“Babad Cikundul” Suatu Karya Sastra Lama Bersifat Historis

Penulis (kelima dari kiri) berpose bersama Mrs. Frances B. Affandy (samping kanan penulis) di Aula FKIP Unsur Cianjur (ilustrasi admin)

  oleh : Yeni Suryani

Universitas Suryakancana Cianjur

Abstrak

Hal yang menjadi permasalahan pada uraian ini “Bagaimanakah tema pada babad Cikundul sehingga dapat dikelompokkan sebagai sastra lama yang bersifat historis?” Bertitik tolak dari permasalahan tersebut, uraian ini bertujuan mendeskripsikan tema historis “Babad Cikundul”, dengan asumsi bahwa tema yang bersifat sejarah mengandung: 1) penyebutan nama-nama tempat yang memang ada dalam pengertian geografis; 2) penyebutan nama-nama historis; 3) kandungan ceritan terutama merupakan silsilah suatu dinasti; 4) tahun terjadinya peristiwa tidak dinyatakan dengan jelas tetapi samar-samar; 5) adanya pembicaraan mengenai peristiwa-peristiwa yang bersifat kontemporer. Pendekatan yang digunakan adalah analisis struktural dengan metode deskriptif. Hasil kajian diperoleh simpulan bahwa pada babad Cikundul terdapat hal-hal yang mendukung tema sejarah. Kajian ini merupakan langkah awal untuk kajian-kajian selanjutnya terhadap sastra lama, misalnya tentang unsur lain dari babad atau nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kandungan nilai dapat dijadikan salah satu pertimbangan untuk bahan pembelajaran yang berorientasi pada pewarisan nilai, dengan tentunya dijembatani oleh kemasan model pembelajaran yang tepat dan menarik.

Kata kunci: babad, historis atau sejarah, tema, dan pendekatan struktural

 1. Pendahuluan

Istilah “babad” tentu tidak asing lagi terutama bagi mereka yang bergelut di bidang sastra. Tetapi tidak demikian ketika akan dipublikasikan dalam konteks penelitian misalnya. Suatu istilah membutuhkan batasan, ruang lingkup, atau indikator.

Batasan babad dapat kita temukan dalam beberapa referensi, satu di antaranya yaitu tercantum dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia (WS, 2009:132),

Babad ialah puisi kisahan berbahasa Jawa yang menyajikan rangkaian peristiwa sejarah Jawa dan cerita pahlawan dalam peperangan. Biasanya babad ditulis oleh pujangga-pujangga keraton yang isinya memuja kebesaran raja. Dengan maksud itu pula, babad juga berisi kesaktian raja yang kadang-kadang tidak rasional. Cerita-cerita di dalam babad bercampur antara kenyataan, mitos, dan kadang-kadang penh isyarat atau kiasan.

Batasan di atas mengelompokkan bentuk dan isi dari suatu babad. Babad ialah puisi kisahan atau cerita rekaan yang berbahasa daerah berisi tentang suatu daerah. Salah satu contoh babad yaitu Cikundul. Babad Cikundul berisi tentang daerah Cianjur dan disajikan dalam bentuk wawacan (puisi).

Berkenaan dengan bentuk formal, uraian ini tidak mengarah ke sana tetapi pada sajian bentuk struktural. Berdasarkan batasan di atas, bahwa babad menyajikan cerita sejarah, tetapi pada akhir batasan dikemukakan bahwa cerita-cerita dalam babad bercampur antara kenyataan, mitos, dan kadang-kadang penuh isyarat atau kiasan. Hal tersebut tidak berarti bahwa babad tidak mutlak berisi sejarah atau bersifat faktual.

Kupasan ini tidak akan mempertentangkan antara fakta atau fiktif, antara sejarah atau mitos, tetapi akan lebih terarah pada rumusan apabila sejarah maka indikator apa saja yang harus terpenuhi? Apakah indikator tersebut terpenuhi pula oleh “Babad Cikundul”?

Fang (1993:87) berpendapat dan berpresepsi tentang asal kata sejarah bahwa sejarah berasal dari syajarah yang dalam bahasa Arab berarti pohon. Sajarah al-nasab ialah pohon susur-galur. Satu istilah yang sering dipakai untuk pengertian sejarah ialah salasilah, silsilah. Dari istilah yang dipakai dapat ditarik kesimpulan bahwa silsilah, daftar keturunan, adalah intisari dari sastra sejarah.

Lebih lanjut Fang berpendapat bahwa silsilah sebagai intisari cerita sejarah telah dibuktikan oleh kajian yang dilakukan R. Roolving. Dengan demikian tepat apabila Rusyana (1983) mengatakan bahwa babad adalah cerita sejarah.

Adapun mengenai struktur, Fang (1993:88) mengatakan bahwa sastra sejarah biasanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah bagian yang bersifat mitos atau dongeng. Isinya menceritakan keadaan dahulu kala, asal mulanya raja-raja dalam negeri serta permulaan berlakunya adat istiadat dan sebagianya …… Bagian yang kedua adalah bagian yang historis, teristimewa kalau pengarang menceritakan masa hidupnya sendiri.

Dongeng ialah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh) (KBBI, 1996:241). Hal tersebut berarti dongeng ialah cerita fiktif.. Dengan demikian berarti pula meskipun dalam sastra sejarah berisi silsilah raja tetapi telah dikemas dengan hal yang bersifat imajinatif, fiktif atau rekaan.

Mengingat babad sebagai salah satu karya sastra lama, maka struktur yang dimaksud akan berorientasi pada karakteristik babad tersebut. Karena wujudnya wawacan, babad diidentikan dengan hikayat (Rosidi) dan berisi mitos atau dongeng (Fang).

Baried (1985) mengkaji struktur beberapa hikayat, berkesimpulan bahwa struktur hikayat terdiri dari tema dan masalah, motif, penokohan, latar, dan sudut pandang. Khusus berkenaan dengan hikayat bertema sejarah, ia mengemukakan ditonjolkannya hal yang mendukung tema yaitu 1) penyebutan nama-nama tempat yang memang ada dalam pengertian geografis; 2) penyebutan nama-nama historis; 3) kandungan cerita terutama merupakan silsilah suatu dinasti; 4) tahun terjadinya peristiwa tidak dinyatakan dengan jelas tetapi samar-samar; 5) adanya pembicaraan mengenai peristiwa-peristiwa yang bersifat kontemporer.

Berdasarkan uraian di atas, hal yang fokus pada permasalahan tulisan ini adalah mengupas tema permasalahan dalam “Babad Cikundul”. Hal tersebut terumuskan dengan “Bagaimanakah tema pada babad Cikundul sehingga dapat dikelompokkan sebagai sastra lama yang bersifat historis?”’

 Penulis (paling kiri) bersama narasumber semiloka IV, Mrs. Frances B. Affandy, Direktur Pascasarjana, Sekretaris prodi, di ruang dosen PBSI S2 UNSUR Cianjur [foto; Rudy Sy/pbsi s2]

Guna kepentingan uraian di atas, berikut dijelaskan terlebih dahulu berkenaan dengan tema atau permasalahan.’

Menurut Scharbach (Aminuddin, 2009: 91) “istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya”

Shipley (Rusyana, 1979:152) mengatakan bahwa tema adalah pokok perbincangan; perilaku atau gerakan yang mendasari; atau pokok umum, dan berkenaan dengan pokok tersebut cerita yang bersangkutan merupakan ilustrasinya. Berkenaan dengan dasar cerita ini, Kosasih (2003:223) mengungkapkan bahwa tema adalah inti atau ide dasar sebuah cerita.

Hal tersebut sejalan dengan Stanton dan Kenny (Nurgiyantoro, 2000: 25) tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Dari ide dasar itulah kemudian cerita dibangun oleh pengarangnya dengan memanfaatkan unsur-unsur intrinsik seperti plot, penokohan, dan latar. Sejalan dengan pedapat di atas, Baried (1985: 62) menyebutkan tema atau dasar itu adalah tujuan cerita. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tema bekerja sama dengan unsur lain menyampaikan amanat, dan tema dapat dilukiskan dengan satu kalimat saja. Sejalan dengan pendapat di atas, Sayuti (1996:118) memberikan pengertian sederhana tentang tema yaitu makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Lebih lanjut ia mengarahkan bahwa wujud tema dalam fiksi biasanya berpangkal pada alasan tindak atau motif tokoh.

Thomashevsky (Rusyana, 1979: 152) selain membatasi tema juga memandang peran tema tersebut dalam sebuah cerita, yaitu tema atau pikiran umum adalah dasar yang mempersatukan dalam struktur fiksi.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sudjiman (Christomy, 2003: 8) yang memandang pula peran keterjalinan tema dengan unsur lain dalam suatu teks.

Tema itu kadang-kadang didukung oleh pelukisan latar, dalam karya lain tersirat dalam lakuan tokoh atau dalam penokohan. Tema dapat menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur. Adakalanya gagasan itu begitu dominan sehingga menjadi kekuatan yang mempersatukan belbagai unsur yang bersama-sama membangun karya sastra, dan menjadi motif tindakan tokoh.

Masalah keterjalinan ini dikemukakan pula oleh Sayuti (1996:121) bahwa pengarang menciptakan dan membentuk plot, membawa tokohnya menjadi ada, baik secara sadar maupun tidak, eksplisit maupun implisit, pada dasarnya merupakan perilaku responsifnya terhadap tema yang telah dipilih dan telah mengarahkannya. Pendapat tersebut tentu saja akan berarti apabila pembaca mampu menjaring elemen atau unsur-unsur tersebut.

Mengenai isi masalah dari tema Stanton dan Kenny (Nurgiyantoro, 2000: 67), mengatakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.

Dengan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tema adalah inti atau makna yang terkandung dalam suatu cerita.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap novel-novel sunda, Rusyana (1979) mengelompokkan tema menjadi tujuh, yaitu tema sosial, egoik, spiritual,jasmaniah, moral, kekuatan siluman, dan perkawinan (campuran) beberapa tema. Sementara Nugiyantoro (2000: 77-84) mengklasifikasikan tema dalam tiga golongan, yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional, penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan dari tingkat keutamaannya.

Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Meskipun tema ini dianggap monoton tetapi bersifat universal.

Tasrif dalam Baried (1985) memberikan contoh tema tradisional sebagai berikut.

(1) Kejahatan awal, akhir-akhirnya akan dapat hukumannya

(2) Cinta terhadap tanah air lebih penting daripada harta benda atau kedudukan.

(3) Cinta akan meatasi segala kesulitan

(4) Jika orang sudah kehilangan semua, baru teringat kembali kepada Tuhan dan lain-lain (Tasrif dalam Baried, 1985: 62)

Hal tersebut seperti yang dicontohkan Nurgiyantoro (2000:77), sebagai berikut.

(i) kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan,

(ii) tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga,

(iii) tindak kebenaran atau kejahatan masing-masing akan memetik hasilnya (Jawa: becik ketitik ala ketara),

(iv) cinta sejati menuntut pengorbanan,

(v) kawan sejati adalah kawan di masa duka,

(vi) setelah menderita orang baru teringat Tuhan, atau

(vii) (seperti pepatah pantun) berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, dan sebagainya.

Suatu karya mungkin mengangkat masalah atau tema yang tidak lazim seperti di atas, itulah yang disebut tema yang bersifat nontradisional. Karena bersifat nontradisional, tema yang demikian mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan atau berbagai reaksi afektif yang lain.

Tema tingkatan menurut Shipley (Nurgiantoro, 2000:80-82) ada lima, yaitu 1) tingkat fisik, 2) tingkat organik, 3) tingkat sokial, 4) tingkat egoik, dan 5) tingkat devine. Hal tersebut sejalan dengan Sayuti (1996:122) ketika ia mengklasifikasikan jenis tema.

Tingkat pertama (man as molecul) lebih banyak menyaran atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas atau mobilitas fisik daripada kejiwaan; Pada tingkat kedua (man as protoplasm) lebih banyak menyangkut atau mempersoalkan seksualitas. Pada tingkat ketiga (man as socioun) mengungkap tentang kehidupan bermasyarakat yang banyak mengandung permasalahan; Tingkat keeempat (man as individualism) yaitu tema yang mengakat tentang individu yang mempunyai permasalahan dan konflik juga. Terakhir yaitu tema atau masalah hubungan manusia dengan sang pencipta, Rusyana mengistilahkan dengan spiritual.

Berdasarkan keutamaan, tema ada tema mayor (utama) dan tema minor (tambahan). Hal ini diklasifikasikan karena pada suatu cerita misalnya novel, tema mungkin lebih dari satu. Tema utama tersirat dalam sebagian besar cerita, sementara tema tambahan hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu saja dari sebuah cerita.

2. Babad Cikundul Bertema Sejarah

Babad Cikundul disajikan dalam bentuk wawacan berupa pupuh. Pupuh babad tersebut terdiri dari Asmarandana, Sinom, Pangkur, Dangdanggula, Kinanti, dan Pucung, dengan sejumlah pada dan padalisan.

Meskipun babad secara struktur memiliki beberapa unsur, akan tetapi hal yang mendukung pada pembahasan adalah tema.

2.1 Tema “Babad Cikundul”

Sebagai wawacan berjenis sejarah atau bersifat historis, “Babad Cikundul” (BC) mengandung hal-hal yang mendukung tema cerita. Sebagaimana dikemukakan pada bagian sebelumnya, tema cerita historis ditunjukkan dengan adanya penyebutan nama tempat yang memang ada dalam pengertian geografis, penyebutan nama-nama historis, kandungan cerita terutama merupakan silsilah suatu dinasti, tahun terjadinya peristiwa, dan peristiwa-peristiwa yang bersifat kontemporer.

Berdasarkan analisis terhadap BC, kelima hal tersebut yang tercantum sebagai berikut.

a) Penyebutan nama-nama tempat yang memang ada dalam pengertian geografis

Berdasarkan analisis dari 1.227 padalisan, 7 % atau 88 padalisan mengukapkan nama tempat, contoh:

1. dayeuhna di Banten Girang (Asm, 10:67) (kotanya di Banten Girang)

2. nagarana di Talaga (Asm, 11:77) (di negara Talaga)

Berdasarkan contoh di atas, terdapat nama daerah Banten Girang, Talaga, Ciburang, Surabaya, Rembang, Pati, Lasem, dan Juwana. Untuk nama dua tempat yang terakhir tampaknya tidak umum, selain itu pada contoh nomor 3 di atas, nama tempat melekat pada gelar sehingga diawali dengan kata “nelah”. Secara georafis tempat (nama gunung) tersebut nyata keberadaannya. Hal itu dapat dilihat pada peta, misalnya peta berikut.

Peta Cianjur dan sekitarnya

 

Gunung Gede, Cianjur

b) penyebutan nama-nama secara historis yang mungkin ada atau tidak (imajinasi).

Baik penyebutan nama tempat maupun nama orang, dalam cerita bertema sejarah mungkin ada nama yang benar-benar nyata keberadaannya, mungkin juga tidak. Keberadaan yang nyatapun perlu diuji kebenarannya apabila akan dijadikan fakta, karena babad tidak menyajikan fakta sejarah meskipun mungkin mengangkat dari realita sejarah. Babad adalah cerita fiktif. Nama tempat atau nama tokoh yang fiktif mungkin diungkapkan dengan nama yang aneh terdengar.

Contoh nama-nama tersebut dapat dilihat pada kutipan larik berikut:

ka Dalem Dipati Bandung (Asm. 3: 20) (kepada Dalem Dipati Bandung)
Kawit Prabu Siliwangi(Asm,9: 57) (Dimulai dengan Prabu Siliwangi)
Mundingsari katelahna (Asm, 9:60) (Namanya Mundingsari)

Berdasarkan analisis, kutipan yang berkenaan dengan nama terdapat 192 atau 16% padalisan (larik) BC mengangkat nama.

c) kandungan cerita yang bertema sejarah terutama merupakan silsilah

Cerita bertema sejarah biasanya diawali dengan riwayat pendirian suatu dinasti dalam suatu kerajaan, kemudian diikuti tentang putra-putrinya yang menjadi penguasa. Pada bagian inilah tergambar penanaman kelanggengan dinasti tersebut, artinya secara turun temurun, dan tidak mungkin ada orang lain yang akan mampu masuk ke dalamnya.]

Berikut kutipan penggalan bait yang terdapat pada BC

Babad Permanadipuntang

Eyang Dalem Ranggalawe

tetela turun-turunna

deg nepi ka ayeuna

ka Dalem Dipati Bandung (Asm. 3: 16-20)

Babad Permanadipuntang

Eyang Dalem Ranggalawe

ternyata keturunannya

sampai sekarang

kepada Dalem Dipati Bandung

Berkenaan dengan keturunan atau silsilah, pada BC ada indikasi pemberian nama yang sama antara ayah dengan anak, seperti penggalan bait di atas.

Siliwangi putrana teh

Mundingsari katelahna

Mundingsari puputra

jenenganana nyakitu

Mundingsari nu kadua(Asm, 9:59-63)

putra Siliwangi

namanya Mundingsari

Mundingsari berputra

namanya sama, yaitu

Mundingsari kedua (Mundingsari leutik)

Hal tersebut menjadi menarik karena dalam budaya barat ada istilah Jhon Junior artinya anak Jhon, sementara dalam budaya timur (Arab) nama ayah menjadi hilang karena dalam panggilan menjadi ”ayahnya …” misalnya, ”Abu Hafid” artinya ”Ayahnya Hafid”.

Pada BC ada istilah kadua, leutik, atau anom (kedua, leutik, atau anom), untuk menggambarkan keturunan tersebut. Sementara I, II, II, dan seterusnya misalnya pada Wiratanudatar I, Wiratanudatar II, dan seterusnya hal itu di samping keturunan juga lebih menggambarkan pada jabatan atau dinasti penguasa.

Berdasarkan analisis, yang menggambarkan silsilah terdapat pada 80 atau 6,5% padalisan BC.

d) tahun terjadinya peristiwa

Teeuw dalam Baried (1985:30) mengatakan bahwa tahun terjadinya peristiwa tidak dinyatakan dengan jelas, tetapi dengan cara yang samar-samar yaitu dengan mempergunakan istilah-istilah tertentu seperti tahun lembu dan sebagainya. Demikian juga dalam “Babad Cikundul” ini.

Sebagaimana contoh berikut:

1. saburakna Pajajaran (Asm:10:68) (setelah Pajajaran hancur)

2. tapakur siang wengi (lawasna meunang sataun) (Sin,44: 334-335)

siang malam tefakur

lamanya setahun

Berikut contoh yang menujukkan tahun dengan jelas.

Henteu lila dayeuh ngalih deui

ka beh wetan nya dayeuh ayeuna

Pamoyanan narikolot

anu mawi disebut

Dalem Tarikolot nu tadi

Tanudatar kadua

tah asalna kitu

kebatkeun deui carita

Hijrah seuweu dua puluh waktu ngalih

ngalih dayeuh ayeuna(Dang,103:837-8)

Tidak lama pusat kota berpindah

ke sebelah timur tepatnya kota sekarang

Pamoyanan semakin menua

karenanya disebut demikian

Dalem Tarikolot itu

Tanu Datar kedua

demikian ceritanya

diceritakan kembali

seribu duapuluh Hijrah waktu pindah

berdiri dalem sekarang

Pada contoh terakhir tahun terjadi peristiwa disebutkan yaitu 1020 Hijrah. Tahun tersebut apabila dipadankan dengan tahun masehi yaitu tahun 1599 M. Kembali ke awal cerita, 1020 H bertepatan dengan berkuasanya keturunan (dinasti) ke III (Wiratadudatar III). Apabila diasumsikan masa dinasti rata-rata 40 tahun, berarti tulisan ini dapat diprediksi menceritakan hal tahun 1479. Kurang lebih abad ke XIV.

Berdasarkan analisis tersebut hal yang berkenaan dengan tahun atau waktu terjadinya peristiwa, terdapat pada 32 larik atau 2,6 % larik Babad Cikundul.

e) peristiwa yang bersifat kontemporer.

Peristiwa yang kontemporer diartikan sebagai peristiwa yang akan menjadi gambaran pada kelangsungan peristiwa selanjutnya beserta segala konsekuensinya.

Contoh kutipan berikut menunjukkan pada hal yang dimaksud.

Ditelak ti murangkalih

dugika jenengna pisan

malah dugi kana nganggo

tilu bentang anu mulya

nugraha raja-raja

kula henteu pati bingung

sababna ku basa Jawa(Asm, 4:22-28)

Dikisahkan sejak kecil

sampai menjadi orang penting

bahkan sampai medapatkan

penghargaan tiga bintang yang mulia

anugrah raja-raja

saya tidak begitu bingung

arena digubah dengan bahasa Jawa.

Berdasarkan contoh di atas seseorang dikisahkan oleh pengarang sejak kecil, tentu saja pada masa kecilnya mengandung gambaran bagaimana tokoh tersebut pada masa dewasa. Peristiwa dari masa kecil ke masa dewasa pada kutipan di atas menjadi kontemporer karena pada masa dewasa, tokoh mendapat kemuliaan.

Pada contoh kutipan berikut kemarahan tokoh beralasan, karena anaknya beralih keyakinan. Beralihnya keyakinan tentu saja mengandung segala konsekuensi yang akan ditanggung baik oleh tokoh pertama maupun tokoh kedua. Segala konsekuensi itu merupakan peristiwa kontemporer dari kutipan tersebut.

Kacatur ramana sengit

dumeh putra asup Islam

ti dinya ditundung bae

bral angkat saparan-paran

jol ka Sagaraherang

lajeng bae calik matuh

didinya pek ngababakan (Asm, 15:99-105)

Tersebutlah ayahnya marah

karena putranya memeluk Islam

lalu diusirnya

berangkatlah ia mengembara

sampailah di Sagaraherang

kemudian tetap tinggal di sana

di sana ia mebuka perkampungan baru

Berdasarkan analisis, berkenaan dengan peristiwa yang bersifat kontemporer, pada 26 padalisan atau 2,1 % larik Babad.  Dari  uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa BC bertema sejarah hal tersebut ditunjukkan dengan kandungan masalah yang tergambar pada babad tersebut.

Table berikut akan memberikan gambaran pada tema BC

Tabel 4.2.b

Gmbaran Tema Babad

No.

Kandungan Masalah

Jumlah Pupuh

Jumlah Larik

Ket.

1 Tempat

6

86

 
2 Penyebutan nama-nama historis

6

192

 
3 Cerita berupa silsilah

6

80

 
4 Tahun terjadinya peristiwa

6

32

 
5 Peristiwa yang bersifat kontemporer

3

26

 

 

3. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Babad Cikundul merupakan karya sastra lama yang bersifat historis.

Kesimpulan tersebut ditunjukkan dengan tema atau permasalahan yang mendukung pada hal tersebut.

Tema atau masalah pada Babad Cikundul sebagai berikut:

  1. penyebutan nama-nama tempat yang memang ada dalam pengertian geografis, ditunjukkan dengan 6 pupuh atau 86 larik;
  2. penyebutan nama-nama historis, ditunjukkan dengan 6 pupuh atau 192 larik;
  3. kandungan ceritan terutama merupakan silsilah suatu dinasti ditunjukkan dengan6 pupuh atau 80 latik;
  4. tahun terjadinya peristiwa tidak dinyatakan dengan jelas tetapi samar-samar ditunjukkan dengan 6 pupuh atau 32 larik; dan
  5. adanya pembicaraan mengenai peristiwa-peristiwa yang bersifat kontemporer, ditunjukkan dengan 3 pupuh atau 26 larik.

Kesimpulan demikian menggambarkan satu komponen dari babad tersebut, yaitu tema. Apabila babad dipandang sebagai suatu bangun, maka masih ada beberapa komponen bangun lain yang dapat dikaji tokoh dan perwatakan misalnya atau yang lainnya. Hal tersebut apabila segi bentuk saja, sementara karya sastra bukan hanya bentuk tetapi juga isi. Isi ini adalah yang sering menjadi sarana penyampaian nilai-nilai tentu saja apabila mengandung nilai-nilai.

Tersampaikannya nilai-nilai tentu bukan saja bagi pengapresiasi pada zamannya tetapi zaman atau generasi berikutnya, dengan istilah pewarisan.

Pewarisan nilai atau budaya akan efektif apabila melalui pendidikan. Oleh karena itu, perlu ditindaklanjuti dengan pengajuan alternatif bahan ajar dan penyampaiannya, atau model yang dapat dijadikan alternatif pula.

Penulis dalam suasana akrab dan santai ..

Daftar Pustaka

Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru  Algesindo.

Baried, St. Baroroh dkk. 1985. Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia.. Jakarta Depdikbud- Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Christomy, T. 2003. Wawacan Sama’un: Edisi Teks dan Analisis Struktur. Jakarta: Jambatan.

Fang, Liaw Yock. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Erlangga.

Nurgiyantoro, B. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rusyana, Yus. 1979. Novel Sunda Sebelum Perang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusyana, Yus, dkk. 1983. Ensiklopedi Bahasa Sunda. Proyek Penelitian   Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sayuti, Suminto A. 1996. Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

WS, Hasanuddin, dkk. 2009. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

 

Cari Artikel Sejenis:

Semalam di Cikalong Cikundul Yang tak Terlupakan

This entry was posted in Pesona Cianjur. Bookmark the permalink.

4 Responses to “Babad Cikundul” Suatu Karya Sastra Lama Bersifat Historis

  1. angi jayadi says:

    sammpurasun…
    kalau boleh tau, kira- dalam isi babad tersebut adakah yang menyebutkan tentang kedudukan cianjur sebagai ibu kota priangan ?
    hatur nuhun …

  2. yeni says:

    Bagea …
    Rampes …
    Tidak ada, kalau berkenaan dengan Ukur (Dipati Ukur) disinggung sedikit.
    Hatur nuhun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>