Haurwangi: Sepenggal Jalan Raya Pos ‘Daendels’ yang Hilang

   Citra satelit:  tinta merah, sepenggal jalan Daendels yang  semakin dilupakan orang

Sepulang menghadiri kuliah umum dari Menegkop dan UKM di Kampus UNSUR Cianjur, penulis sengaja mengambil jalan memutar ke arah jembatan Citarum Lama. Sudah lama menggelitik penulis, untuk bisa mengeksplorasi ke dalam tulisan.  Tulisan ini diapresiasi oleh Kompasiana dengan masuk Headlines (HL) Rabu malam (7/11).

Jalan Raya Pos  (Groote Postweg) dibuat saat Gubernur Jenderal Herman Willems Daendels berkuasa (1808-1811) diyakini sebagai jalan raya pertama dibangun di tanah air.  Jalan itu bermula dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) sekitar 1.000 km.  Umumnya Jalan Raya Pos  banyak yang telah menjadi jantung kota di berbagai kota dilewatinya. Sehingga keaslian wilayah sekitarnya telah banyak berubah.  Di Bandung contohnya, Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika hingga Jalan Ahmad Yani telah menjadi jalan protokol  dan pusat bisnis yang prestisius.

 Tetapi Jalan Raya Pos antara pertigaan kampung Cipetir Haurwangi dengan Rajamandala justru semakin dilupakan orang.  Tetap asli.  Generasi muda yang bolak-balik berkunjung ke Cianjur dan Bandung, kalau tidak menyengajakan diri berkunjung, takkan pernah tahu bahwa di daerah tsb  jalan dan jembatan  menyimpan histori cukup tua sebagai “cikal bakal” tumbuhnya  jalan-jalan yang ada  di tanah air.

 

Jembatan Cihea, Haurwangi

 Panjang jalan ini berdasarkan spidometer yang dicatat penulis 6,8 km.  Kondisi jalan masih terpelihara baik. Bahkan menjelang jembatan Citarum Lama sudah dibeton.  Tepi kiri jalan dari arah Cianjur adalah ngarai sungai Citarum cukup lebar dan dalam.  Kesejukan diperoleh dari banyaknya pepohonan yang menyertai perjalananan tsb.

Pemandangan di sungai Cihea sungguh menakjubkan.  Jembatan Citarum lama terletak di dataran tinggi di antara pepohonan hijau dapat disaksikan di sini.   Sungai Cihea yang mengalir membelah kampun Cihea dengan air cukup deras menabrak bebatuan digunakan untuk mandi dan berenang anak-anak.

 

Jembatan Citarum Lama di Kampung Muhara, Haurwangi, Cianjur

 Dari kampung Cihea, penulis melanjutkan menuju kampung Muhara.  Beberapa remaja asyik memandang aliran sungai Citarum yang sedang surut.  Air mengalir deras. Warnanya kehijauan.  Hal ini berbeda bila di musim hujan. Debit airnya tinggi. Sementara lajunya amat lambat (ngeyeumbeu).  warnanya pun coklat karena membawa lumpur dari hulu

Menurut penduduk setempat, jembatan yang sekarang ada dibangun tahun 1986.  Pembangunan jembatan ini menggantikan jembatan lama yang rusak. Pembangunan jembatan ini dilaksanakan setelah pembangunan jembatan tol Citarum Rajamandala selesai di tahun 1979.  Pondasi jembatan lama masih terlihat yang letaknya berada di bawah jembatan sekarang.

Di saat kemarau, saat airnya surut,  banyak ikan-ikan patin yang kabur dari kolam penduduk atau sudah lama menjadi hewan endemik habitat Citarum ramai-ramai berenang ke hulu.  Bagi mereka berhasil menangkap merupakan anugrah, ikan ini beratnya cukup lumayan 5 kg bahkan 10 kg.


Jembatan Citarum Lama dilihat di Kampung Cihea, Haurwangi. Tampak Anak-anak sedang mandi.

 Sejak jalan tol Citarum Rajamandala selesai, tak banyak pengendara yang lewat jalur ini.  Jalurnya memutar, sepi, jembatannya agak kecil, sehingga jalan ini tidak praktis dilalui.  Tak heran, histori jalan raya pos ini kurang  dikenali oleh generasi muda.

Namun bagi peminat cagar budaya, jalan heritage ini mendapat tempat tersendiri. Buktinya, saat penulis tiba di jembatan Citarum lama, ada rombongan turis luar negeri mencari tahu dan mendokumentasikan jalan dan jembatan ini. Sayangnya mobil travel keburu menjemput.  Bagi tidak berkendaraan,  ada angkutan melayani daerah ini, yaitu angdes Ciranjang-Rajamandala bisa mengantarkan persis di lokasi ini.

 Semakin langka dilalui, semakin bernilai historinya.  Bila kereta api memiliki “museum kereta api” menggunakan bekas rel tua di Sawahlunto dan Ambarawa, mungkinkah Binamarga memiliki “museum jalan raya” di sini.  Keaslian dan keasrian wilayah relatif terjaga dan saksi bisu “pioner” lahirnya jalan-jalan raya baru di tanah air.   [***Dadan Wahyudin]

This entry was posted in Pesona Cianjur and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Haurwangi: Sepenggal Jalan Raya Pos ‘Daendels’ yang Hilang

  1. baidu883 says:

    very good news,your are good boy!

  2. eddie says:

    trims infonya. saya kira jembatan rajamandala sekarang adalah jalan yang dulu

  3. deni sumpena says:

    sumpah … saya baru tahu melalui info ini. trims kang dadan atas laporan artikelnya …

  4. muh akrom says:

    wahh … jalan-jalan terus nih si akang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>