman bahasa dan budaya ini dengan sangat indah dirangkum dalam satu suluk negara, bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi satu jua.

Oleh karena itu, bahasa daerah menjadi penting untuk diajarkan kepada para siswa sebagai generasi baru. Bukankah pendidikan itu adalah pewarisan budaya? Jika pendidikan adalah pewarisan budaya maka budaya daerahlah semestinya diutamakan. Baru kemudian budaya lain yang diperlukan untuk mengembangkan potensi diri. Bukankah kebudayaan Idonesia adalah kebudayaan-kebudayaan daerah.

Akan tetapi, bertolak belakang dengan cara berpikir ini, kini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat kebijakan lain. Dari lembaga ini muncul kurikulum 2013 yang sama sekali tidak mencantumkan bahasa daerah. Seolah-olah keragaman bahasa dan budaya di Indonesia ini bukannya berkah, tetapi beban yang harus disingkirkan. Lembaga yang seharusnya berada paling depan dalam perlindungan bahasa dan budaya daerah yang menjadi sumber kekayaan budaya Indonesia justru melakukan hal yang sebaliknya.

Jika hal ini ditambah dengan proses penyusunan kurikulum tersebut yang tanpa mengevaluasi kurikulum sebelumnya dan tanpa naskah akdemik yang melandasi dasar filosifisnya, jangan-jangan lembaga ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, bukan hanya rabun terhadap kekayaan budaya, namun juga abai terhadap prinsip pendidikan. ***

(Penulis adalah Ketua Program Studi Sastra Sunda Unpad)**
Sumber dikutip dari: HU Galamedia
This entry was posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>