Pak Yus dan Ibu Ami di tengah mahasiswa PBSI S-2 UNSUR semester 2 di kediamannya, Kompleks Suaka Indah, Cimahi
Pada hari Rabu, 5 Juni 2013 seluruh peserta studi lapangan sosiolinguistik yang ke Cikahuripan Cisolok Sukabumi (baca : berita Studi Lapangan Cikahuripan) diundang oleh Ibu Hj. Ami Raksanagara ke kediamannya di Kompleks Suaka Indah, Leuwigajah, Cimahi. Ibu Ami tidak lain adalah isteri dari Bapak Profesor H. Yus Rusyana, sebagai dosen pengampu mata kuliah sosiolinguistik baik di PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur maupun Sekolah Pascasarjana UPI Bandung. Di PBSI S-2 UNSUR, Pak Yus memberi mata kuliah Sosiolinguistik, Sastra dan Budaya Nusantara, dan Kajian Mandiri serta tercatat sebagai Pembina Akademik.
Mengundang mahasiswa untuk botram di rumahnya, bagi keluarga Pak Yus bukanlah kali pertama. Beberapa angkatan sebelumnya, pernah menjadi koki atau tukang sate “dadakan” di tempat baru dihuni sekitar tiga tahun terakhir ini. Tujuannya selain silaturahmi dan kebersamaan, untuk penyegaran (refreshing) setelah melaksanakan penelitian lapangan yang tentu menguras tenaga, pikiran, maupun biaya.
pembelajaran kehidupan
Seusai hidangan dan sate siap, tibalah acara resmi. Acara didahului oleh sekapur sirih berupa wejangan dari Pak Yus. Pak Yus membahas tentang nilai-nilai yang terdapat dalam perjanjian Aqobah pada zaman Nabi SAW berisi ajakan untuk tidak mempersekutukan Allah, tidak mencuri, berzina, tidak membunuh anak-anak atau fitnah memfitnah yang tetap memiliki aktualitas dan relevansi kondisi sekarang. Prinsip di atas bila diterapkan konsekuen pada suatu bangsa, maka kesejahteraan yang dicita-citakan lekas tercipta.
Pak Yus juga turut membuka memori kenangan saat perkenalan dengan Ibu Ami yaitu manakala sama-sama di SGA dulu. Begitu pula masa-masa harus berpisah, Pak Yus harus meninggalkan isteri dan ketiga putranya seusia balita saat itu dan sedang lucu-lucunya demi studi di Negeri Belanda. Agar terkonsentrasi mengurusi para putranya, Ibu Ami pun rela melepas status PNS yang disandangnya saat itu.
Pak Yus mengutarakan prinsip dianutnya dalam memaknai kehidupan yakni Selamat, Bermanfaat, Nikmat. Manusia harus senantiasa mawas diri agar bisa selamat. Kedua, bisa memberi manfaat sekitarnya, dan terakhir dapat menikmati. Dengan demikian, kita dapat menikmati kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.
Tentang penelitian, Pak Yus selalu memotivasi agar mahasiswa menjadi peneliti yang berkualitas, bukan peneliti kelas “nasi pincuk”. Yaitu menggunakan referensi bersumber pada buku aslinya, menggunakan metode dan instrumen yang teruji, kalau perlu bisa melahirkan teori baru. Manakala ada mahasiwa bertanya apakah boleh mengutip pendapat ahli dari buku yang telah secara berantai dikutip oleh satu penulis juga penulis lainnya sehingga mahasiswa tidak perlu susah-susah mencari buku aslinya, Pak Yus menjawab ringan, “boleh saja, jika ingin mengerdilkan diri Anda”.
Selanjutnya pembacaan do’a dipimpin Dadan W. Namun saat pembawa do’a membuka acara ini, Ibu Ami menyela sebentar seraya menginformasikan bahwa pada hari ini adalah ulang tahun suaminya. Spontan hadirin pun dibuat kaget dan tidak menyangka. Usai acara do’a, para mahasiswa memberi selamat kepada Pak Yus. Disela menerima ucapan selamat, Pak Yus pun berkelakar, “Tadi sudah baca Alfatihah, sekarang giliran AlMaidah” ungkapnya sambil mempersilakan para mahasiswa mengambil hidangan yang telah disediakan sambil menambahkan, “Ayo … di sini boleh menggunakan maksim kesopanan bebas …”
Berdasarkan profil Pak Yus (klik di sini), Pak Yus lahir 24 Maret 1938. Perbedaan ini terjadi menurut Pak Yus, karena rujukan biasa dipakai orang tua zaman dulu adalah penanggalan hijriah. Tanggal tsb setelah ditanyakan kepada orang ahli penanggalan tanggal hijriah belakangan ini ternyata adalah 5 Juni. Adapun tanggal 24 Maret adalah tanggal terdokumentasi secara resmi yang tidak mungkin diubah lagi. Kejadian perbedaan tanggal secara de fakto dan de jure adalah hal biasa terutama di generasi terdahulu, di mana pencatatan kelahiran saat itu belum menjadi hal penting.
Terkait silaturahmi ini, banyak inspirasi bisa ditimba oleh sejumlah mahasiswa. “Meuni reueus nya ninggalina ge, ku runtut rautna sareng kataji pisan ku sesebatan eneng sareng akang. Silaturahim kamari seueur hikmahna, diantawisna belajar arti kasetiaan,” ungkap Maria Ulfah Fatimah mahasiswa UPI yang ikut hadir kepada penulis. Begitu pula Desi Asri Maryani, staf administrasi PBSI S-2 UNSUR mengungkapkan rasa kagumnya oleh keharmonian keluarga Pak Yus dan Ibu Ami yang tetap hangat dan berenergi dalam mengarungi biduk rumah tangga yang telah dijalin sejak 28 April 1965.
Pukul 14.00 WIB atau sekira 3 jam dari jam 11.00 WIB, mahasiswa asal UNSUR pamit. Mereka menggunakan sisa waktu carteran mobil dengan mengunjungi Kawah Ratu Tangkubanparahu, Lembang dan satu mobil lainnya meluncur ke pusat industri sepatu Bandung, yakni kawasan Cibaduyut. (danwdhien)















