Bahasa yang Baik dan Benar (Analisis Struktur dan Ejaan)

oleh
Iim Sobandi, M.Pd.**

1.    PENDAHULUAN
Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat.

Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa/berbicara apabila kita mendengarkan dengan baik apa yang diakatakan. Untuk itu keseragaman berbahasa sangatlah penting, supaya komunikasi berjalan lancar.

Maka daripada itu bangsa Indonesia pada tahun 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan sampai sekarang pemakaian bahasa Indonesia makin meluas dan menyangkut berbagai bidang kehidupan.

Kita sebagai generasi muda, marilah kita pelihara bahasa Indonesia ini, memgingat akan arti pentingya bahasa untuk mengarungi kehidupan masa globalisasi, yang menuntuk akan kecerdasan berbahasa, berbicara, keterampilan menggunakan bahasa dan memegang teguh bahasa Indonesia, demi memajukan bangsa ini, supaya bangasa kita tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Maka dari itu disini penulis akan mencoba menguraikan tentang “Berbahasa yang Baik dan Benar”

2.    PEMBAHASAN
2.1 Tata bunyi (fonologi)
Fonologi pada umumnya dibagi atas dua bagian yang meliputi :
a)    Fonetik
Pengertian Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia
b)    Fonemik
Adapun Fonemik itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari bunyi-ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.Kalau dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi-bunyi yang dapat mempunyi fungsi untuk membedakan arti.

2.2  Tata bahasa (kalimat)
Masalah definisi atau batasan kalimat tidak perlu dipersoalkan karena sudah terlalu banyak definisi kalimat yang telah dibicarakan oleh ahli bahasa. Yang lebih penting untuk diperhatikan ialah apakah kalimat-kalimat yang klita hasilkan dapat memenuhi syarat sebagai kalimat yang benar (gramatikal). Selain itu, apakah kita dapat mengenali kalimat-kalimat gramatikal yang dihasilkan orang lain. Dengan kata lain, kita dituntut untuk memiliki wawasan bahasa Indonesia dengan baik agar kita dapat menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal dalam komunikasi baik lisan maupun tulis, dan kita dapat mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan orang lain apakah gramatikal atau tidak.

Suatu pernyataan merupakan kalimat jika di dalam pernyataan itu terdapat predikat dan subjek. Jika dituliskan, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Pernyataan tersebut adalah pengertian kalimat dilihat dari segi kalengkapan gramatikal kalimat ataupun makna untuk kalimat yang dapat mandiri, kalimat yang tidak terikat pada unsur lain dalam pemakaian bahasa. Dalam kenyataan pemakaian bahasa sehari-hari terutama ragam lisan terdapat tuturan yang hanya terdiri dari atas unsur subjek saja, predikat saja, objek saja, atau keterangan saja.

2.3 Kosa kata
Dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita dituntut untuk memilih dan menggunakan kosa kata bahasa yang benar. Kita harus bisa membedakan antara ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku, baik tulis maupun lisan.

Ragam bahasa dipengaruhi oleh sikap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika dituliskan). Sikap itu antara lain resmi, akrab, dingin, dan santai. Perbedaan-perbedaan itu tampak dalam pilihan kata dan penerapan kaidah tata bahasa. Sering pula raga mini disebut gaya. Pada dasarnya setiap penutur bahasa mempunyai kemampuan memakai bermacam ragam bahasa itu. Namun, keterampilan menggunakan bermacam ragam bahasa itu bukan merupakan warisan melainkan diperoleh melalui proses belajar, baik melalui pelatihan maupun pengalaman. Keterbatasan penguasaan ragam/gaya menimbulkan kesan bahwa penutur itu kurang luas pergaulannya.

Jika terdapat jarak antara penutur dengan kawan bicara (jika lisan) atau penulis dengan pembaca (jika ditulis), akan digunakan ragam bahasa resmi atau apa yang dikenal bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara, akan makin resmi dan berarti makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

2.4 Ejaan
Dalam bahasa tulis kita menemukan adanya bermacam-macam tanda yang digunakan untuk membedakan arti sekaligus sebagai pelukisan atas bahasa lisan. Segala macam tanda tersebut untuk menggambarkan perhentian antara , perhentian akhir, tekanan, tanda Tanya dan lain-lain. Tanda-tanda tersebut dinamakan tanda baca.

Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga meliputi hal-hal seperti: bagaimana memotong-motong suku kata, bagaimana menggabungkan kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhan maupun antara kata dengan kata. Pemotongan itu harus berguna terutama bagaimana kita harus memisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak memungkinkan kita menuliskan seluruh kata di sana. Kecuali itu, penggunaan huruf kapital juga merupakan unsur penting yang harus diperhatikan dalam penulisan dengan ejaan yang tepat.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambing-lambang bunyi-ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa disebut ejaan.

2.5 Makna
Pemakaian bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak tepat digunakan kata-kata yang bermakna konotatif (kata kiasan tidak tepat digunakan dalam ragam bahasa ilmu). Jadi, pemakaian bahasa yang benar adalah pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.

Kriteria pemakaian bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahsa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik apa yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau orang yang akan membaca (kalau tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita.

3.1 Bahasa Teratur dan Berpikir Teratur
Seseorang akan dianggap berpikir teratur jika dalam kesehariannya ia biasa berbahasa teratur. Hal itu tercermin dari kemampuannya menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Beberapa pertanyaan berikut ini dapat membantu kita menilai tertib tidaknya bahasa yang kita gunakan, misalnya, dalam tulisan kita.

  1. Apakah setiap kata yang kita gunakan sudah benar-benar kita pahami maknanya?Apakah kata yang mubazir, yang tidak perlu, tidak kita gunakan?
  2. Apakah hubungan antarkata dalam kalimat dan antarkalimat dalam paragraf tidak menimbulkan tafsiran ganda (ambiguitas)?
  3. Apakah hubungan antarkata dalam kalimat dan antarkalimat dalam paragraf mengungkapkan hubungan antargagasan yang konsisten, yang tidak saling bertentangan
  4. Apakah kata sudah kita tulis dengan tepat dan tanda baca kita gunakan dengan tepat pula?

Jika kita jawab pertanyaan itu dengan ya, kita telah menggunakan bahasa secara tertib.

Berikut ini contoh paragraf yang telah menggunakan bahasa secara lebih tertib.

“Pandangan penduduk asli terhadap pendatang selalu bergantung kepada apa yang menjadi tujuan kedatangan pendatang dan bagaimana kemampuan serta perilaku pendatang itu. Bila pendatang itu datang dengan tujuan baik, orang yang pintar, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan penduduk asli, dan berkelakuan baik, maka masyarakat penduduk asli akan menghormati dan mau bekerja dengannya”.

3.2 Kerancuan Berbahasa
Kesukaran itu antara lain disebabkan oleh pemakaian susunan kalimat yang tidak teratur dan penyampaian pikiran atau gagasan yang tidak teratur pula. Perhatikan kutipan berikut.

“Di sekolah putra dan putri bangsa dididik. Mereka agar memiliki pengetahuan dan keterampilan. Mereka agar berbudi luhur. Mereka agar sehat jasmani dan rohaninya”.

Kutipan itu menggunakan sebuah kalimat yang dipenggal menjadi empat bagian kalimat. Bagian pertama merupakan sebuah kalimat. Bagian kedua, ketiga, dan keempat masing-masing merupakan suku kalimat, bukan merupakan sebuah kalimat.

3.3 Kesejajaran dalam Kalimat
Ketertiban bahasa yang digunakan seseorang, misalnya dalam suatu karangan terlihat dalam kepaduan susunan kalimat yang digunakannya. Unsur-unsur kalimat yang digunakannya saling berhubungan secara padu dan dapat mengungkapkan pikiran atau gagasan yang padu pula. Kepaduan susunan kalimat dapat tercipta apabila kalimat disusun antara lain berdasarkan asas kesejajaran bentuk bahasa.

Kesejajaran dalam kalimat berkaitan dengan kesejajaran beberapa bentuk bahasa yang biasanya dihubungkan dengan kata penghubung seperti dan, atau, bahwa, karena, dan yang dalam sebuah kalimat.

3.4 Kesalahan Ejaan
Ejaan turut menentukan kebakuan dan ketidakbakuan kalimat. Karena ejaannya benar, sebuah kalimat dapat menjadi baku dank arena ejaannya salah, sebuah kalimat dapat menjadi tidak baku. Kesalahan ejaan biasanya terjadi pada: penggunaan tanda koma yang salah, dan kesalahan penulisan sapaan.

3.5 Kesalahan Struktur Kalimat
Bentuk-bentuk yang strukturnya sudah benar merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang strukturnya masih salah merupakan kalimat tidak baku.

4.1 Ragam Bahasa
Berdasarkan media yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa dapat dibedakan atas ragam bahasa lisan yaitu bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat ucap (organ of speec) dengan fonem sebagai unsur dasar, dan ragam bahasa tulis yaitu bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya, ragam bahasa ilmu, ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, dan ragam bahasa sastra.

Dilihat dari segi penuturnya, ragam bahasa dapat dibedakan sebagai berikut:
a)     Ragam Daerah/ Dialek
Sebagaimana kita ketahui, bahasa Indonesia tersebar luas keseluruh Nusantara. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia itu menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang dipakai di suatu daerah berbeda dari bahasa Indonesia yang dipakai di daerah lain. Misalnya, bahasa Indonesia yang dipakai oleh orang yang tinggal di Denpasar berbeda dari bahasa Indonesia yang dipakai di Jakarta.

b)     Ragam Bahasa Terpelajar
Tingkat pendidikan penutur bahasa Indonesia juga mewarnai pemakaian bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan tampak jelas perbedaannya dengan bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya, pidio, pilem, komplek, pajar, dan pitamin.

c)     Ragam Bahasa Resmi dan Ragam Bahasa tak Resmi
Ragam bahasa dipengaruhi pula oleh sikap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika dituliskan). Sikap itu antara lain resmi, akrab, dingin, dan santai. Demikian juga sebaliknya, kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya atau pimpinannya, atau bahasa perintah atasan kepada bawahan.

4.2 Kesalahan Diksi
Kesalahan diksi ini meliputi kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kesalahan pemakaian kata. Berikut dikemukakan beberapa diksi yang belum dibicarakan pada bab sebelumnya.

a) Pemakaian Kata Tidak Tepat
Ada beberapa kata yang digunakan secara tidak tepat. Kata dari atau daripada sering digunakan secara tidak tepat, seperti yang terdapat dalam contoh berikut.

Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas Bidang Usaha.

Kalimat diatas itu seharusnya tanpa kata daripada karena kata daripada digunakan untuk membandingkan dua hal. Misalnya, tulisan itu lebih baik daripada tulisan saya. Di dalam kalimat berikut juga terdapat pemakaian kata secara tidak benar.

b) Pemakaian Kata Berpasangan
Ada sejumlah kata yang pemakaiannya berpasangan (disebut juga konjungsi korelatifa), seperti, baik … maupun …, bukan … melainkan …, tidak … tetapi …, antara … dan…. Di dalam contoh-contoh berikut dikemukakan pemakaian kata berpasangan secara tidak tepat.

Pemakaian kata berpasangan tidak tepat
Baik pedagang ataupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.

Perbaikan
Baik pedagang maupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.

c) Pemakaian Dua Kata
Didalam kenyataan terdapat pemakaian dua kata yang makna dan fungsi kurang lebih sama. Kata-kata yang sering dipakai secara serentak itu, bahkan pada posisi yang sama, antara lain ialah adalah merupakan, agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, atau daftar nama-nama, seperti pada contoh berikut.

Pemakaian dua kata yang tidak benar
Peningkatan mutu pemakaian bahasa Indonesia adalah merupakan kewajiban kita semua.
Perbaikan
Peningkatan mutu pemakaian bahasa Indonesia adalah tugas kita bersama.

4.3 Kesalahan Ejaan
Di dalam kenyataan pemakaian bahasa masih banyak kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca. Penyebabnya antara lain, ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan sebelumnya dengan ejaan yang berlaku sekarang. Di dalam ejaan sebelumnya tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat perhentian ssebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan inotasi naik. Hal seperti itu sekarang tidak seluruhnya dapat dipertahankan. Misalnya, antara subjek predikat terdapat jeda dalam membaca, tetapi tidak dipakai tanda koma jika bukan yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Contoh: Engkau sudah lulus?
Dia tidak ikut ujian?

Bandingkan dengan kalimat tanya yang berikut.
Contoh: Apakah engkau sudah lulus?
Siapa yang tidak ikut ujian?

Berikut dikemukakan beberapa kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan pemakaian tanda baca, khususnya tanda baca koma.

a) Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat
Ada kecenderungan penulis menggunakan tanda koma di antara subjek dan predikat kalimat jika nomina subjek mempunyai keterangan yang panjang. Pemakaian tanda koma itu tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh tanda koma dari predikat kecuali pasangan tanda koma yang mengapit keterangan tambahan atau aposisi.

Contoh:

  • Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharap mendaftarkan diri di sekretariat.
  • Tanah bekas hak guna usaha yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, akan ditetapkan kemudian pengaturannya.

b) Tanda Koma di antara Keterangan dan Subjek
Selain subjek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subjek kalimat. Padahal, meskipun panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar, seperti terlihat dalam contoh berikut.

  • Dalam suatu pernyataan singkat di kantornya, pengusaha itu membantah bekerjasama dengan penyelundup.
  • Untuk keperluan belanja sehari-hari, mereka masih bergantung pada orang tuanya.

3.    SIMPULAN
Dari uraian singkat di atas maka kita bisa menarik kesimpulan/penulis mencoba memberikan kesimpulan berdasarkan data-data dan fakta dilapangan menunjukkan masih banyak orang-orang tidak memahami pemakain bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Jadi dilhat dari fungsinya bahasa merupakan jantung dari kehidupan ini karena tanpa bahasa kita tidak akan bisa berinteraksi sesama yang lain.

Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia harus bisa menjaga keaslian berbahasa Indonesia yang baik dan benar, karena dipandangnya suatu bangsa itu tidak lepas dari bagaimana kita menggunakan bahasa yang dapat dipahami atau mudah dimengerti oleh bangsa lain.

DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.

Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.

Keraf, Gorys,  1991. Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Atas. Flores: Nusa Indah

Sabariyanto, Dirgo.1999. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Sugono, Dendy. 1989. Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta: Priastu

*** Penulis, alumnus PBSI S-2 tahun 2013

Posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa | Leave a comment

Pengalaman Mengikuti Kongres Bahasa Indonesia X -2013

 oleh : Yayat Sudaryat | mahasiswa PBSI S-2 UNSUR

Sebuah pengalaman menarik bagi saya saat berkesempatan mengikuti Kongres Bahasa Indonesia ke-10  pada tanggal 28-31 Oktober 2013 lalu. Kongres yang berlangsung selama empat hari itu  meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi saya sebagai peserta.

Bagaimana  tidak? Saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang berasal dari seluruh perwakilan provinsi di Indonesia, dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga Provinsi Papua. Mereka  berkumpul bersama bak kembali menguatkan tekad yang pernah diikrarkan 85 tahun silam.  Yakni ketika para pemuda pada waktu itu menyampaikan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.  Bersyukur sekali, saya menjadi satu peserta yang turut menghadiri KBI ini.

KBI ke-10 ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendibud RI.  Yang menjadi spesial Kongres ini diselenggarakan lima tahun sekali. Kali ini bertempat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jalan Sudirman Jakarta. Kongres pertama di selenggarakan di kota Solo pada tahun 1938. kemudian di Medan tahun 1954, dan seterusnya hingga penyelenggaraan kongres ke-10 ini diselenggarakan di Jakarta.

Yayat Sudaryat (kiri) ditemani Tri dan Nyi Heni (kawan sekelas di S-2 UNSUR saat di Jakarta)

Mendaftar

Saya sangat tertarik saat pertama kali  membaca pengumuman di internet dari laman Badan Pengemangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI sekitarbulan Mei 2013.  Agar terdaftar sebagai peserta,  saya mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran yang tersedia untuk menjadi peserta kongres beserta peryaratan yang tertulis pada pengumuman itu secara online.

Setelah lebih kurang tiga bulan dari pendaftaran, tepatnya pada minggu pertama bulan September, saya mendapat jawaban dari panitia bahwa saya diterima sebagai peserta. Dalam KBI ini, saya  masuk dalam kelompok 8. Kemudian, pada pemberitahuan tersebut saya diminta untuk segera mengonfirmasikan keikutsertaan paling lambat tanggal 20 September 2013.

Saya pun dapat bertemu dengan sejumlah stake-holder  pendidikandi tingkat nasional bahkan mancanegara.  Seperti saja dengan Prof. Dr. Mohammad Nuh, yang membuka KBI X.  Sebelumnya diawali dengan laporan  Kepala Badan Bahasa, Prof. Mahsun,M.S. selaku Panitia Penyelanggara yang menyatakan bahwa  kongres ini merupakan pengukuhan kembali hakikat Kongres Bahasa Indonesisa I di Solo yaitu bahasa Indonesia tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi sebagai jati diri bangsa.

Tema kongres yaitu Penguatan Bahasa Indonesia di dunia internasional. Tema dijabarkan menjadi delapan subtema, antaralain, (1) Bahasa Indonesia sebagai Penghela Ilmu Pengetahuan dan Wahana; (2) Iptek Bahasa Indonesia sebagai Jati Diri dan Media Pendidikan Karakter Bangsa dalam Memperkukuh NKRI; (3) Diplomasi Kebahasaan sebagai Upaya Jati Diri dan Pemartabatan Bangsa: (4) Industri Kreatif Berbasis Bahasa dan Sastra dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa, (5) Bahasa Daerah dan Bahasa Asing sebagai Pendukung Bahasa Indonesia,  (6) Membawa Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia, (7) Optimalisasi Peran Media Massa dalam Pemanfaatan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta (8) Perkembangan Bahasa dan Studi Indonesia di Luar Negeri.

Acara kongres dikemas berupa sidang pleno panel dan sidang kelompok panel (sesuai dengan subtema).  Acara kongres ini diikuti oleh 1.168 orang, terdiri atas pakar, praktisi, pemerhati, dosen, guru, mahasiswa serta pencinta bahasa dan sastra. Selain itu, peserta juga ada yang berasal dari luar negeri, antara lain: Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam, Perwakilan dari Singapura, TimurLeste, Jepang, Russia, Jerman, Belgia, Australia dan Pakistan.

Mendikbud dalam sambutannya mengatakan bahwa Bahasa Indonesia diharapkan selain untuk memperkuat jati diri bangsa juga mampu berkiprah di dunia internasional. Menutut Beliau, penutur bahasa Indonesia saat ini merupakan keempat terbesar di dunia dan dipelajari di 45 negara. Saat ini telah dilakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia untuk mendirikan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu Cina, Australia,  dan Jerman.

Hari pertama, acara diisi dengan acara pembukaan, kemudian setelah makan siang, dimulaidenganplenotunggal. Hari kedua sampai dengan terakhir dimulai pleno tunggal (pagi) dan dilanjutkan (siang) dengan sidang kelompok panel di ruangan-ruangan (delapan ruangan) yang telah ditentukan sesuai dengan subtema. Para pembicara antara lain dari : -Kemendikbud, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Luar Negeri, Kemenpora, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, Perwakilan luar negeri, Gubernur DKI, Media Massa, Para Dosen dari berbagai PT- dan dari sekian pembicara, salah satunya adalah dosen saya dari Universitas SuryakancanaCianjur yaitu Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd.  (Baca Berita: Klik link ini Dr. Hj. Iis Ristiani: Pemakalah KBI X dari UNSUR) Untukitu, perkenankan saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Ibu yang telah berperan serta dalam kegiatan ini.

Tiga mahasiswa PBSI S-2 lainnya yang menyusul ikut KBI X ke Jakarta

Rekomendasi

Dari perjalanan kongres, panitia berhasil merumuskan 32 rekomendasi.

Berikut ke-32 rekomendasi hasil Kongres Bahasa Indonesia X yang dilaksanakan dari tanggal 28 s.d. 31 Oktober di Jakarta. (1). Pemerintah perlu memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia melalui penerjemahan dan penebitan, baik nasional maupun internasional, untuk mengejawantahkan konsep-konsep berbahasa Indonesia guna menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi ke seluruh lapisan masyarakat. (2). Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu berperan lebih aktif melakukan penelitian, diskusi, penataran, penyegaran, simulasi, dan pendampingan dalam implementasi Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. (3) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) perlu bekerja sama dalam upaya meningkatkan mutu pemakaian bahasa dalam buku materi pelajaran. (4).Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi hasil-hasil pembakuan bahasa Indonesia untuk kepentingan pembelajaran bahasa Indonesia dalam rangka memperkukuh jati diri dan membangkitkan semangat kebangsaan.

(5). Pembelajaran bahasa Indonesia perlu dioptimalkan sebagai media pendidikan karakter untuk menaikkan martabat dan harkat bangsa. (6) .Pemerintah perlu memfasilitasi studi kewilayahan yang berhubungan dengan sejarah, persebaran, dan pengelompokkan bahasa dan sastra untuk memperkukuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (7) .Pemerintah perlu menerapkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) untuk menyeleksi dan mempromosikan pegawai, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, guna memperkuat jati diri dan kedaulatan NKRI, serta memberlakukan UKBI sebagai “paspor bahasa” bagi tenaga kerja asing di Indonesia. 8.Pemerintah perlu menyiapkan formasi dan menempatkan tenaga fungsional penyunting dan penerjemah bahasa di lembaga pemerintahan dan swasta. Rekomendasi (9) .Untuk mempromosikan jati diri dan kedaulatan NKRI dalam rangka misi perdamaian dunia, pemerintah perlu memperkuat fungsi Pusat Layanan Bahasa (National Language Center) yang berada di bawah tanggung jawab Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (10). Kualitas dan kuantitas kerja sama dengan berbagai pihak luar negeri untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan, baik di tingkat komunitas ASEAN maupun dunia internasional, dengan dukungan sumber daya yang maksimal.

Mendikbud membuka KBI X

(11). Pemerintah perlu melakukan “diplomasi total” untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. (12). Presiden/Wakil Presiden dan pejabat negara perlu melaksanakan secara konsekuen Undang-Undang (UU) RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pidato Resmi Presiden dan/atau Wapres serta Pejabat Negara lainnya. (13) .Perlu ada sanksi tegas bagi pihak yang melanggar Pasal 36 dan Pasal 38 UU Nomor 24 Tahun 2009 sehubungan dengan kewajiban menggunakan bahasa Indonesia untuk nama dan media informasi yang merupakan pelayanan umum. (14).Pemerintah perlu menggiatkan sosialisasi kebijakan penggunaan bahasa dan pemanfaatan sastra untuk mendukung berbagai bentuk industri kreatif. (15). Pemerintah perlu lebih meningkatkan kerja sama dengan komunitas-komunitas sastra dalam membuat model pengembangan industri kreatif berbasis tradisi lisan, program penulisan kreatif, dan penerbitan buku sastra yang dapat diapresiasi siswa dan peminat sastra lainnya.

Bahasa Indonesia diajarkan di beberapa negara bagian di Republik Federal Jerman

(16). Pemerintah perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi informatika dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. (17). Perlindungan bahasa-bahasa daerah dari ancaman kepunahan perlu dipayungi dengan produk hukum di tingkat pemerintah daerah secara menyeluruh. (18). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu meningkatkan perencanaan dan penetapan korpus bahasa daerah untuk kepentingan pemerkayaan dan peningkatan daya ungkap bahasa Indonesia sebagai bahasa penjaga kemajemukan Indonesia dan pilar penting NKRI. 19.Pemerintah perlu memperkuat peran bahasa daerah pada jalur pendidikan formal melalui penyediaan kurikulum yang berorientasi pada kondisi dan kebutuhan faktual daerah dan pada jalur pendidikan nonformal atau informal melalui pembelajaran bahasa berbasis komunitas 20.Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu meningkatkan pengawasan penggunaan bahasa untuk menciptakan tertib berbahasa secara proporsional.

(21). Pemerintah perlu mengimplementasikan kebijakan yang mendukung eksistensi karya sastra, termasuk produksi dan reproduksinya, yang menyentuh identitas budaya dan kelokalannya untuk mengukuhkan jati diri bangsa Indonesia. (22). Penggalian karya sastra harus terus digalakkan dengan dukungan dana dan kemauan politik pemerintah agar karya sastra bisa dinikmati sesuai dengan harapan masyarakat pendukungnya dan masyarakat dunia pada umumnya. (23). Pemerintah perlu memberikan apresiasi dalam bentuk penghargaan kepada sastrawan untuk meningkatkan dan menjamin keberlangsungan daya kreativitas sastrawan sehingga sastra dan sastrawan Indonesia dapat sejajar dengan sastra dan sastrawan dunia. 24.Lembaga-lembaga pemerintah terkait perlu bekerja sama mengadakan lomba-lomba atau festival kesastraan, khususnya sastra tradisional, untuk memperkenalkan sastra Indonesia di luar negeri yang dilakukan secara rutin dan terjadwal, selain mendukung festival-festival kesastraan tingkat internasional yang sudah ada. (25). Peran media massa sebagai sarana pemartabatan bahasa dan sastra Indonesia di kancah internasional perlu dioptimalkan.

(26). Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu mengingatkan dan memberikan teguran agar lembaga penyiaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (27). KPI menerima usulan dari masyarakat untuk menyampaikan teguran kepada lembaga penyiaran yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. (28). Diperlukan kerja sama yang sinergis dari semua pihak, seperti pejabat negara, aparat pemerintahan dari pusat sampai daerah, media massa, Dewan Pers, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, demi terwujudnya bahasa media massa yang logis dan santun. (29). Literasi pada anak, khususnya sastra anak, perlu ditingkatkan agar nilai-nilai karakter yang terdapat dalam sastra anak dipahami oleh anak. (30). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa harus memperkuat unit yang bertanggung jawab terhadap sertifikasi pengajar dan penyelenggara BIPA.

(31). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berkoordinasi dengan para pakar pengajaran BIPA dan praktisi pengajar BIPA mengembangkan kurikulum, bahan ajar, dan silabus yang standar, termasuk bagi Komunitas ASEAN. (32). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memfasilitasi pertemuan rutin dengan SEAMEO Qitep Language, SEAMOLEC, BPKLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan perguruan tinggi untuk menyinergikan penyelenggaraan pengajaran BIPA. Dan pemerintah Indonesia harus mendukung secara moral dan material pendirian pusat studi atau kajian bahasa Indonesia di luar negeri.

Kongres ditutup pada hari Kamis sore oleh Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Mahsun, M.S. Ada tiga teman seangkatan saya dari S-2 UNSUR yang turut hadir dan daftar sebagai peserta secara mendadak.  Mereka adalah Tri Puji Astuti, Sri Purwaningsih, dan Nyi Heni.  Saya pun merasa “reugreug” dan nyaman mengikuti Kongres hingga selesai.

Demikian uraian singkat yang dapat saya sampaikan mengenai keikutsertaan saya sebagai peserta kongres Bahasa Indonesia ke-10 di Jakarta.   ****

(****** Yayat Sudaryat, mahasiswa PBSI S-2, bekerja sebagai Guru di SMAN 5 Bandung)

Baca tulisan terkait;

Kongres Basa Indonesia  X

Dr. Hj. Iis Ristiani, M.Pd: Pemakalah KBI X dari UNSUR

Kumpulan Makalah KBI X

Posted in Bahasa, Budaya dan Bahasa | Tagged , , | 1 Comment

Tiga Jam di Kediaman Profesor Yus Rusyana

Pak Yus dan Ibu Ami di tengah mahasiswa PBSI S-2 UNSUR semester 2 di kediamannya, Kompleks Suaka Indah, Cimahi

Pada hari Rabu, 5 Juni 2013 seluruh peserta studi lapangan sosiolinguistik yang ke Cikahuripan Cisolok Sukabumi (baca : berita Studi Lapangan Cikahuripan) diundang oleh Ibu Hj. Ami Raksanagara ke kediamannya di Kompleks Suaka Indah, Leuwigajah, Cimahi. Ibu Ami tidak lain adalah isteri dari Bapak Profesor H. Yus Rusyana, sebagai dosen pengampu mata kuliah sosiolinguistik baik di PBSI S-2 Universitas Suryakancana Cianjur maupun Sekolah Pascasarjana UPI Bandung. Di PBSI S-2 UNSUR, Pak Yus memberi mata kuliah Sosiolinguistik, Sastra dan Budaya Nusantara, dan Kajian Mandiri serta tercatat sebagai Pembina Akademik.

Mengundang mahasiswa untuk botram di rumahnya, bagi keluarga Pak Yus bukanlah kali pertama. Beberapa angkatan sebelumnya, pernah menjadi koki atau tukang sate “dadakan” di tempat baru dihuni sekitar  tiga tahun terakhir ini. Tujuannya selain silaturahmi dan kebersamaan,  untuk penyegaran  (refreshing) setelah melaksanakan penelitian lapangan yang tentu menguras tenaga, pikiran, maupun biaya.

Ujang Suja’i dan Yayat, juru bakar sate. Sanksinya, yang gosong harus dimakan ybs

pembelajaran kehidupan

Seusai hidangan dan sate siap, tibalah acara resmi.  Acara didahului oleh sekapur sirih berupa wejangan dari Pak Yus.  Pak Yus membahas tentang nilai-nilai yang terdapat dalam  perjanjian Aqobah pada zaman Nabi SAW  berisi ajakan untuk  tidak  mempersekutukan Allah, tidak  mencuri, berzina, tidak membunuh anak-anak atau fitnah memfitnah yang tetap memiliki aktualitas dan relevansi kondisi sekarang.   Prinsip di atas bila diterapkan konsekuen pada suatu bangsa,  maka kesejahteraan yang dicita-citakan lekas tercipta.

Pak Yus juga turut membuka memori  kenangan saat perkenalan dengan  Ibu Ami yaitu manakala sama-sama  di  SGA dulu.  Begitu pula masa-masa harus berpisah,  Pak Yus harus  meninggalkan  isteri dan  ketiga putranya seusia balita saat itu dan sedang lucu-lucunya demi  studi di Negeri Belanda.  Agar terkonsentrasi mengurusi para putranya, Ibu Ami pun  rela melepas status PNS yang disandangnya saat itu.

Prof. Yus memberi wejangan bagi para mahasiswa

Pak Yus mengutarakan prinsip dianutnya  dalam memaknai kehidupan yakni Selamat, Bermanfaat, Nikmat.  Manusia  harus senantiasa  mawas diri  agar bisa selamat. Kedua, bisa memberi manfaat sekitarnya, dan terakhir  dapat  menikmati.  Dengan demikian, kita dapat menikmati  kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Tentang penelitian, Pak Yus selalu memotivasi agar mahasiswa menjadi peneliti yang berkualitas, bukan peneliti kelas “nasi pincuk”. Yaitu menggunakan referensi bersumber pada buku aslinya, menggunakan metode dan instrumen yang teruji,  kalau perlu bisa melahirkan teori baru.  Manakala ada mahasiwa bertanya apakah  boleh  mengutip pendapat ahli dari buku yang telah secara berantai dikutip  oleh satu penulis juga penulis lainnya sehingga mahasiswa tidak perlu susah-susah mencari buku aslinya,  Pak Yus menjawab ringan, “boleh saja, jika ingin mengerdilkan diri Anda”.

Pak Yus dan Ibu Ami bersama mahasiswa semester 1 dan penulis

Selanjutnya pembacaan do’a dipimpin Dadan W. Namun saat pembawa do’a membuka acara ini,  Ibu Ami menyela sebentar seraya menginformasikan bahwa pada hari ini adalah ulang tahun suaminya.  Spontan hadirin pun  dibuat kaget dan tidak menyangka. Usai acara do’a, para mahasiswa memberi selamat kepada Pak Yus. Disela menerima ucapan selamat, Pak Yus pun berkelakar, “Tadi sudah baca Alfatihah, sekarang giliran AlMaidah” ungkapnya sambil mempersilakan para mahasiswa mengambil hidangan yang telah disediakan sambil menambahkan, “Ayo … di sini boleh menggunakan maksim kesopanan bebas …”

Berdasarkan profil Pak Yus (klik di sini), Pak Yus lahir 24 Maret 1938.   Perbedaan ini  terjadi menurut Pak Yus, karena rujukan biasa dipakai orang tua zaman dulu adalah penanggalan hijriah.  Tanggal tsb setelah ditanyakan kepada orang ahli penanggalan tanggal hijriah belakangan ini  ternyata adalah 5 Juni.  Adapun tanggal 24 Maret  adalah tanggal terdokumentasi  secara resmi yang tidak mungkin  diubah lagi.  Kejadian perbedaan tanggal secara de fakto dan de jure adalah hal biasa terutama di generasi terdahulu,  di mana pencatatan  kelahiran saat itu belum menjadi hal penting.

Mahasiswa PBSI S-2 UNSUR angkatan sebelumnya di kediaman Pak Yus

Terkait silaturahmi ini, banyak inspirasi bisa ditimba oleh sejumlah mahasiswa.  “Meuni reueus nya ninggalina ge, ku runtut rautna sareng kataji pisan ku sesebatan eneng sareng akang. Silaturahim kamari seueur hikmahna, diantawisna belajar arti kasetiaan,” ungkap Maria Ulfah Fatimah mahasiswa UPI yang ikut hadir kepada  penulis.   Begitu pula Desi Asri Maryani, staf administrasi PBSI S-2 UNSUR mengungkapkan rasa kagumnya  oleh keharmonian keluarga Pak Yus dan Ibu Ami yang tetap hangat dan berenergi dalam mengarungi biduk rumah tangga yang telah dijalin sejak 28 April 1965. 

Pukul 14.00 WIB atau sekira 3 jam dari jam 11.00 WIB, mahasiswa asal UNSUR pamit.  Mereka menggunakan sisa waktu carteran mobil dengan mengunjungi Kawah Ratu Tangkubanparahu, Lembang dan satu mobil lainnya meluncur ke pusat industri sepatu Bandung, yakni kawasan Cibaduyut.  (danwdhien)

Posted in Renungan | Tagged | 2 Comments

Ajip Rosidi: Pemerintah Berkepala Batu

REKTOR Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat menerima penghargaan Sastra Rancage 2013 dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi yang didampingi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Erry Riyana Hardjapamekas (kiri) di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Selasa (4/6).

DIPATIUKUR (GM) – Yayasan Kebudayaan Rancage kembali menganugerahkan hadiah Sastra Rancage 2013 kepada tujuh sastrawan yang menulis buku dengan bahasa daerah. Penghargaan kali ini cukup istimewa karena merupakan penghargaan ke-25 yang diberikan Rancage secara terus-menerus tanpa terputus.

Tujuh penghargaan ini terbagi dalam karya dan bahasa Sunda, karya dan bahasa Jawa, karya dan bahasa Bali, serta penghargaan Samsudi, yakni penghargaan karya sastra Sunda anak-anak. Untuk karya sastra dalam bahasa Sunda diberikan kepada Deni A. Fajar (Lagu Padungdung, kumpulan sajak) dan Prof. Dr. Ganjar Kurnia (jasa). Penghargaan karya sastra Jawa kepada Khrisna Mihardja (Prastisara, kumpulan cerpen) dan J.F.X. Hoery (jasa). Penghargaan sastra Bali diberikan kepada I Made Sugianto (Sentana, roman pendek) dan I Nyiman Suprapta (jasa).

Sedangkan untuk penghargaan Samsudi diberikan kepada Elin Sjamsuri dengan karyanya, Dongeng Aki Guru. Penghargaan diberikan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur, Selasa (4/6).

Menurut Ketua Dewan Pembina Rancage, Ajip Rosidi, untuk sastra Sunda, panitia menyeleksi 38 buku yang terbit pada tahun 2012. Sedangkan untuk sastra Jawa diseleksi 27 judul buku dan delapan buku untuk sastra Bali. Sedangkan untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda disaring dari 10 judul buku yang terbit pada 2012. Namun empat di antaranya tidak dinilai karena merupakan cetak ulang.

Selain mendapat piagam, para penerima penghargaan juga menerima uang sebesar Rp 5 juta.

Kecewa

Pada kesempatan itu, Ajip kembali melontarkan kekecewaannya terhadap pemerintah yang tidak memasukkan bahasa ibu dalam Kurikulum 2013. Menurut Ajip, hal itu telah merampas hak anak didik untuk mewarisi bahasa dan kebudayaan leluhurnya.

“Dengan sikap kepala batu menolak dimasukkannya bahasa ibu ke Kurikulum 2013. Alasannya, itu wewenang pemerintah daerah. Pemerintah bukan hanya tidak mau aktif memelihara kebudayaan daerah, tetapi juga telah merampas hak anak. Anak didik kian dijauhkan dari bahasa dan kebudayaan warisan nenek moyangnya, yang dalam UUD diakui sebagai kekayaan budaya nasional,” tegas Ajip.

Perlu diketahui, penghargaan Rancage telah diberikan sejak 1989. Pemberian anugerah dilakukan setiap tahun bagi karya sastra bahasa daerah tanpa terputus hingga 2013. Sedangkan penghargaan Samsudi diberikan sejak 1993. Namun pada 1997-2001, 2005, 2007, dan 2010 sempat tidak diberikan karena tidak ada buku yang dianggap pantas untuk menerimanya. (B.98)**

Sumber berita : HU Galamedia

Posted in Berita Pendidikan | Tagged | Leave a comment

Merasakan Semburan Geyser Cisolok, Sukabumi

Berlatar belakang Geyser Cisolok Sukabumi

Dari catatan wikipedia, Yellowstone National Park adalah taman nasional di Amerika Serikat, tepatnya  berada di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho. Luasnya meliputi 3.468 mil² (8.983 km²). Yellowstone National Park merupakan taman nasional tertua di dunia, didirikan pada tanggal 1 Maret 1872. Selain dihuni margasatwa,  Yellowstone National Park dikenal dengan semburan air panasnya yang dikenal dengan geyser.  Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, ada di sini.  

Anda tidak perlu berkecil hati tidak bisa menyaksikan geyser tersebut langsung  di negeri Paman Sam.  Sebagai negara   dilalui banyak gunung berapi, Indonesia  kaya  sumber air panas.  Akan tetapi, sumber air panas yang memancar tak pernah surut tidaklah banyak.  Cisolok salah satunya daerah yang memiliki fenomena alam menakjubkan ini. 

Anda bakal merasakan siraman geyser di Cipanas, Cisolok (20 km dari kota Palabuhanratu, Sukabumi). Lokasinya sekitar 5 km dari jalan raya Palabuanratu-Bayah dengan mengambil arah kanan dari pantai Karanghawu Cisolok atau arah kanan di Pasar Cisolok (dari arah Palabuhanratu). Tetapi harus hati-hati, posisi Anda jangan terlalu dekat, kulit Anda bisa  melepuh.  Pengunjung suka mencobanya dengan telur ayam ras dan tak lama telur pun matang. 

Sumber air panas menyembur ini berada di anak sungai Beser, Cisolok.  Di anak sungai ini setidaknya ada  7 titik fenomena alam semburan air mancur  ini.  Penulis tiba di lokasi pukul 05.45 WIB, sepulang mendampingi kegiatan mahasiswa di daerah Cikahuripan, Cisolok (klik link di sini). 

Kondisi pun masih temaram, Kabut masih membungkus areal dipenuhi pepohonan lebat tsb.   Mobil kami pertama kali tiba, dan petugas jaga  pun  belum ada.  Kami langsung bergegas ke areal air mancur sekitar 100 meter dari lokasi parkir. 

Di jembatan gantung sungai Beser, Cisolok

Areal air mancur ini dicapai dengan melewati jembatan gantung sungai Beser, di mana batu-batu besar teronggok sebagai ciri khas sungai di pegunungan.  Air mancur bercampur uap panas menyembur laksana kabut putih semakin menggoda untuk didekati.  Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang hadir sehingga kami amat leluasa mendekati titik semburan.

Proses air mancur alami ini sebenarnya berasal dari hujan meresap ke dalam tanah dan bebatuan.  Di dalam kantong air, air ini dipanaskan oleh magma.  Dalam perjalanannya,  aliran air melarutkan berbagai mineral dan dihangatkan oleh  magma. Pada saat menemui celah, maka air pun menyembur. 

Sumber mineral ini dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.  Anda bisa melakukan terapi air hangat di sini.  Di lokasi ini terdapat  dua buah kolam renang air panas yang sudah distabilkan suhunya hingga di bawah 40 derajat Celcius. Ada juga kamar terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti rematik, asam urat,  hingga stroke.  Tubuh pengunjung dari kepala hingga kaki dimanjakan petugas dengan semprotan  air panas.

Geyser dan Gletser

Geyser dari catatan blog http://ibenkztrilogy.blogspot.com adalah sejenis mata air panas yang menyembur secara periodik (mengeluarkan air panas dan uap air ke udara) atau dapat disebut juga aliran air hangat yang menyembur ke permukaan tanah. Nama geyser berasal dari kata Geyser di Haukadalur, Islandia. Kata itu kemudian menjadi kata kerja bahasa Islandia gjósa, “menyembur”.

Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, AS

Pembentukan geyser bergantung kepada keadaan hidrogeologi tertentu. Oleh karena itu hanya terdapat di beberapa tempat di Bumi dan karena itu geyser adalah fenomena yang jarang ditemui. Dari 1000 ada di seluruh dunia, sekitar setengahnya di Yellowstone National Park, Amerika Serikat.  Aktivitas semburan geyser dapat berhenti karena pengendapan mineral di dalam geyser, gempa bumi, dan campur tangan manusia.

Adapun gletser atau glasier atau glesyer merupakan sebuah bongkahan es yang besar yang terbentuk di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu yang lama. Bongkahan es ini dapat berupa wilayah daratan yang sangat luas. Saat ini, es abadi menutupi sekitar 10% daratan yang ada di bumi. 

Pegunungan Jayawijaya yang terdapat di Provinsi Papua  merupakan salah satu contoh pegunungan tinggi yang memiliki banyak gletser dan uniknya berada di wilayah khatulistiwa.  Gletser ini dapat meleleh oleh panas matahari dan mengalir mengisi debit aliran sungai di bawahnya.  Oleh karena itu, gletser merupakan sumber air bagi sungai, di samping air hujan.  Keduanya mengikuti aliran sungai  dibawa ke laut. ****  (dewa)

 

Posted in Pesona Cianjur | Tagged , , , | 2 Comments