Tiga Jam di Kediaman Profesor Yus Rusyana

Pak Yus dan Ibu Ami di tengah mahasiswa PBSI S-2 UNSUR semester 2 di kediamannya, Kompleks Suaka Indah, Cimahi

Pada hari Rabu, 5 Juni 2013 seluruh peserta studi lapangan sosiolinguistik yang ke Cikahuripan Cisolok Sukabumi (baca : berita Studi Lapangan Cikahuripan) diundang oleh Ibu Hj. Ami Raksanagara ke kediamannya di Kompleks Suaka Indah, Leuwigajah, Cimahi. Ibu Ami tidak lain adalah isteri dari Bapak Profesor H. Yus Rusyana, sebagai dosen pengampu mata kuliah sosiolinguistik baik di PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur maupun Sekolah Pascasarjana UPI Bandung. Di PBSI S-2 UNSUR, Pak Yus memberi mata kuliah Sosiolinguistik, Sastra dan Budaya Nusantara, dan Kajian Mandiri serta tercatat sebagai Pembina Akademik.

Mengundang mahasiswa untuk botram di rumahnya, bagi keluarga Pak Yus bukanlah kali pertama. Beberapa angkatan sebelumnya, pernah menjadi koki atau tukang sate “dadakan” di tempat baru dihuni sekitar  tiga tahun terakhir ini. Tujuannya selain silaturahmi dan kebersamaan,  untuk penyegaran  (refreshing) setelah melaksanakan penelitian lapangan yang tentu menguras tenaga, pikiran, maupun biaya.

Ujang Suja’i dan Yayat, juru bakar sate. Sanksinya, yang gosong harus dimakan ybs

pembelajaran kehidupan

Seusai hidangan dan sate siap, tibalah acara resmi.  Acara didahului oleh sekapur sirih berupa wejangan dari Pak Yus.  Pak Yus membahas tentang nilai-nilai yang terdapat dalam  perjanjian Aqobah pada zaman Nabi SAW  berisi ajakan untuk  tidak  mempersekutukan Allah, tidak  mencuri, berzina, tidak membunuh anak-anak atau fitnah memfitnah yang tetap memiliki aktualitas dan relevansi kondisi sekarang.   Prinsip di atas bila diterapkan konsekuen pada suatu bangsa,  maka kesejahteraan yang dicita-citakan lekas tercipta.

Pak Yus juga turut membuka memori  kenangan saat perkenalan dengan  Ibu Ami yaitu manakala sama-sama  di  SGA dulu.  Begitu pula masa-masa harus berpisah,  Pak Yus harus  meninggalkan  isteri dan  ketiga putranya seusia balita saat itu dan sedang lucu-lucunya demi  studi di Negeri Belanda.  Agar terkonsentrasi mengurusi para putranya, Ibu Ami pun  rela melepas status PNS yang disandangnya saat itu.

Prof. Yus memberi wejangan bagi para mahasiswa

Pak Yus mengutarakan prinsip dianutnya  dalam memaknai kehidupan yakni Selamat, Bermanfaat, Nikmat.  Manusia  harus senantiasa  mawas diri  agar bisa selamat. Kedua, bisa memberi manfaat sekitarnya, dan terakhir  dapat  menikmati.  Dengan demikian, kita dapat menikmati  kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Tentang penelitian, Pak Yus selalu memotivasi agar mahasiswa menjadi peneliti yang berkualitas, bukan peneliti kelas “nasi pincuk”. Yaitu menggunakan referensi bersumber pada buku aslinya, menggunakan metode dan instrumen yang teruji,  kalau perlu bisa melahirkan teori baru.  Manakala ada mahasiwa bertanya apakah  boleh  mengutip pendapat ahli dari buku yang telah secara berantai dikutip  oleh satu penulis juga penulis lainnya sehingga mahasiswa tidak perlu susah-susah mencari buku aslinya,  Pak Yus menjawab ringan, “boleh saja, jika ingin mengerdilkan diri Anda”.

Pak Yus dan Ibu Ami bersama mahasiswa semester 1 dan penulis

Selanjutnya pembacaan do’a dipimpin Dadan W. Namun saat pembawa do’a membuka acara ini,  Ibu Ami menyela sebentar seraya menginformasikan bahwa pada hari ini adalah ulang tahun suaminya.  Spontan hadirin pun  dibuat kaget dan tidak menyangka. Usai acara do’a, para mahasiswa memberi selamat kepada Pak Yus. Disela menerima ucapan selamat, Pak Yus pun berkelakar, “Tadi sudah baca Alfatihah, sekarang giliran AlMaidah” ungkapnya sambil mempersilakan para mahasiswa mengambil hidangan yang telah disediakan sambil menambahkan, “Ayo … di sini boleh menggunakan maksim kesopanan bebas …”

Berdasarkan profil Pak Yus (klik di sini), Pak Yus lahir 24 Maret 1938.   Perbedaan ini  terjadi menurut Pak Yus, karena rujukan biasa dipakai orang tua zaman dulu adalah penanggalan hijriah.  Tanggal tsb setelah ditanyakan kepada orang ahli penanggalan tanggal hijriah belakangan ini  ternyata adalah 5 Juni.  Adapun tanggal 24 Maret  adalah tanggal terdokumentasi  secara resmi yang tidak mungkin  diubah lagi.  Kejadian perbedaan tanggal secara de fakto dan de jure adalah hal biasa terutama di generasi terdahulu,  di mana pencatatan  kelahiran saat itu belum menjadi hal penting.

Mahasiswa PBSI S-2 UNSUR angkatan sebelumnya di kediaman Pak Yus

Terkait silaturahmi ini, banyak inspirasi bisa ditimba oleh sejumlah mahasiswa.  “Meuni reueus nya ninggalina ge, ku runtut rautna sareng kataji pisan ku sesebatan eneng sareng akang. Silaturahim kamari seueur hikmahna, diantawisna belajar arti kasetiaan,” ungkap Maria Ulfah Fatimah mahasiswa UPI yang ikut hadir kepada  penulis.   Begitu pula Desi Asri Maryani, staf administrasi PBSI S-2 UNSUR mengungkapkan rasa kagumnya  oleh keharmonian keluarga Pak Yus dan Ibu Ami yang tetap hangat dan berenergi dalam mengarungi biduk rumah tangga yang telah dijalin sejak 28 April 1965. 

Pukul 14.00 WIB atau sekira 3 jam dari jam 11.00 WIB, mahasiswa asal UNSUR pamit.  Mereka menggunakan sisa waktu carteran mobil dengan mengunjungi Kawah Ratu Tangkubanparahu, Lembang dan satu mobil lainnya meluncur ke pusat industri sepatu Bandung, yakni kawasan Cibaduyut.  (danwdhien)

Posted in Renungan | Tagged | Leave a comment

Ajip Rosidi: Pemerintah Berkepala Batu

REKTOR Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat menerima penghargaan Sastra Rancage 2013 dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi yang didampingi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas (kiri) di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (4/6).

DIPATIUKUR (GM) – Yayasan Kebudayaan Rancage kembali menganugerahkan hadiah Sastra Rancage 2013 kepada tujuh sastrawan yang menulis buku dengan bahasa daerah. Penghargaan kali ini cukup istimewa karena merupakan penghargaan ke-25 yang diberikan Rancage secara terus-menerus tanpa terputus.

Tujuh penghargaan ini terbagi dalam karya dan bahasa Sunda, karya dan bahasa Jawa, karya dan bahasa Bali, serta penghargaan Samsudi, yakni penghargaan karya sastra Sunda anak-anak. Untuk karya sastra dalam bahasa Sunda diberikan kepada Deni A. Fajar (Lagu Padungdung, kumpulan sajak) dan Prof. Dr. Ganjar Kurnia (jasa). Penghargaan karya sastra Jawa kepada Khrisna Mihardja (Prastisara, kumpulan cerpen) dan J.F.X. Hoery (jasa). Penghargaan sastra Bali diberikan kepada I Made Sugianto (Sentana, roman pendek) dan I Nyiman Suprapta (jasa).

Sedangkan untuk penghargaan Samsudi diberikan kepada Elin Sjamsuri dengan karyanya, Dongeng Aki Guru. Penghargaan diberikan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur, Selasa (4/6).

Menurut Ketua Dewan Pembina Rancage, Ajip Rosidi, untuk sastra Sunda, panitia menyeleksi 38 buku yang terbit pada tahun 2012. Sedangkan untuk sastra Jawa diseleksi 27 judul buku dan delapan buku untuk sastra Bali. Sedangkan untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda disaring dari 10 judul buku yang terbit pada 2012. Namun empat di antaranya tidak dinilai karena merupakan cetak ulang.

Selain mendapat piagam, para penerima penghargaan juga menerima uang sebesar Rp 5 juta.

Kecewa

Pada kesempatan itu, Ajip kembali melontarkan kekecewaannya terhadap pemerintah yang tidak memasukkan bahasa ibu dalam Kurikulum 2013. Menurut Ajip, hal itu telah merampas hak anak didik untuk mewarisi bahasa dan kebudayaan leluhurnya.

“Dengan sikap kepala batu menolak dimasukkannya bahasa ibu ke Kurikulum 2013. Alasannya, itu wewenang pemerintah daerah. Pemerintah bukan hanya tidak mau aktif memelihara kebudayaan daerah, tetapi juga telah merampas hak anak. Anak didik kian dijauhkan dari bahasa dan kebudayaan warisan nenek moyangnya, yang dalam UUD diakui sebagai kekayaan budaya nasional,” tegas Ajip.

Perlu diketahui, penghargaan Rancage telah diberikan sejak 1989. Pemberian anugerah dilakukan setiap tahun bagi karya sastra bahasa daerah tanpa terputus hingga 2013. Sedangkan penghargaan Samsudi diberikan sejak 1993. Namun pada 1997-2001, 2005, 2007, dan 2010 sempat tidak diberikan karena tidak ada buku yang dianggap pantas untuk menerimanya. (B.98)**

Sumber berita : HU Galamedia

Posted in Berita Pendidikan | Tagged | Leave a comment

Merasakan Semburan Geyser Cisolok, Sukabumi

Berlatar belakang Geyser Cisolok Sukabumi

Dari catatan wikipedia, Yellowstone National Park adalah taman nasional di Amerika Serikat, tepatnya  berada di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho. Luasnya meliputi 3.468 mil² (8.983 km²). Yellowstone National Park merupakan taman nasional tertua di dunia, didirikan pada tanggal 1 Maret 1872. Selain dihuni margasatwa,  Yellowstone National Park dikenal dengan semburan air panasnya yang dikenal dengan geyser.  Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, ada di sini.  

Anda tidak perlu berkecil hati tidak bisa menyaksikan geyser tersebut langsung  di negeri Paman Sam.  Sebagai negara   dilalui banyak gunung berapi, Indonesia  kaya  sumber air panas.  Akan tetapi, sumber air panas yang memancar tak pernah surut tidaklah banyak.  Cisolok salah satunya daerah yang memiliki fenomena alam menakjubkan ini. 

Anda bakal merasakan siraman geyser di Cipanas, Cisolok (20 km dari kota Palabuhanratu, Sukabumi). Lokasinya sekitar 5 km dari jalan raya Palabuanratu-Bayah dengan mengambil arah kanan dari pantai Karanghawu Cisolok atau arah kanan di Pasar Cisolok (dari arah Palabuhanratu). Tetapi harus hati-hati, posisi Anda jangan terlalu dekat, kulit Anda bisa  melepuh.  Pengunjung suka mencobanya dengan telur ayam ras dan tak lama telur pun matang. 

Sumber air panas menyembur ini berada di anak sungai Beser, Cisolok.  Di anak sungai ini setidaknya ada  7 titik fenomena alam semburan air mancur  ini.  Penulis tiba di lokasi pukul 05.45 WIB, sepulang mendampingi kegiatan mahasiswa di daerah Cikahuripan, Cisolok (klik link di sini). 

Kondisi pun masih temaram, Kabut masih membungkus areal dipenuhi pepohonan lebat tsb.   Mobil kami pertama kali tiba, dan petugas jaga  pun  belum ada.  Kami langsung bergegas ke areal air mancur sekitar 100 meter dari lokasi parkir. 

Di jembatan gantung sungai Beser, Cisolok

Areal air mancur ini dicapai dengan melewati jembatan gantung sungai Beser, di mana batu-batu besar teronggok sebagai ciri khas sungai di pegunungan.  Air mancur bercampur uap panas menyembur laksana kabut putih semakin menggoda untuk didekati.  Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang hadir sehingga kami amat leluasa mendekati titik semburan.

Proses air mancur alami ini sebenarnya berasal dari hujan meresap ke dalam tanah dan bebatuan.  Di dalam kantong air, air ini dipanaskan oleh magma.  Dalam perjalanannya,  aliran air melarutkan berbagai mineral dan dihangatkan oleh  magma. Pada saat menemui celah, maka air pun menyembur. 

Sumber mineral ini dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.  Anda bisa melakukan terapi air hangat di sini.  Di lokasi ini terdapat  dua buah kolam renang air panas yang sudah distabilkan suhunya hingga di bawah 40 derajat Celcius. Ada juga kamar terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti rematik, asam urat,  hingga stroke.  Tubuh pengunjung dari kepala hingga kaki dimanjakan petugas dengan semprotan  air panas.

Geyser dan Gletser

Geyser dari catatan blog http://ibenkztrilogy.blogspot.com adalah sejenis mata air panas yang menyembur secara periodik (mengeluarkan air panas dan uap air ke udara) atau dapat disebut juga aliran air hangat yang menyembur ke permukaan tanah. Nama geyser berasal dari kata Geyser di Haukadalur, Islandia. Kata itu kemudian menjadi kata kerja bahasa Islandia gjósa, “menyembur”.

Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, AS

Pembentukan geyser bergantung kepada keadaan hidrogeologi tertentu. Oleh karena itu hanya terdapat di beberapa tempat di Bumi dan karena itu geyser adalah fenomena yang jarang ditemui. Dari 1000 ada di seluruh dunia, sekitar setengahnya di Yellowstone National Park, Amerika Serikat.  Aktivitas semburan geyser dapat berhenti karena pengendapan mineral di dalam geyser, gempa bumi, dan campur tangan manusia.

Adapun gletser atau glasier atau glesyer merupakan sebuah bongkahan es yang besar yang terbentuk di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu yang lama. Bongkahan es ini dapat berupa wilayah daratan yang sangat luas. Saat ini, es abadi menutupi sekitar 10% daratan yang ada di bumi. 

Pegunungan Jayawijaya yang terdapat di Provinsi Papua  merupakan salah satu contoh pegunungan tinggi yang memiliki banyak gletser dan uniknya berada di wilayah khatulistiwa.  Gletser ini dapat meleleh oleh panas matahari dan mengalir mengisi debit aliran sungai di bawahnya.  Oleh karena itu, gletser merupakan sumber air bagi sungai, di samping air hujan.  Keduanya mengikuti aliran sungai  dibawa ke laut. ****  (dewa)

 

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | Leave a comment

Singgah di Patilasan Ratu Palabuhanratu

Tepat di Teluk Palabuhanratu, Tempat Pelelangan  Ikan/Dermaga Palabuhanratu

Laporan perjalanan;  dadan wahyudin | Minggu, 26 Mei 2013 pk. 04.30

Palabuhanratu  terbilang menarik.  Sebagai satu-satunya ibukota setingkat kabupaten di provinsi Jawa Barat berada di pantai Selatan atau pakidulan.  Status ini bakal ditemani  oleh Parigi (sebagai calon ibukota kabupaten Pangandaran, sesuai UU Nomor 21 Tahun 2012) tentang dasar hukum pembentukan kabupaten kesohor wisata pantainya hingga tujuan kunjungan turis mancanegara tsb. Kota Palabuhanratu terlewati oleh penulis saat  mendampingi  rombongan mahasiswa pascasarjana PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur saat Penelitian Sosiolinguistik ke Desa Cikahuripan, Cisolok, Kab. Sukabumi. (baca link beritanya: Sosiolinguistik 2013)

Palabuhanratu merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi yang berada tepat di  Teluk Palabuhanratu.   Teluk Palabuhanratu dikenal  teluk terbesar di pantai selatan pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Teluk  ini memiliki  garis pantai sepanjang 105 km. Di sini berlabuh  empat aliran sungai besar, yakni Sungai Cimandiri, Sungai Cibareno, Sungai Cilentuk, dan Sungai Cikanteh.  Di masa pemerintah kolonial,  daerah ini dikenal dengan nama Wijnkoops-baai atau Queen Harbour dalam bahasa Inggris.

Kota Legenda 

Kota Palabuhanratu memiliki legenda kental dengan Ratu Laut Selatan atau Nyai Loro Kidul sebagai penguasa laut selatan.  Legenda berkembang di masyarakat, syahdan di Priangan  pernah berkuasa raja mashyur  Prabu Siliwangi.  Raja memiliki putri bernama  Putri Lara Kandita. Kehadiran putri jelita  ini  tak disukai selir-selirnya,  sehingga mereka berbagai cara menganggu kehidupan permaisuri dan putrinya.  Wajah permaisuri dan putrinya dibuat  buruk dan  mengerikan.  Raja pun mengusirnya.

Dalam pengembaraan, permaisuri akhirnya meninggal. Maka  tinggallah Putri Lara Kadita sebatang kara. Rasa lapar yang sangat membuat sang putri jatuh pingsan.  Pada saat siuman, sang putri  mendengar suara yang menarik perhatian dirinya.  Bunyi itu tak lain deburan ombak susul-menyusul. Energi yang ditunjukkan oleh ombak tiada henti, memotivasi dirinya untuk bangkit.

Pantai Karanghawu, tempat sang putri menenggelamkan diri

Pantai Karanghawu,  patilasan  sang putri menenggelamkan diri

Sang putri pun mencoba menikmati panorama menakjubkan.  Duduk seraya memandang cakrawala nan luas. Tempat bertemunya laut dan kaki langit.  Kilau biru laksana safir nan elok sejauh mata memandang. Patilasan atau tempat duduk itu diyakini masyarakat berada di Pantai Karanghawu, Cisolok (10 km arah barat Palabuhanratu), di mana penulis berhasil mengambil gambar.  Semilir angin dan pesona keindahan lautan luar biasa melelapkan sang putri hingga bermimpi.  Kecantikan bakal sediakala manakala  mau menenggelamkan diri ke laut.

Putri pun terjaga.  Berdasarkan petunjak dalam mimpinya, seketika ia menceburkan diri  ke dalam laut.  Sungguh luar biasa. Wajahnya berubah tiba-tiba.  Berparas jelita.  Sejak saat itulah, Putri Lara Kandita menjadi penguasa sebagai Ratu Laut Selatan  bergelar “Nyai Loro Kidul”.

Legenda Nyi Loro Kidul  sangat kental bagi masyarakat pulau Jawa, terutama yang tinggal  di pakidulan.  Masyarakat Palabuhanratu menetapkan setiap tanggal 6 April dijadikan  sebagai Hari Nelayan.  Pada hari ini, nelayan menggelar “Pesta Laut”  atau Labuh Saji  agar Tuhan  memberikan berkah dan perlindungan.  Di Cikahuripan, Cisolok nelayan setempat menggelar “Syukuran Laut” setiap musim panen ikan.

Bertemu  Ratu Jambal, Pak Untung (memegang ikan asin jambal) juragan ikan asin di Palabuhanratu

Kepercayaan akan legenda “Nyai Loro Kidul” ditandai dengan kehadiran Kamar 308 Hotel Inna Samudra Beach  Pelabuhanratu.  Hotel kesohor hingga mancanegara ini terletak 7 km dari Palabuhanratu. Di kamar ini, pihak hotel   menyediakan  ruangan khusus untuk  menyimpan berbagai koleksi  berkaitan dengan legenda Nyai Loro Kidul.  Di samping itu  mengoleksi  sejumlah pemberian  aneka lukisan maupun pernik perhiasan  para pengunjung domestik maupun luar.

Tak pelak, penggunaan kata ratu amat akrab di sini.  Kata ratu menjadi ikon kota kecil di bawah kaki Gn. Butak  yang digunakan untuk berbagai nama di sini.  Tak terkecuali toko menyediakan oleh-oleh khas Palabuhanratu berupa aneka   ikan asin jambal  dan pindang tongkol berlokasi di dalam Tempat Pelelangan Ikan Palabuhanratu menggunakan nama “RATU JAMBAL” bukan “RAJA”.  “RATU JAMBAL” penguasanya adalah seorang pria,  Pak Untung.  Toko itu berhasil disambangi kami untuk mengoleksi buah tangan khas kota Ratu. ***

Baca artikel utama terkait postingan ini : Mahasiswa Magister UNSUR dan UPI Bandung Kunjungi Desa Cikahuripan Cosolok Sukabumi

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | Leave a comment

Purnabakti Dua Staf Administrasi Prodi PBSI S2

Berfoto bersama Ketua Prodi seusai acara

Datang dan pergi adalah hal lumrah dalam kehidupan. Keduanya sama beratnya. Ketika datang ke dalam lingkungan baru, diperlukan adaptasi yang baik.  Begitupula ketika hendak meninggalkan lingkungan telah kondusif adalah sesuatu amat berat.  Apalagi interaksi dan kebersamaan sudah erat tercipta.

Gambaran itu setidaknya mewakili perasaan dua mantan staf administrasi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) S2 Universitas Suryakancana Cianjur, Endang Jamaludin, SE dan Hani Nuraini  saat acara Pelepasan Staf Administrasi PBSI S2 ke tempat kerja “baru” (sebelumnya) Sabtu, 13 April 2013.  Acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa semester 1, 2, 3, dan sebagian semester 4 dan  alumni yang kebetulan berada di kampus saat itu. Dari unsur pimpinan prodi PBSI S2, hadir Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd, Dr. Hj. Siti Maryam, M.Pd, dan bendahara, Dra. Hj. Yeni Suryani, M.Pd.  Sementara staf pengajar dihadiri oleh Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd,  Dr. Sri Mulyanti, M.Pd, dan Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed.

Cinderamata bagi Endang Jamaludin diberikan Ketua Prodi

Acara dibuka oleh sekretaris prodi, yang sesi pertama diisi oleh sambutan Ketua Prodi, Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd. Ketua prodi mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada kedua staf yang telah purna-tugas  di prodi S2 atas  dedikasi dan curahan waktu dan tenaga disertai tanggung jawab tinggi, sehingga operasionalisasi prodi dipimpinnya berjalan lancar. Ketua prodi juga memutar ulang memori pendirian prodi PBSI S2 dalam memperoleh  izin/akta pendirian dari Dikti, peran  Endang Jamaludin, SE  terlibat aktif bahkan saksi sejarah pendirian prodi ini. Endang pun turut meletakan pondasi   berkaitan keadministrasian di prodi baru berdiri ini sejak 2005 hingga sekarang 2013.  Penghargaan pun diberikan kepada Hani Nuraini yang telah mengabdi di PBSI S2 UNSUR sejak tahun 2006. Dalam kesempatan ini, Ketua Prodi memperkenalkan staf baru yakni Rizal Barnabas, S.Pd dan Desi Asri Maryani, S.Pd

Pada sesi selanjutnya, Endang Jamaludin mengungkapkan permohonan maafnya kepada unsur pimpinan prodi dan staf pengajar juga seluruh mahasiswa atas kekurangan maupun kekhilafan dalam melayani mahasiswa selama dirinya bekerja di PBSI S2.  Menurutnya, sejak 1 April 2013, ia tidak lagi di S2, tetapi fokus di FKIP.   Namun ia membuka diri untuk tetap berbagi informasi dan komunikasi.

Hani Nuraini menerima bingkisan dari Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd (gambar bawah)

Cinderamata bagi Hani Nuraeni diberikan Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd

Hani Nuraini selanjutnya berkesempatan mengutarakan sepatah dua patah katanya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pimpinan prodi, dosen, dan mahasiswa dan memohon pamit untuk berkonsentrasi di program sarjana (s1).

Kedua mantan staf prodi s2 itu mendapat cinderamata dari pihak lembaga.  Untuk Endang Jamaludin, SE  cinderamata diberikan oleh Ketua Prodi secara langsung.  Sementara Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd (Wakil Rektor kebetulan hadir seusai memberi kuliah) memberikan cinderamata bagi Hani Nuraini.  Atas kelancaran dan  keberkahan acara ini, kegiatan acara ditutup  pembacaan do’a oleh Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed (kebetulan memberi  kuliah saat itu).

Perpindahan tempat kerja kedua staf ini dilakukan sesuai edaran Rektorat dalam upaya melakukan pembenahan di lingkungan universitas, termasuk di bidang pegawai. Hal ini ditempuh demi meningkatkan efektivitas dan peningkatan kinerja pegawai, sehingga lebih fokus dan konsentrasi.

Saat ditemui admin, Hani Nuraeni mengungkapkan bahwa meskipun jauh di mata, namun tetap di hati. Kebersamaan yang telah dijalin, dapat terus dipupuk, apalagi ia bertugas di perpustakaan yang banyak dikunjungi mahasiswa, termasuk S2. Hal ini dapat melanggengkan komunikasi dijalin sebelumnya.  Namun dibalik ungkapannya, staf yang anggun ini tak bisa menutupi ekspresi harunya, sebagai sesuatu hal yang   manusiawi.

ada keharuan dengan sejumlah mahasiswa (gambar bawah)

Ada keharuan, sisi manusiawi

Rasa haru pun menyelimuti Endang Jamaludin.  Ungkapan perpisahan yang dilontarkan sarat emosional dengan sesekali tertunduk dan tertahan.  Staf penuh humoris mengawali karier di tata usaha di SMKK PGRI Cianjur (kini SMK Parawisata Cianjur) tahun 1991, kemudian diangkat sebagai Kepala TU tahun 1997 di tempat sama.

Karier  di perguruan tinggi dirintis tahun 2001 hingga sekarang sebagai staf akademik di FKIP UNSUR.  Tahun 2003 sampai dengan 2009 dipercaya sebagai pengelola administrasi program Akta IV di tempat yang sama, dan sejak PBSI S2 berdiri (2005) sampai 31 Maret 2013 bekerja di dua “kaki”,  di prodi PBSI S2, dan tempat lainnya  FKIP.  Terhitung 1 April 2013, ia akan fokus di Program S1/FKIP.

Berdo'a untuk keselamatan dan keberkahan semua

Berdo’a untuk keselamatan dan keberkahan semua

Kegiatan berakhir dengan acara botram bersama. Seluruh mahasiswa semester 1, 2, 3, dan sebagian 4 serta alumi, menikmati nasi dus disediakan prodi.  (**)

diposkan oleh : admin dewa | Minggu, 14 April 2013

Posted in Budaya dan Bahasa | Leave a comment